MerahPutih.com - Setelah menempuh perjalanan hampir sepuluh tahun, unit dark-pop/trip-hop asal Jakarta, GHO$$, akhirnya merilis album penuh perdana bertajuk The Whitest Blackout. Album ini menjadi kelanjutan sekaligus kebalikan dari mini album The Blackest Whiteout yang dirilis pada 2017.
Jika karya sebelumnya merepresentasikan fase paling kelam dalam kehidupan, The Whitest Blackout hadir sebagai simbol munculnya secercah harapan setelah melewati kehilangan, trauma, dan proses menerima kenyataan yang baru. Album ini menggambarkan perjalanan menuju pemulihan tanpa menghapus luka-luka yang pernah membekas.
Sajikan 12 Lagu yang Saling Terhubung
Masih mempertahankan identitas musik yang memadukan dark-pop, trip-hop, serta nuansa alternative khas era 1990-an, GHO$$ menghadirkan 12 lagu yang saling terhubung melalui benang merah emosional.
Album dibuka lewat Train, sebuah komposisi ambient yang menjadi jembatan antara dua fase perjalanan band. Dari sana, pendengar diajak menyelami berbagai tema personal, mulai dari depresi dalam Her, perjuangan keluar dari hubungan yang penuh kekerasan emosional melalui 2N8, hingga kisah seseorang yang terus terjebak dalam lingkaran penderitaan di Dude.
Baca juga:
Supple Rilis 'In A Mess', Angkat Keresahan Hidup Lewat Musik dan Pameran Seni Bersama BOOspace
Perjalanan emosional tersebut berlanjut dalam Break, yang menampilkan kolaborasi vokal bersama Madukina. Lagu ini mengangkat refleksi mengenai kerinduan terhadap pelarian di masa lalu, sekaligus keyakinan bahwa setiap luka pada akhirnya dapat sembuh.
Sementara itu, My Song 6 menjadi luapan duka atas kehilangan seorang sahabat. Adapun 666 menggambarkan pertarungan abadi antara sisi terang dan gelap dalam diri manusia.
Di sisi lain, #SADBOYSCLUB dan Purple Season mengeksplorasi dinamika hubungan yang rumit, rasa kehilangan, serta kisah cinta yang harus berakhir bukan karena hilangnya perasaan, melainkan akibat keadaan yang tidak dapat dihindari.
Album sempat Tertunda Bertahun-tahun
Menariknya, sebagian besar materi dalam album ini sebenarnya telah rampung sejak 2017. Namun, proses perilisannya harus tertunda akibat berbagai peristiwa yang dialami band.
Mulai dari kondisi kesehatan vokalis Diego Shefa, pandemi COVID-19, hingga kepergian Diego Aditya pada 2024 membuat GHO$$ memutuskan untuk vakum sementara.
Band ini baru kembali aktif pada penghujung 2025 dengan bergabungnya dua personel baru, Kazumasa Albert sebagai gitaris dan Daniel Clift pada synthesizer.
Kehadiran keduanya menghadirkan perspektif musikal yang lebih segar tanpa menghilangkan karakter khas yang telah dibangun GHO$$ sejak awal.
Baca juga:
Weda Mauve Rilis Album 'PACK UR BAGS, IM COMING W U', Potret Perjalanan Cinta hingga Penerimaan Diri
The Whitest Blackout juga menjadi album pertama GHO$$ yang diproduksi secara independen.
Seluruh proses rekaman, mixing, hingga balancing dikerjakan sendiri oleh para personel dengan semangat do-it-yourself (DIY). Sementara itu, proses mastering dipercayakan kepada Stephan Santoso dari Musikimia di Slingshot Studio.
Lebih dari sekadar album debut, The Whitest Blackout menjadi dokumentasi perjalanan emosional GHO$$ dalam menghadapi kehilangan, kemarahan, cinta, depresi, harapan, hingga penerimaan.
Album ini sekaligus menandai berakhirnya satu babak perjalanan mereka dan membuka lembaran baru bagi GHO$$ sebagai sebuah band. (Far)