Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Momen Bersejarah, Ketika IKN Pertama Kalinya Ikut Jadi Bagian Pemantauan Hilal Ramadan

Wisnu Cipto - Rabu, 18 Februari 2026

MerahPutih.com - Penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya, pemantauan hilal dilakukan langsung dari Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Prosesi ini dihadiri Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono beserta jajaran, menandai peran ibu kota baru sebagai pusat kegiatan keagamaan nasional.

Baca juga:

Pemantauan Hilal Awal Ramadan 1447 H dilakukan di 96 Lokasi di Seluruh Indonesia, ini Tempatnya

Ketinggian Hilal di IKN

Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Balikpapan, ketinggian hilal di wilayah KIPP IKN tercatat minus 1,481 derajat.

Angka itu belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang mensyaratkan ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

“Indonesia itu kan luas dari Sabang sampai Merauke, jadi kita mengikuti pusat,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, Rabu (18/2).

Baca juga:

Warga Dilarang Lakukan Sweeping Sahur On The Road dan Rumah Makan Saat Ramadan

Sidang Isbat Tetapkan 1 Ramadan

Kementerian Agama RI menggelar sidang isbat setelah menerima laporan dari 96 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia. Hasilnya, pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Abdul Khaliq menekankan pentingnya menjaga persatuan meski terdapat perbedaan metode hisab dan rukyat.

“Harapannya hal ini tidak menjadi polemik karena yang terpenting kita tetap menjaga keutuhan mengingat momentum Ramadhan adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah,” imuhnya, dikutip Antara.

Baca juga:

Basilika IKN Pertama di Indonesia Segera Rampung, Kemenag Pastikan Bisa Digunakan Mei 2025

Sementara itu, perwakilan BMKG Balikpapan, Muhammad Fathan, menjelaskan akurasi pengamatan bergantung pada analisis ketinggian bulan, umur bulan, serta peta elongasi.

“Kalaupun langit cerah, keberadaan objek astronomis lain hingga faktor cuaca seperti awan tebal dapat mengganggu penglihatan,” tandasnya. (*)

Baca Artikel Asli