Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Hujan Ekstrem Picu Banjir, BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Jabodetabek

Soffi Amira - Selasa, 10 Maret 2026

MerahPutih.com - Hujan lebat yang terjadi di sejumlah wilayah Jabodetabek belakangan ini, membuat pemerintah segera bertindak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi potensi curah hujan berintensitas lebat yang terjadi.

“Langkah tersebut dilakukan juga sebagai upaya mitigasi untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/3).

Direktorat Pusat Pengendalian Operasi BNPB mencacat Jakarta menjadi wilayah yang mengalami dampak banjir dan cuaca ekstrem terjadi di sejumlah wilayah.

Baca juga:

Berbagai Kota Besar di Indonesia Masih Akan Diguyur Hujan Ringan Sampai Sedang

Hujan lebat yang mengguyur sejak Sabtu (7/3/2026) hingga Minggu (8/3/2026) menyebabkan genangan di beberapa kawasan permukiman warga.

Menurut Abdul, sebanyak 23 kelurahan di tiga kecamatan terdampak banjir akibat curah hujan tinggi. Akibatnya, sebanyak 122 jiwa dilaporkan mengungsi sementara waktu ke tempat yang lebih aman.

Genangan air di sejumlah ruas jalan dan permukiman warga dilaporkan mulai berangsur surut, tetapi masih berpotensi banjir susulan merespons kondisi cuaca yang masih rentan dipicu aktifnya dua sistem bibit siklon.

Seperti analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) keberadaan dua bibit siklon tropis 93S dan 95W terpantau di sekitar wilayah Indonesia, yang berpotensi memicu peningkatan curah hujan di sejumlah daerah termasuk Jabodetabek.

Baca juga:

Tinjau TPST Bantargebang, Pramono Sebut Hujan Ekstrem Jadi Penyebab Longsor

Sedangkan untuk bibit siklon tropis 93S yang berada di Samudera Hindia selatan Lampung dengan kecepatan angin maksimum sekitar 30 knot dan tekanan udara minimum 999 hPa.

BMKG mengonfirmasi sistem tersebut memiliki potensi rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 48 jam ke depan, kemudian diperkirakan melemah dengan intensitas angin menurun menjadi sekitar 25 knot dalam periode 48 hingga 72 jam.

Bibit siklon ini juga menginduksi terbentuknya aliran angin kencang lapisan bawah (low level jet) serta daerah konvergensi di Samudera Hindia selatan Lampung. (knu)

Baca Artikel Asli