Defisit APBN 2025 Tembus 2,92 Persen, Menkeu Purbaya Sebut Pasar Modal Tetap Aman

Jumat, 30 Januari 2026 - Angga Yudha Pratama

Merahputih.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mencapai 2,92 persen tidak memberikan pengaruh negatif terhadap sentimen pasar saham di Indonesia pada Jumat (30/1). Meskipun mendekati ambang batas legal 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pemerintah meyakini langkah mitigasi fiskal tetap berada dalam jalur yang aman dan terkendali.

Berdasarkan realisasi sementara per 31 Desember 2025, defisit fiskal tercatat sebesar Rp695,1 triliun. Angka ini meningkat dari target awal sebesar 2,53 persen akibat dinamika ekonomi nasional yang bergejolak sepanjang tahun.

Baca juga:

Dirut BEI Mundur, Purbaya: Ini Sinyal Positif

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa kenaikan defisit ini merupakan bagian dari kebijakan countercyclical untuk menjaga daya beli dan pertumbuhan.

“Nggak ada (pengaruh). Kan masih di bawah 3 persen,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, langkah pemerintah Indonesia dalam mengelola fiskal mendapatkan apresiasi positif dari Bank Dunia di tengah memburuknya situasi ekonomi pada triwulan III 2025.

Gejolak Pasar Modal dan Pergantian Kepemimpinan

Di sisi lain, pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat yang memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) sebanyak dua kali pada pekan ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot hingga 8 persen ke level 7.654,66. Menanggapi situasi pasar yang fluktuatif, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (30/1).

Baca juga:

Buntut Trading Halt Beruntun, Dirut BEI Buktikan Tanggung Jawab Moral Melalui Pengunduran Diri

Sebagai langkah cepat menjaga stabilitas operasional bursa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama BEI. Pemerintah optimistis bahwa koordinasi antara kebijakan fiskal yang fleksibel dan pengawasan pasar modal yang ketat akan mampu memulihkan kepercayaan investor dalam waktu dekat.

“Saya bilang ekonomi kita masuk triwulan III 2025 itu memburuk sekali. Saya mesti balik arah ekonomi, harus memberikan stimulus dari segala arah yang saya bisa. Dan itu sudah saya lakukan tanpa melanggar prudensi dari pengolahan kebijakan fiskal,” ujar Purbaya.

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan