Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Epidemiologi UI: Anies Terburu-buru Terapkan PSBB Transisi

Andika Pratama - Senin, 12 Oktober 2020

MerahPutih.com - Kepala Departemen Epidemiologi FKM Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono menyayangkan langkah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang melepas rem darurat dan kembali memberlakukan PSBB transisi selama 2 pekan.

Miko menilai risiko penularan COVID-19 di Jakarta saat ini masih sangat tinggi. Hal ini tidak terlepas dari aksi demonstrasi penolakan Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja dari kalangan buruh, mahasiswa, dan masyarakat.

"Jadi, menurut saya, Pak Gubernur terlalu terburu-buru melakukan PSBB transisi disaat ancaman COVID-19 tinggi akibat demo beberapa hari lalu," ujar Miko saat dikonfirmasi, Senin (12/10).

Baca Juga

Selama PSBB Transisi, Anies Janji Perkuat Tracing

Dengan kondisi seperti itu, lalu ditambah pelonggaran PSBB, ucap Miko penularan penyakit corona bisa melonjak dua kali lipat dari biasanya.

Kondisi penularan corona di ibu kota pada masa PSBB ketat, rata-rata per harinya adalah 900 pasien. Jumlah ini bisa berlipat ganda pada masa transisi ini dengan sekitar 1.800 penambahan kasus per hari.

"Dengan adanya demo ditambah penerapan PSBB transisi, bisa jadi akan dua kali lipatnya, jadi sekitar 1.800 kasus per hari. Reproduction number jadi di angka 2 bisa-bisa. bayangin kalau kemudian jadi 1.800," terangnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) saat meninjau Halte MRT di Bundaran HI, Jakarta Pusat, yang dirusak perusuh saat aksi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja, Sabtu (10/10/2020). (ANTARA/Ricky Prayoga)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) saat meninjau Halte MRT di Bundaran HI, Jakarta Pusat, yang dirusak perusuh saat aksi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja, Sabtu (10/10/2020). (ANTARA/Ricky Prayoga)

Dengan prediksi lonjakan kasus corona pada masa transisi ini, lanjut Miko, DKI bisa saja kembali keteteran mengingat kapasitas rumah sakit rujukan COVId-19 terus menyusut setiap harinya.

"Ya rem darurat kemarin ditarik karena kapasitas rumah sakit penuh, tinggal 35 persen. sekarang mungkin udah melonggar. tapi, begitu pertambahan kasus dua kali lipat akibat multiplayer effect tadi, akan cepat sekali penuhnya," terangnya.

Baca Juga

4.233 Kamar Hotel di 3 Provinsi Jadi Tempat Isolasi OTG COVID-19

Meskipun Anies mengklaim penularan COVID-19 di Jakarta sudah mampu ditekan lewat PSBB ketat selama 4 pekan, namun Miko menyakini, risiko ledakan penyakit menulan masih tinggi dengan PSBB transisi ini. (Asp)

Baca Artikel Asli