Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Drama BBM Subsidi : Naik Tak Naik Tetap Jadi Masalah

Eddy Flo - Rabu, 19 November 2014
align="justify">MerahPutih Nasional-To be or not to be is the question-Hamlet Shakespeare

align="justify">Begitulah solilokui, sebuah percakapan Hamlet dengan dirinya sendiri sebagai frase pembuka kontemplasi menuju keputusan antara kematian dan bunuh diri yang mesti ditempuhnya. Shakespeare sang dalang rupanya ingin menjerumuskan Hamlet dengan dua pilihan, bahwa kematian dan kehidupan selalu saja ada persoalan, mau tidak mau, suka atau tidak, baik ada maupun tiada tetap menjadi masalah.

align="justify"> 

align="justify">Sejenak bila kita memasang solilokui ini dalam panggung kebijakan pemerintahan Jokowi-JK menaikan harga BBM subsidi, maka yang tampak di hadapan kita adalah lakon persoalan lengkap dengan plus-minusnya. Lakon itu menampilkan banyak adegan dengan dua suara yang saling bertentangan, pro dan kontra, dukung dan protes serta gerah dan guyub. Dua-duanya mempunyai masalah masing-masing.

align="justify"> 

align="justify">Kita dan pemerintah memang tidak sedang mementaskan sebuah drama. Namun tak bisa dipungkiri bahwa situasi ini memungkinkan ada banyak lakon kolosal dan monolog yang mencari bahkan mencuri perhatian. Pemerintah telah secara resmi mengumumkan kenaikan BBM subsidi tanggal 18 November kemarin, seperti kata ungkapan lama, apa yang sudah terjadi tak mungkin ditiadakan lagi. Apa yang sudah diucapkan pemerintah, rasa-rasanya sulit untuk ditarik kembali, apalagi diralat. Naik ya naik, mau apalagi. Toh, siapapun presidennya, sejak mendiang Soeharto hingga Jokowi, kenaikan BBM sudah semacam lagu lama yang tak kunjung usai, walau terdengar menyayatkan hati, semua berusaha menikmati.

align="justify"> 

align="justify">

align="justify">Sebelum Pemerintahan Jokowi-JK, Presiden SBY selama 10 tahun kepresidenannya kurang lebih 4 kali menaikkan BMM subsidi. Itu berarti dalam satu periode, SBY 2 kali melakukan kebijakan yang oleh sebagian kalangan disebut tidak populer. Tak heran, tanggal 17 November sebelum mengumumkan kenaikan BBM subsidi, Wapres JK menelepon SBY, seperti yang ditwitkan Presiden ke-6 ini dalam akun twitter pribadinya dengan tanda khusus yang berarti langsung dari beliau berikut ini :

align="justify"> 

align="justify">1. S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono ·

align="justify">Saya terima bnyk pertanyaan/mentions dr publik soal kenaikan BBM. Kebetulan pk 08.10 malam ini saya terima telepon dr Wapres @Pak_JK . *SBY*

align="justify"> 

align="justify">2. S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono ·

align="justify">Wapres beritahu bahwa pemerintah akan naikkan harga BBM. Saya katakan, menaikkan harga BBM adalah wewenang pemerintah. *SBY*

align="justify"> 

align="justify">3. S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono ·

align="justify">Tapi pemerintah wajib jelaskan kepada rakyat mengapa harga BBM dinaikkan. Itu jawaban saya sbg respons atas telepon @Pak_JK . *SBY*

align="justify"> 

align="justify">4. S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono ·

align="justify">Selain itu, pemerintah harus jelaskan kebijakan kompensasi bagi golongan tidak mampu serta dari mana dana itu diambil. *SBY*

align="justify"> 

align="justify">5. S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono ·

align="justify">Pemerintah juga harus jelaskan bagaimana cara menentukan rumah tangga-rumah tangga yang berhak terima dana kompensasi itu. *SBY*

align="justify"> 

align="justify">6. S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono ·

align="justify">Saya berpendapat, jika dana kompensasi itu diambil dari APBN, maka pemerintah wajib jelaskan kpd DPR RI sbg bentuk pertanggungjawaban. *SBY*

align="justify"> 

align="justify">Melalui 6 kicauannya, SBY mendukung kebijakan pemerintah saat ini meski dengan catatan. Publik juga paham bahwa selama masa transisi, Jokowi pernah bertemu secara khusus dengan SBY di Bali dan pada kesempatan tersebut, Jokowi meminta SBY agar mengumumkan kenaikan BBM subsidi. Tak ingin periode terakhir jabatannya dikenang pahit, SBY lebih memilih menyerahkan kebijakan itu kepada pemerintahan Jokowi-JK. Persoalannya, siapapun yang mengumumkan kenaikan BBM, alasannya sama yakni : meningkatkan alokasi dana produktif kepada masyarakat, menekan inflasi dan mengurangi beban subsidi yang ditanggung pemerintah melalui APBN.

align="justify">

align="justify">Kenaikan BBM subsidi menjelma sebagai kutukan sekaligus berkat sejarah bagi pemerintah. Kutukan jika subsidi BBM jatuh ke tangan yang salah, dinikmati segelintir orang yang berada di sekitar patron kekuasaan. Berkat bila subsidinya benar-benar dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang banyak, dipergunakan sebesar-besarnya bagi kebutuhan serta kesejahteraan rakyat Indonesia.

align="justify"> 

align="justify">Sama seperti Hamlet, to be or not to be is the question, naik tak naik itulah persoalannya. Pilihan bijaknya seperti difatwakan filsuf Baruch Spinoza : nec ridere, nec flere, nec laudara, nec contemnere, sed inteliigere artinya jangan tertawa atau menangis dulu, jangan pula memuji atau mengecam sebelum memahaminya dengan baik dan benar.

align="justify"> 

align="justify">sumber foto : twitter pribadi Presiden SBY

Baca Artikel Asli