MerahPutih.com – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memuncak setelah dua kapal tanker minyak meledak saat berusaha melintasi jalur selatan Selat Hormuz, Senin kemarin.
Baca juga:
Rusia Ogah Bayar Tarif Kapal di Selat Hormuz, Prioritaskan Perlindungan Armada Sendiri
Dalam pernyataan resminya dikutip Selasa (21/7), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut insiden itu terjadi karena tekanan dan paksaan dari militer Amerika Serikat. IRGC menegaskan jalur pelayaran Selat Hormuz tidak aman selama agresi blokade AS terus berlanjut.
Selama agresi Amerika berlanjut, jalur Selat Hormuz tidak akan aman untuk pengiriman pupuk, minyak, atau gas,
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)
Ancaman Balasan Iran
IRGC memperingatkan militer AS harus bersiap menghadapi pembalasan atas tindakan ilegal tersebut. Pernyataan keras ini menambah daftar panjang eskalasi konflik yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
Sebelumnya, UKMTO (United Kingdom Maritime Trade Operations) melaporkan adanya kapal terbakar sekitar delapan mil laut di barat laut Kumzar, Oman. Namun, penyebab kebakaran belum diverifikasi.
Baca juga:
Peringatan Terakhir, Iran Lepaskan Tembakan ke Kapal Tanker di Lepas Pantai Sirik!
Peluang Damai Makin Menipis
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari 2026. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset milik AS.
Upaya damai sempat dilakukan melalui nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan, namun konflik kembali memanas pekan lalu akibat sengketa di Selat Hormuz.
Dengan insiden terbaru ini dilansir Antara, Selat Hormuz kembali menjadi titik panas geopolitik dunia. Jalur yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global kini menghadapi ancaman serius terhadap keamanan maritim. (*)