MerahPutih.com - Indonesian Dance Festival (IDF) 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan, pertukaran gagasan, dan pengembangan ekosistem tari kontemporer Indonesia. Melalui tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman, festival ini mengajak publik merawat budaya dan ingatan melalui tubuh sebagai medium bercerita.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1992, IDF konsisten menjadi ruang bagi seniman lintas generasi untuk mengembangkan praktik artistik sekaligus mempertemukan berbagai perspektif budaya. Perjalanan panjang tersebut tidak terlepas dari kerja kolektif tim kuratorial, produksi, teknis, serta dukungan mitra lokal maupun internasional.
Salah satu pendiri IDF sekaligus Yayasan Loka Tari Nusantara (YLTN), Nungki Kusumastuti, menegaskan bahwa keberlangsungan festival membutuhkan konsistensi dan kerja bersama.
Menjaga keberlangsungan festival bukan hanya tentang memastikan IDF terus hadir setiap dua tahun, tetapi juga merawat ruang bagi seniman untuk berkarya, bertemu, dan mengembangkan praktiknya. Semoga IDF dapat terus mendukung pertumbuhan ekosistem tari kontemporer Indonesia bagi generasi berikutnya,
Salah satu pendiri IDF sekaligus Yayasan Loka Tari Nusantara (YLTN), Nungki Kusumastuti.
IDF 2026 Hadir dengan Tema Underlying Drift
Penyelenggaraan tahun ini menjadi gelaran IDF ke-18. Melalui tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman, festival tersebut menghadirkan beragam perspektif artistik yang berangkat dari pengalaman personal, ingatan, identitas, hubungan manusia dengan lingkungan, hingga dinamika sosial dan budaya.
Berbagai gagasan tersebut dihadirkan melalui program KAMPANA dan BENTANG yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan festival.
Sebagai agenda kebudayaan dua tahunan, IDF 2026 tidak hanya menyuguhkan pertunjukan tari. Festival ini juga menghadirkan lokakarya, bincang tari, serta program artistik yang mempertemukan seniman, koreografer, kurator, dan publik dari Indonesia maupun mancanegara.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperluas dialog sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan di antara para pelaku seni.
Baca juga:
'Night Shift for Cuties' Hadirkan Kolaborasi Indonesia-Korea, dari Musik hingga Koreografi
Deretan Karya Koreografi Seniman Lokal dan Internasional
Rangkaian pertunjukan IDF 2026 dibuka dengan karya Hartati berjudul Waktu Paruh. Selama festival berlangsung, panggung IDF diisi berbagai karya koreografi dari seniman lokal maupun internasional dengan pendekatan artistik yang beragam.
Sejumlah karya yang ditampilkan dalam festival ini meliputi:
- Reality oleh Soy Chanborey.
- Tetuha Halimawong oleh Ahmad Susantri.
- Menstruation Sumo Dance oleh tim chiipro.
- New Fieldwork oleh Yuka Uchida.
- Sea-Ghosts oleh Natalie Quan Yau Tso.
- KONJO: Becoming Otherwise oleh Densiel Lebang.
Selain pertunjukan, IDF 2026 juga menyediakan ruang diskusi untuk membahas berbagai persoalan dalam praktik seni dan kehidupan para seniman.
Salah satu sesi utama yang dihadirkan adalah Making, in Her Own Rhythm: Art, Work, Care, and a Life in Practice. Diskusi ini menghadirkan Hartati, Densiel Lebang, dan Nanako Matsumoto, dengan Keni Soeriaatmadja sebagai moderator.
Pembahasan dalam sesi tersebut menyoroti dinamika praktik artistik perempuan, termasuk perubahan tubuh, beban pekerjaan, serta berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Baca juga:
Mengenal Keindahan Tari Jepin, Identitas Budaya Masyarakat Tidung di Bumi Kaltara
IDF Menjadi Ruang Pertemuan Berbagai Perspektif
Direktur IDF 2026, Ratri Anindyajati, menjelaskan bahwa festival ini dirancang bukan hanya untuk menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menciptakan ruang pertemuan bagi orang-orang dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda.
Bagi kami, Indonesian Dance Festival bukan hanya tentang menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menciptakan ruang bagi orang-orang dengan pengalaman dan perspektif yang berbeda untuk bertemu melalui tari. Kami berharap pengalaman yang dibawa pulang oleh para seniman, penonton, dan seluruh pihak dapat terus berkembang menjadi kolaborasi setelah festival berakhir,
Direktur IDF 2026, Ratri Anindyajati.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang diusung melalui tema Underlying Drift. Co-Curator IDF 2026, River Lin, menambahkan bahwa tema tersebut mengajak publik untuk lebih peka terhadap perubahan yang berlangsung secara perlahan di bawah permukaan.
Dalam konteks festival, pertemuan berbagai perspektif menjadi salah satu fondasi penting pengalaman artistik. Melalui karya, diskusi, dan interaksi antarpelaku seni, IDF 2026 berupaya menghadirkan pemahaman yang lebih luas mengenai perubahan dalam kehidupan sosial dan budaya. (Tka)