Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Meracik Kopi, Melawan Stigma, Kisah Kartini di Roemah Koffie

Dwi Astarini - Selasa, 21 April 2026

MERAHPUTIH.COM - PERAN perempuan dalam dunia kerja terus berkembang, termasuk di industri kopi yang selama ini kerap didominasi laki-laki. Di balik secangkir kopi yang dinikmati setiap hari, ada kerja keras para barista perempuan yang tidak hanya dituntut memiliki keterampilan teknis, tetapi juga menghadapi berbagai tantangan sosial. Momentum Hari Kartini menjadi saat yang tepat untuk menyoroti perjuangan mereka, bagaimana semangat emansipasi terus hidup dalam profesi yang dinamis ini.

Industri kopi di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Seiring dengan itu, kehadiran barista perempuan juga semakin terlihat. Namun, kehadiran ini tidak selalu berjalan mulus. Banyak dari mereka masih harus menghadapi stereotipe, mulai dari anggapan bahwa perempuan hanya menjadi 'pelengkap' di balik bar, hingga keraguan terhadap kemampuan teknis mereka dalam meracik kopi.

Di Roemah Koffie, peran perempuan justru menjadi bagian penting dari ekosistem kopi. Tidak hanya sebagai barista, mereka juga jadi pengajar di Roemah Koffie Academy. Dalam rangka menyambut Hari Kartini, mereka menghadirkan kampanye bertajuk 'Women of Purposeful Light', sebuah bentuk penghormatan terhadap filosofi 'Habis Gelap Terbitlah Terang' yang dipopulerkan Raden Ajeng Kartini. Kampanye ini menjadi simbol bagaimana perempuan, khususnya di industri kopi, untuk terus melangkah maju dan membawa perubahan nyata.

Meski demikian, tantangan di lapangan tetap nyata. Tale, salah satu barista perempuan di Roemah Koffie, mengungkapkan interaksi dengan pelanggan terkadang menjadi ujian tersendiri. “Ada aja kelakuan pelanggan yang unik-unik, tapi kalau saya orangnya lawan balik atau dijutekin balik kalau misalnya mereka genit-genit,” ujarnya.

Pengalaman itu menunjukkan barista perempuan tidak hanya bekerja secara profesional, tetapi juga harus memiliki keberanian dalam menjaga batasan diri.

Baca juga:

Sambut Hari Kartini, Roemah Koffie Angkat Peran Barista Perempuan Lewat 'Women of Purposeful Light'



Hal serupa juga dirasakan Nadia, yang kerap menghadapi perlakuan berbeda dari pelanggan. “Pernah pastinya, apalagi ketemu customer genit. Tapi aku coba sikapinya seprofesinal mungkin. Kadang juga beberapa customer tuh maunya dibuatin sama barista cowok, ya karena mungkin aku perempuan kali ya dikira skill-nya enggak mumpuni. Padahal, menurutku, aku sendiri sih menyanggupi saja kalau misal ada request apa gitu,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, beruntungnya, kegenitan konsumen hanya verbal. “Kalau menghadapi customer yang genit, biasanya selama itu masih verbal dan enggak mengangguku pasti kuhadapi aja. Alhamdulillah sih sampai sekarang enggak ada yang sampai main fisik ya,” imbuhnya.

Lebih jauh, Nadia menyoroti stigma yang masih melekat pada barista perempuan. “Anggapan barista perempuan jadi hiasan untuk ramein toko tuh ada selalu. Tapi aku sendiri coba membuktikan kalau kami juga bisa seperti barista-barista lainnya, enggak hanya mengandalkan jenis kelamin kami ini,” katanya.

Pernyataan itu mencerminkan realitas yang dihadapi banyak perempuan di berbagai sektor kerja, bahwa mereka harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kompetensi.

Dari sisi pengalaman yang lebih panjang, Rere sebagai pengajar di Roemah Koffie Academy, juga memiliki cerita tersendiri. “Saya kurang lebih sudah 15 tahun di perkopian ini, dan cukup lama di salah satu merek besar sebelum dan akhirnya sampai ke Roemah Koffie Academy ini,” ungkapnya.

Selama perjalanan tersebut, ia tidak luput dari berbagai tantangan. “Selama perjalanan tentunya banyak lika-liku yang dialami. Mulai dari diremehkan rekan sesama sampai ketemu pelanggan yang beraneka ragam,” lanjutnya.

Meski begitu, Rere memilih untuk tetap fokus pada pengembangan diri. “Namun, kalau saya lebih fokusnya terhadap diri sendiri dan kemampuan saya dalam menghadapi hal-hal tersebut,” ujarnya.

Ia menceritakan pengalaman tidak menyenangkan seperti digoda pelanggan pernah terjadi. “Digoda pelanggan sampai dimintain nomor hp pernah, tapi saya coba hadapinya dengan santai. Selama menurut saya masih bisa diatasi dengan santai, yaudah pasti dihadapi,” tambahnya. Beruntung, ia berada di lingkungan kerja yang suportif. Untungnya selama saya bekerja sebagai barista, saya bertemu dengan lingkungan dan rekan kerja yang sehat. Jadi mereka rata-rata support,” katanya.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa tantangan barista perempuan bukan hanya soal teknis pekerjaan, melainkan juga berkaitan dengan dinamika sosial dan budaya. Mereka dituntut untuk profesional, tangguh, sekaligus mampu menjaga diri dalam berbagai situasi. Namun, di balik itu semua, ada semangat yang terus menyala, semangat untuk berkembang, membuktikan diri, dan membuka jalan bagi perempuan lain.

Melalui kampanye 'Women of Purposeful Light', Roemah Koffie tidak hanya merayakan Hari Kartini secara simbolis, tetapi juga menghadirkan ruang apresiasi bagi perempuan yang berkontribusi nyata di industri kopi. Ini menjadi pengingat bahwa emansipasi bukan hanya tentang kesempatan, tetapi juga tentang keberanian untuk bertahan dan berkembang di tengah tantangan.

Pada akhirnya, barista perempuan adalah representasi dari semangat Kartini masa kini—berdiri di balik mesin kopi, meracik cita rasa, sekaligus memperjuangkan kesetaraan dalam dunia kerja. Mereka bukan sekadar peracik minuman, melainkan juga agen perubahan yang perlahan menggeser stigma dan membuka perspektif baru tentang peran perempuan di industri kreatif.(Far)

Baca juga:

Sambut Hari Kartini, Roemah Koffie Beri Akses Belajar Kopi untuk Perempuan

Baca Artikel Asli