Calon wakil gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengeluarkan keluh kesahnya terkait politisasi agama dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.
Djarot mengaku akibatnya, elektabilitas Ahok-Djarot menurun. Ini berbanding terbaik dengan survei kepuasaan publik terhadap kinerja Ahok-Djarot.
Menurutnya, ada dua isu yang dimainkan yaitu isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan atau SARA dan penggusuran.
"Saya merasa ada faktor yang dimainkan, mohon maaf, politisasi persoalan SARA. Ini yang selalu dihembuskan di bawah," kata Djarot dalam acara debat di sebuah televisi swasta, Minggu (2/3).
Mantan Walikota Blitar dua periode ini menilai, isu SARA tersebut yang membuat warga enggan menentukan pilihan ke pasangan nomor urut dua.
"Makanya saya sampaikan, ini memilih pemimpin pemerintahan, bukan pemimpin agama," ujar Djarot.
Djarot menjelaskan, isu kedua yang dihembuskan ialah masalah penggusuran. Menurut dia, masyarakat menganggap Ahok-Djarot tukang gusur.
"Saat saya masuk pemukiman, pertanyaannya selalu, 'Pak di sini jangan digusur'. Dua isu ini selalu kami terima," pungkasnya.
Menanggapi jawaban Djarot, Rosi selaku pemandu acara mempertanyakan isu mana yang paling mempengaruhi pilihan masyarakat pada Pilkada putaran pertama silam.
"Jujur masalah agama, SARA," ungkap Djarot.
Sedianya, acara ini merupakan sebuah acara debat bertajuk 'Debat Kandidat Pemimpin dan Jakarta', namun pasangan cagub dan cawagub nomor pemilihan 3 Anies Baswedan dan Sandiaga Uno urung datang.
"Tim nomor tiga menyampaikan bahwa calon nomor tiga tidak bisa hadir," kata Rossi, yang langsung disambut teriakan Huuuu...huuuu dari barisan penonton pendukung Ahok-Djarot.
Belum diketahui alasan Anies-Sandi tidak menghadiri debat. Rossi menjelaskan, bahwa acara akan terus berlangsung kendati Anies-Sandi tidak hadir. Kompas TV mengubah tema acara menjadi 'Ahok-Djarot di Rosi. (Pon)
Baca juga berita lainnya mengenai Pilkada DKI di sini: Sahabat Djarot Sebut Rekam Jejak Djarot di Blitar, Bukti Djarot Sangat Berkualitas