MerahPutih.com - Indonesia bersiap menghadapi ancaman krisis iklim ekstrem setelah fenomena El Nino dilaporkan menguat dengan peluang intensitas mencapai 98 persen.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin, mendesak pemerintah segera meluncurkan langkah mitigasi darurat guna mengantisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem yang diproyeksikan berlangsung hingga Mei 2027.
Menurut Usman, siklus musim kering telah mulai terjadi sejak Mei 2026. Karena itu, ia mengingatkan kementerian terkait agar tidak terlambat mengambil langkah antisipatif mengingat dampak El Nino berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, terutama di sektor pangan.
"Peluang El Nino ekstrem sudah di depan mata, mencapai 98 persen. Pemerintah jangan menunggu sampai hutan terbakar dan sawah retak-retak baru sibuk bertindak. Mitigasi harus dimulai dari sekarang secara terukur dan terkoordinasi," kata Usman Husin di Jakarta, Kamis (2/7).
Baca juga:
Lahan Terbakar Sudah Melebihi Tahun Lalu, Capai 81 Ribu Hektar Akibat El Nino
Indonesia Tengah dan Timur diminta menjadi prioritas
Legislator asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu meminta pemerintah memprioritaskan wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur yang dinilai paling rentan mengalami penurunan curah hujan secara drastis.
Menurutnya, dua aspek yang harus menjadi perhatian utama adalah ketersediaan air bersih bagi masyarakat serta pasokan air untuk irigasi pertanian.
Baca juga:
Hadapi El Nino, Stok Beras Indonesia Diklaim Aman Sampai Mei 2027
Sebagai langkah mitigasi, Usman mendorong pemerintah mengoptimalkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau operasi hujan buatan untuk mengisi kapasitas waduk, embung, dan daerah tangkapan air sebelum puncak musim kering terjadi.
Strategi modifikasi cuaca wajib dimaksimalkan di kawasan Indonesia Tengah dan Timur. Kerahkan teknologi untuk mengamankan cadangan air di embung dan bendungan. Ini adalah benteng pertahanan pertama kita melawan kekeringan berkepanjangan,
Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin.
Usulkan pipanisasi darurat untuk lahan pertanian
Selain itu, Usman juga mengusulkan percepatan pembangunan infrastruktur pipanisasi darurat dengan menarik jaringan pipa dari sumber air terdekat menuju lahan pertanian yang mulai mengalami kekurangan pasokan air.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk melindungi investasi petani yang telah mengeluarkan biaya pembelian benih dan pupuk sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional dari ancaman gagal panen (puso).
"Petani sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan modal besar untuk mengolah lahan. Jangan sampai kerja keras mereka berujung pada kebangkrutan hanya karena negara terlambat mengantisipasi iklim. Jika produksi pangan jatuh, harga komoditas di pasar melonjak, dan masyarakat luas yang akan menanggung akibatnya," pungkasnya. (Pon)