MerahPutih.com - Manajemen PSBS Biak belum membayarkan gaji pemain dan ofisial selama empat bulan, yakni sejak Februari hingga Mei 2026. Kondisi ini terungkap setelah memicu keprihatinan.
Sejumlah pemain sampai kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari membayar sekolah anak hingga membeli token listrik.
Asisten Manajer PSBS Biak, Erol Iba, mengatakan sebanyak 54 pemain dan ofisial telah menandatangani surat tuntutan pembayaran hak mereka.
Totalnya (gaji) 4 bulan yang kita belum dibayarkan. Berarti sampai dengan sekarang kita tagih ke direksi itu, sudah 6 bulan belum ada kabar-kabarnya,
kata Erol Iba dikutip dari BolaSkor.
Baca juga:
Bersaing dengan Nama Lama di Persib, Balsa Sekulic Siap Perjuangkan Posisinya
"Ini saya ada bawa surat. Ini ada sekitar 54 orang yang tanda tangan. Ini ofisial, coach, dan pemain. Ofisial sudah termasuk (supir) bus, yang bawa bus, masseur, kitman, semua sudah termasuk di dalam sini. Total 54 orang," ujar Erol Iba.
Pemain Kesulitan Bayar Sekolah Anak hingga Token Listrik
Erol mengungkapkan bahwa dampak keterlambatan gaji yang dirasakan sangat berat bagi para pemain dan keluarga.
Beberapa pemain bahkan sampai tidak mampu membayar biaya sekolah anaknya, sementara yang lain tidak bisa membeli token listrik, juga membayar biaya kuliah.
“Ada beberapa anak dari pemain, dari pelatih yang bahkan tidak sekolah. Bahkan token listrik pun enggak bisa dibayar. Yang kuliah ada yang mau di-DO (Drop Out).”
"Itu dampak dari kita belum menerima gaji ini dan itu sama sekali enggak didengarkan sama direksi PSBS," ujar Erol Iba.
Kondisi ini pula yang menggerakan Erol Iba mendatangi kantor I League di Jakarta untuk mempertanyakan pembayaran gaji, termasuk soal dana deposito yang sebelumnya sempat disinggung Sekjen PSSI Yunus Nusi.
"I League menyarankan kalau bisa direksinya (PSBS) datang ke sini, ketemu dan bicara bagaimana baiknya untuk pembayaran gaji kita.”
Baca juga:
"Karena waktu final Liga 2 yang di Sleman pak Sekjen (PSSI) sendiri ada menyampaikan, kan ada (pernyataannya) di TikTok ramai bahwa gaji pemain PSBS aman karena ada deposit yang ditahan."
Cuma sampai sekarang yang kata aman itu saya pertanyakan di mana, kenapa sampai sekarang belum selesai,
tutur Erol.
Erol menambahkan bahwa berbagai upaya termasuk dengan menghubungi manajemen tidak membuahkan hasil. Beberapa pemain justru diblokir di WhatsApp.
"Saya pribadi, saya sudah sering sampaikan (ke manajemen), tapi enggak ada tanggapan sama sekali. Bahkan ada beberapa pemain sudah diblok sama nomor-nomornya itu," ujar Erol.
Ia berharap manajemen segera menyelesaikan kewajibannya demi nasib para pemain dan keluarga mereka.
"Saya pikir mungkin dengan saya datang ke sini, direksi mau membuka hati, ya melihat tentang penderitaan anak istri ya, yang sudah 4 bulan tidak terima gaji itu, mungkin mereka bisa buka hati untuk datang selesaikan," tutur Erol.
Permasalahan internal itu membuat penampilan PSBS Biak anjlok di putaran kedua Super League 2025/2026. Tim dengan julukan Badai Pasifik itu pada akhirnya terdegradasi ke Championship atau Liga 2.
PSBS terdegradasi bersama dua tim lainnya, yakni Persis Solo dan Semen Padang. PSBS menempati peringkat 18 alias juru kunci. (*)