Merahputih.com - Momen World Space Week selalu menjadi pengingat betapa luar biasanya sejarah penjelajahan luar angkasa manusia sejak satelit pertama meluncur hingga era modern saat ini.
Buat kamu yang penasaran siapa astronot pertama di dunia atau bagaimana masa depan penerbangan luar angkasa, perkembangan teknologi antar-planet kini tidak lagi didominasi oleh satu atau dua negara saja.
Mari kita bongkar fakta-fakta menarik seputar misi luar angkasa yang krusial namun sering kali luput dari perhatian publik.
Baca juga:
Membicarakan sejarah penjelajahan luar angkasa, kita wajib mundur ke 69 tahun lalu ketika Uni Soviet sukses meluncurkan Sputnik 1.
Langkah bersejarah ini tidak hanya membuka lembaran baru bagi masa depan penerbangan luar angkasa, tapi juga memicu persaingan gengsi dan teknologi yang sangat sengit dengan Amerika Serikat.
10 tahun setelahnya, tepatnya pada 10 Oktober 1967, Perjanjian Luar Angkasa (Outer Space Treaty) resmi berlaku.
Kini, PBB rutin merayakan World Space Week setiap tanggal 4 hingga 10 Oktober untuk mengapresiasi inovasi antariksa yang terus membawa manfaat bagi umat manusia, mulai dari kelas astronomi di sekolah dasar hingga pameran super canggih dari berbagai badan antariksa global.
Yuri Gagarin dan Sejarah Astronot Pertama di Dunia

Tepat pada 12 April 1961, Yuri Gagarin mencatatkan namanya dengan tinta emas sebagai manusia pertama yang menembus kosmos.
Mengendarai pesawat Vostok 1, ia sukses mengorbit Bumi dengan kecepatan fantastis mencapai 27.400 km/jam selama 108 menit, sebelum akhirnya melontarkan diri dan mendarat mulus menggunakan parasut.
Misi epik ini membuktikan bahwa tubuh manusia ternyata mampu bertahan dari ekstremnya proses peluncuran, kondisi tanpa gravitasi, hingga momen krusial saat masuk kembali ke atmosfer Bumi.
Enam tahun kemudian, Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet menyepakati sebuah aturan main yang sangat penting.
Di mana, ketiga negara itu sepakat bahwa luar angkasa harus dieksplorasi dan digunakan secara damai, serta tidak ada satu pun negara yang berhak mengklaimnya sebagai wilayah kekuasaan masing-masing.
Prinsip dasar inilah yang terus dijaga, bahkan ketika Neil Armstrong dari misi Apollo 11 milik NASA sukses menancapkan jejak kaki pertamanya di permukaan Bulan pada 20 Juli 1969.
Di Mana Sebenarnya Batas Luar Angkasa Itu?
Percaya atau tidak, tidak ada kesepakatan mutlak soal di mana atmosfer Bumi berakhir dan luar angkasa dimulai.
Mayoritas lembaga internasional berpatokan pada Garis Karman yang berada di ketinggian 100 km di atas permukaan laut. Namun, pihak militer AS, NASA, dan FAA menghitung batasnya di angka 80 km.
Biar gampang membayangkannya: kalau Bumi kita ibaratkan sebesar buah apel, maka jarak menuju luar angkasa itu kira-kira cuma setebal kulit apel tersebut. Sangat dekat, bukan?
Siapa Saja yang Sudah Terbang ke Sana?
Mengacu pada patokan Garis Karman, tercatat sudah ada lebih dari 746 orang dari 52 negara yang pernah mencicipi sensasi melayang di orbit.
Mereka bukan cuma astronot profesional, tapi juga turis komersial yang berani membayar mahal. Secara statistik, rata-rata usia para penjelajah ini berada di kisaran 40 tahun.
Meski begitu, tren wisata komersial mulai mendobrak batasan usia. Oliver Daemen tercatat sebagai pelancong termuda di usia 18 tahun pada penerbangan 2021 lalu.
Sementara itu, Ed Dwight memecahkan rekor sebagai yang tertua saat ia terbang di usia 90 tahun lebih delapan bulan pada 2024, mengalahkan rekor William Shatner.
Secara dominasi negara, Amerika Serikat masih memimpin jauh dengan mengirimkan 369 orang, disusul gabungan Uni Soviet dan Rusia (138 orang).
Di posisi ketiga, ada China yang telah sukses memberangkatkan 29 astronotnya menggunakan roket buatan sendiri.
Apa Langkah Selanjutnya untuk Masa Depan Penerbangan Luar Angkasa?
Ambisi manusia jelas tidak akan berhenti di orbit Bumi. Pada April 2026 lalu, kru Artemis II sukses terbang mengelilingi Bulan dan mencapai jarak sekitar 406.771 km dari Bumi, memecahkan rekor jarak terjauh yang sebelumnya dipegang oleh Apollo 13 pada 1970.
Agenda selanjutnya tidak kalah seru. Misi Artemis III bersiap di tahun 2027 untuk melakukan uji coba simulasi pendaratan di orbit Bumi menggunakan wahana dari SpaceX dan Blue Origin.
Baca juga:
Rekor Gila! Misi SpaceX Crew-13 NASA Tembus ISS Cuma 7 Jam, Tercepat Sepanjang Sejarah AS
Puncaknya, NASA menargetkan tahun 2028 untuk menjalankan Artemis IV yang bertujuan mendaratkan astronot di dekat kutub selatan Bulan, pendaratan berawak pertama dalam setengah abad terakhir!
Bukan cuma NASA yang sibuk. India juga tengah merampungkan persiapan misi berawak perdana mereka, Gaganyaan, di tahun 2027, yang akan menjadikannya negara keempat yang meluncurkan manusia dengan roket mandiri.
Di sisi lain, China terus tancap gas dengan target ambisius untuk mendaratkan astronotnya di Bulan pada kisaran 2030. Era baru perlombaan luar angkasa tampaknya baru saja dimulai.