Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Menatap Jawa-Bali di Awal Abad ke-20 dari Mata Seniman Swedia Tyra Kleen lewat 'A Journey Through Java and Bali 1919–1921'

Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026

MERAHPUTIH.COM - LEBIH daripada seabad setelah perjalanannya ke Jawa dan Bali, seniman Swedia Tyra Kleen kembali dipertemukan ke Indonesia, lewat karya-karyanya. Lukisan, fotografi, dan catatan perjalanannya dari 1919–1921 dipajang dalam pameran Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921 di Autograph Tower, Jakarta Pusat, Selasa (8/9).

Pameran Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921 ini merupakan kegiatan yang diinisiasi Kedutaan Besar Swedia. Sebagai bentuk pertukaran hadiah hubungan diplomatik yang terjalin apik selama ini dengan Indonesia.

Dalam acara pembukaan, Duta Besar Swedia Daniel Blockert turut hadir. Menurut Daniel, karya Kleen menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap kebudayaan dan spiritualitas Indonesia. Cara pandang Kleen terhadap Jawa dan Bali, menurutnya, juga menjadi bagian dari penghormatan terhadap Indonesia.

"Saya sangat bangga bahwa kami berhasil membawa kembali sebagian kecil dari karya seni Tyra Kleen ke Indonesia. Karya-karyanya menunjukkan ketertarikannya yang mendalam terhadap budaya, seni, dan spiritualitas Indonesia, sekaligus memberikan sudut pandang yang luar biasa mengenai hubungan antara Swedia dan Indonesia," kata dia.

Daniel bercerita Tyra ialah perempuan pemberani dan punya visi. Seorang petualang yang mendokumentasikan perjalanannya dengan banyak medium.

"Pada 1919, ia berjalan sebagai seorang perempuan. Dia seorang artis, penulis, dan bekerja dalam bidang penulis. Tapi sebagai perempuan, untuk berpergian saat itu ke tempat-tempat yang jauh, itu benar-benar hal yang tidak biasa untuk dilakukan. Dan dia seorang perempuan yang sangat memiliki visi kuat," katanya.

Baca juga:

Kisah Tatar Sunda dalam Pameran Foto ’Sakakala’, Imaji Budaya untuk Edukasi dan Promosi Pariwisata


Menatap Jawa-Bali Melalui Mata Tyra Kleen


Dalam pameran Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921, ada banyak lukisan, buku, dan hasil jepretan Tyra dipajang. Salah satu yang paling ikonis yakni Mudras.

Mudras merupakan kumpulan jepretan perspektif Kleen melihat ritual para pendeta hindu. Hasil jepretan menjadi rujukan Kleen dalam membuat sketsa ilustrasi. Lekukan tangan, rentangan bahu sampai arah muka pendeta Hindu terasa hidup bahkan menghadirkan kesan ritualistik yang kuat.

Jika bergeser di dinding lainnya, terdapat pameran lukisan koleksi Het Serimpit. Dalam koleksi ini, Kleen mengungkapkan keanggunan lewat torehan kuasnya dengan detail dan presisi. Kleen menaruh perhatian besar pada lengkung tubuh penari. Dalam beberapa karyanya, pinggul, tangan, torso hingga posisi kaki menjadi bagian olah tubuh yang bergerak meninggalkan kesan seakan gerakan tarian masih akan terus berlanjut dalam bidang lukisan.

Dalam catatannya, Kleen mengerjakan Het Serimpit sebagai proyek awal saat tiba di Indonesia pertama kali pada 1919. Kleen sebagai pelukis ilustrasi dan Van Helsdingen Schoevers sebagai jurnalis berperan sebagai penulis teks penjelasan. Namun, rekannya yang membatu mengerjakan proyek studi antropologi tarian ritual istana Solo tersebut meninggal dunia. Proyek mereka terhenti di 1920.

Pada 1925, lewat Volkslectuur, proyek studi antropologi, Kleen dan Van Helsdingen Schoevers tersebut masih menarik di mata pemerintahan Belanda sehingga dilanjutkan. Proyek itu lalu diterbitkan dalam versi modifikasi bertajuk Het Serimpit Boek.


Dalam proses pembuatan karya Het Serimpit, ada cerita yang unik. Kleen dalam catatan pribadinya bercerita pernah dimarahi penari karena ia meminta mereka mempertahankan pose selama berjam-jam. Di balik lukisan yang tampak tenang, ada dinamika yang tak selalu mulus. Satu karya dalam koleksi ini yang dianggap sangat spiritual karena kelangkaannya yakni Kleen mengilustrasikan Bedhaya Ketawang.

Pada sisi lain dinding gedung pameran, dipajang pula koleksi pameran Temple Dances. Dalam karyanya yang satu ini, Kleen banyak mengekplorasi lebih air muka penari sehingga lebih ekspresif. Terlihat bagaimana Kleen menempatkan objeknya dengan gerakan tangan yang lebih terbuka. Koleksi Temple Dance, banyak menitikberatkan pada properti penari yang tidak banyak seperti di koleksi Het Serimpit. Kostum berwarna emas mendominasi dikenakan penari, dipadukan dengan bunga di bagian kepala dan ornamen kuningan. Sementara itu, panah, keris, dupa, kipas, hingga pajeng memberikan karakter berbeda pada setiap sosok penari.

Ada juga pemutran video dokumenter perjalanan Tyra Kleen yang diputar di layar TV. Dokumenter itu merupakan serial televisi Swedia berjudul Sejarah Seni, episode Mitologi, dengan fotografer Swedia Helena Blomqvist, mengungkap kehidupan personal dan kekaryaan Tyra Kleen dengan lanskapnya yang seperti mimpi dan surealis.

Pameran Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921 dibuka untuk umum dan gratis. Kegiatan kebudayaan ini akan berlangsung selama 8-30 September 2026.(Tka)

Baca juga:

Pameran Foto '1945' Resmi Dibuka di Monumen Pers Nasional, Tampilkan Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia



Sumber Foto: Merahputih.com/Tika Ayu


Baca Artikel Asli