JELANG bebas, Basuki Tjahaja Purnama menulis sebuah surat dari Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Surat yang ditulis tangan sendiri oleh mantan Gubernur DKI Jakarta itu ditujukan kepada para Ahoker, sebutan pendukungnya.
Surat yang kemudian diunggah ke akun Twitter @basuki_btp itu mengingatkan para Ahoker untuk tidak melakukan penyambutan berlebihan saat ia dibebaskan. Menurut Ahok, hal itu berpotensi mengganggu kepentingan umum. Tak lupa, di akhir surat, ia meminta maaf kepada semua pihak.
Dari semua yang ia sampaikan, satu hal yang paling menarik ialah keinginan Ahok untuk dikenal sebagai BTP, bukan lagi Ahok, selepas bebas.
Kenapa ya?
1. BTP Merupakan Inisial
Sejak terjun ke dunia politik, Basuki Tjahaja Purnama memang lebih dikenal dengan nama Ahok. Nama itu makin berkibar ketika ia maju dalam pilkada DKI. Jadi ketika Ahok memilih dikenal dengan BTP, banyak orang yang bertanya-tanya.
BTP merupakan inisial dari Basuki Tjahaja Purnama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inisial berarti huruf pertama kata atau nama orang. Biasanya inisial digunakan sebagai paraf.
Dalam penulisan surat resmi, inisial nama sering kali digunakan untuk menandakan penulis surat tersebut.
2. Penggunaan Inisial di Media
Tak ada aturan yang melarang seseorang menggunakan inisial nama dalam keseharian. Meskipun demikian, kita pasti sering menemukan inisial nama digunakan di media.
Dalam pedoman penulisan berita, penulisan inisial nama dilakukan untuk pemberitaan mengenai seseorang yang disangka atau dituduh tersangkut dalam suatu perkara. Hal itu demi tetap menjunjung asas praduga tidak bersalah
Namun, insan pers bisa saja menyebut nama lengkap tersangka jika itu demi kepentingan umum. Dalam hal ini, prinsip keadilan bagi kedua belah pihak atau dikenal dengan istilah cover both sides tetap harus diterapkan.
Menuliskan inisial ddalam pemberitaan wajib dilakukan pada korban perkosaan, remaja yang tersangkut kasus pidana, terutama yang menyangkut perbuatan asusila dan korban narkotika.
3. Tren Nama Berganti Inisial
Aturan penggunaan penulisan nama dengan inisial tersebut masih berlaku. Bahkan, kini enggak cuma pelaku kriminal, tersangka, atau korban perkosaan yang ditulis dalam inisial. Politisi juga ramai-ramai menggunakan inisial mereka.
Entah siapa yang memulai. Belakangan, publik lebih banyak mengenal SBY untuk Susilo Bambang Yudhoyono, RK untuk Ridwan Kamil, OSO untuk Oesman Sapta Odang, atau yang baru-baru ini ikut pilkada DKI, AHY untuk Agus Harimurti Yudhoyono.
Penggunaan inisial untuk menggantikan nama resmi amat mungkin terkait dengan kemudahan. Nama yang panjang akan sedikit lebih sulit untuk dikenal. Dengan inisial yang lebih singkat, nama jadi dengan mudah dihafal dan diingat.
Hal itulah yang dilakukan SBY dan AHY yang sama-sama menggunakan inisial mereka saat ikut dalam pemilihan. Terbukti berhasil memang. Makin banyak orang mengenal mereka dengan inisial ketimbang nama yang panjang.
4. Beda Penyebutan, Beda Pula Kapasitasnya
Dalam hal penggunaan nama resmi atau inisial, media punya aturan tersendiri. Sebagai contoh penulisan nama Susilo Bambang Yudhoyono. Mantan Presiden Republik Indonesia itu juga dikenal dengan sebutan SBY. Bagi orang awam, menyebut SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono tak ada bedanya karena akan tetap mengacu pada orang yang sama. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar.
Nama Susilo Bambang Yudhoyono merupakan nama resmi beliau. Ketika menjabat presiden, nama itu disematkan pada semua dokumen negara dan surat keputusan. Oleh karena itu, nama itu sebenarnya mengacu pada posisi atau kapasitasnya sebagai Presiden RI. Selanjutnya, dalam kesempatan resmi kenegaraan, ia akan dikenal sebagai Presiden Yudhoyono.
Makna berbeda muncul ketika namanya ditulis sebagai SBY. Sebutan inisial itu mengacu pada kapasitas beliau sebagai negarawan. Dalam hal ini, SBY merupakan nama Yudhoyono sebagai seorang politikus. Oleh karena itu, nama SBY sering kali digunakan dalam kapasitasnya sebagai ketua partai.
5. Jadi, BTP atau Ahok?
Kembali ke pilihan menggunakan nama Ahok atau insial BTP. Jika alasan tak lagi mau dikenal sebagai Ahok demi mudah dikenal, bukankah nama Ahok sudah cukup singkat, mudah diingat, dan gampang diucapkan?
Dalam sebuah artikel di Tempo.co (30/10/2014) disebutkan bahwa Ahok merupakan panggilan yang disematkan ayahnya. Mendiang Indra Tjahja Purnama ingin Basuki menjadi seseorang yang sukses. Oleh karena itu, ia memberikan panggilan khusus, yakni Banhok.
Kata 'Ban' berarti puluhan ribu, sedangkan 'Hok' memiliki arti belajar. Bila digabungkan, keduanya bermakna 'belajar di segala bidang'. Setelah sekian lama, panggilan Banhok berubah menjadi Ahok. Dengan nama itulah ia kemudian dikenal publik.
Mungkin saja, seperti halnya politisi yang menggunakan inisial demi dikenal publik, Ahok juga menginginkan hal yang sama. Alih-alih dikenal dengan nama kecil, ia ingin dikenal dengan lengkap, Basuki Tjahaja Purnama. Karena sedikit panjang, jadilah inisial BTP dipilih.
Lalu apa maknanya?
Jika nama Ahok merupakan nama kecil pemberian orangtua, nama BTP akan menjadi nama Basuki di dunia politik. Nama itu akan melekat dalam kapasitasnya sebagai seorang negarawan. Jika, sekali lagi jika, ia terpilih untuk memangku jabatan, tentu saja nama yang melekat ialah Basuki Tjahaja Purnama. Nama resminya.
Bisa jadi, pemilihan nama BTP setelah keluar tahanan menyiratkan bahwa Ahok sudah cukup banyak belajar. Baik dari buku maupun dari pengalaman hidup.
Ahok kini sudah siap menjadi politikus. Bersedia untuk terjun kembali ke dunia politik.
Jika benar demikian, sudah pasti banyak orang yang siap mendukungnya. Hanya saja, kali ini bukan lagi Ahoker, melainkan pendukung BTP.
Selamat datang kembali Ahok, eh BTP.(dwi)