MerahPutih.com - Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai, peluang Partai Demokrat untuk bergabung dengan koalisi pemerintah tergantung komunikasi antara Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.
"Karena betapapun Pak Jokowi itu adalah petugas partai dalam kacamata PDI-P. Jadi Pak Jokowi mesti komunikasi dengan Ibu Megawati untuk membuka pintu bagi parpol pada kontestasi itu berseberangan, termasuk dengan Gerindra, Demokrat," kata Ubedilah kepada wartawan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/10).
Baca Juga
Ia berujar, pengaruh Megawati terhadap Jokowi menjadi kuat karena Jokowi hanya kader partai.
Di lain pihak, hubungan Megawati dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto lebih cair ketimbang hubungannya dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Oleh karena itu, ia menilai peluang Demokrat masih ke koalisi pemerintah lebih kecil ketimbang Gerindra.
"Sepertinya pintu Megawati sudah bisa dibukakan untuk Prabowo, tetapi Megawati belum bisa membuka ke Demokrat atau SBY. Itu adalah tanda bahwa PDI-P tidak menyetujui kalau Demokrat jadi kabinet sekarang. Kemungkinannya kecil karena pertimbangan politis itu jadi dominan untuk bisa membuka pintu untuk Partai Demokrat," ujar dia.
Baca Juga
Ia lantas berharap seluruh menteri bidang ekonomi di kabinet periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) diisi kalangan profesional. ia ingin agar bidang ini tidak begitu saja diisi politisi.
Ubedilah khawatir jika diisi politisi, maka perekonomian Indonesia akan sulit maju. “Bidang ekonomi harus profesional di bidangnya, serta memiliki integritas,” kata Ubedilah
Ubedilah berharap tim ekonomi di kabinet mendatang diisi profesional dan wajah baru. Pekerjaan rumah besar tim ekonomi Jokowi adalah memanfaatkan peluang-peluang yang muncul dari perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.
Baca Juga
Target Jangka Panjang Demokrat, Duetkan AHY-Puan di Pilpres 2024
“Kalau masih sama tidak ada gregetnya. Nanti ekonomi stagnan di angka 5,2 persen atau turun,” pungkas dia. (Knu)