>Dalam Kereta >Bukanya aneh bukannya dalam kereta aku kembali teringat >Apakah karena gemuruh yang melintas disini > >Aku kembali teringat perjalanan kita yang singkat bukan karena jarak yang dekat >Tapi jarak terlipat oleh keasikan kita yang nikmat > >Tidak seperti biasa, kita begitu menjadi kanak-kanak >Bahkan kadang-kadang norak > >Tak terganggu stasiun berteriak-teriak dan suara kereta yang bergerak-gerak >Bukannya aneh kita menikmati kesendirian dalam keramaian > >Stasiun demi stasiun terlewati tanpa kita sadari >Sampai kita kembali menjadi diri kita lagi > >Kau dimana sekarang sayang >Lalu apa yang ada disini (dada) yang terus bergemuruh ini> >>Guruku
Ketika aku kecil dan menjadi muridnya>Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar> >Ketika aku besar dan menjadi pintar> >Kulihat dia begitu kecil dan lugu> >Aku menghargainya dulu> >Karena tak tahu harga guru> >Ataukah kini aku tak tahu> >Menghargai guru?
>
>
>>Diterbangkan Takdir
>gelisahku adalah gelisah purba
>
>adam yang harus pergi mengembara tanpa diberitahu
>kapan akan kembali
>
>bukan sorga benar yang kusesali karena harus kutinggalkan
>namun ngungunku mengapa kau tinggalkan
>aku sendiri
>
>sesalku karena aku mengabaikan kasihmu yang agung
>dan dalam kembaraku di mana kuperoleh lagi kasih
>sepersejuta saja kasihmu
>
>jauh darimu semakin mendekatkanku kepadamu
>
>cukup sekali, kekasih
>tak lagi,
>tak lagi sejenak pun
>aku berpaling
>biarlah gelisahku jadi dzikirku
>
>Untuk mengikuti artikel lainnya, baca juga: Selamat Hari Puisi Sedunia
>