Merahputih.com - Masyarakat Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menggelar tradisi Baratan secara meriah untuk menyambut malam Nisfu Sya’ban yang jatuh pada Senin, 2 Februari 2026.
Ritual budaya-religius ini memadukan pawai lampion "impes" dengan pembacaan doa bersama di masjid sebagai simbol permohonan keberkahan dan penyucian diri menjelang bulan suci Ramadan.
Sesuai kalender Hijriah, Nisfu Sya’ban dimulai sejak waktu Maghrib hingga terbit fajar keesokan harinya. Di Jepara, momen ini tidak hanya diperingati secara spiritual, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga melalui arak-arakan yang melintasi rute-rute desa.
Baca juga:
Nisfu Syaban 1447 Hijriah Jatuh 3 Februari 2026, Momentum Emas Raih Syafaat Nabi Muhammad
Makna Spiritual dan Kuliner Puli
Secara etimologis, istilah Baratan berasal dari kata bahasa Arab bara’ah yang berarti keselamatan atau barakah yang bermakna keberkahan.
Dalam kalender Jawa, perayaan ini rutin terlaksana setiap tanggal 15 Ruwah. Ritual inti diawali dengan jemaah yang membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali, diikuti doa Nisfu Sya’ban yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.
Keunikan tradisi ini terletak pada penyajian makanan khas bernama Puli. Pangan yang terbuat dari beras tumbuk dan kelapa parut ini mengandung makna filosofis yang mendalam.
Puli itu bukan sekadar makanan, tapi berasal dari ungkapan afwu lii yang artinya maafkanlah aku. Ini adalah simbol bahwa warga ingin masuk ke bulan Ramadan dalam keadaan bersih dan saling memaafkan.
Baca juga:
Nisfu Syaban 2025: Tanggal, Keutamaan, dan Jadwal Menurut NU, Muhammadiyah, dan Kemenag
Jejak Sejarah Ratu Kalinyamat
Selain bernuansa religius, Baratan di Jepara memiliki akar sejarah yang kuat berkaitan dengan masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat.
Arak-arakan lampion atau impes diklaim sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa sejarah wafatnya Sultan Hadirin, suami sang ratu.
Alkisah, iring-iringan jenazah Sultan Hadirin yang gugur akibat konflik politik disambut oleh warga dengan membawa obor dan lampion di sepanjang jalan.
Tradisi membawa cahaya ini terus dilestarikan hingga kini sebagai simbol pengingat jasa pemimpin sekaligus cahaya iman dalam kegelapan. Antusiasme warga yang tinggi menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal tetap hidup di tengah arus modernisasi.