Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Golkar Pasang Badan Bela Ahok-Djarot dari Teror Isu SARA

Luhung Sapto - Minggu, 02 April 2017

Politisasi agama dalam Pilkada DKI Jakarta kian menguat. Menanggapi maraknya isu agama dan SARA untuk menjatuhkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), Partai Golkar menyatakan siap pasang badan.

"Lha kita ini masih salat, gara-gara milih Pak Basuki dibilang kafir. Orang seperti ini yang membuat ribet. Makanya Golkar yang nasionalis akan pasang badan di depan melawan yang mengganggu masyarakat dan suka mengkafirkan," kata Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Indonesia I, Nusron Wahid dalam Pengajian Partai Golkar di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (1/4).

Nusron menambahkan, banyak program Ahok-Djarot yang memihak umat Islam. Oleh karena itu, Golkar memberi dukungan kepada pasangan nomor pemilihan 2 itu.

"Makanya tidak ada salahnya kalau partai Golkar mencalonkan nomor dua pada Pilkada DKI karena terbukti mempunyai keberpihakan pada agama Islam." "Buktinya lagi apa? seumur-umur kita punya gubernur, enggak pernah punya masjid di balai kota, tapi baru pada masa Basuki-Djarot ada masjid megah di balai kota bernama masjid Fatahillah. Ini menandakan pak Basuki meskipun belum beragama Islam tapi hatinya Islami," ujar Nusron lagi.

Namun begitu, Nusron menyatakan, meski memiliki program yang sudah pro-masyarakat Islam, Ahok-Djarot masih diganggu dan diteror oleh orang yang ingin melanggengkan korupsi. Caranya dengan menuduh orang yang mendukung Ahok-Djarot sebagai orang kafir. Seolah mereka paling benar dan paling memiliki agama Islam sendiri.

Nusron menjelaskan, Islam di Indonesia mayoritas "ahlussunnah wal jamaah". Tanda-tanda orang ahlussunnah wal jamaah ada 10. Salah satunya yang nomor tujuh bunyinya 'tak boleh mengkafirkan seseorang kalau orang itu masih ahli qiblat atau masih salat'.

Ciri ahlussunnah wal jamaah nomor delapan, lanjut Nusron, adalah menshalatkan orang yang meninggal dunia selama orang itu adalah ahli qiblat.Namun yang terjadi, ada golongan orang, gara-gara beda pilihan di Pilkada kemudian ketika ada yang meninggal mereka menolak menshalatkan.

Sumber: ANTARA

Baca Artikel Asli