Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Banjir di Jakarta Hanya Bisa Dikendalikan

Noer Ardiansjah - Senin, 29 Desember 2014

MerahPutih Nasional- Banjir di Jakarta sangat tidak mungkin dihilangkan, namun sangat mungkin dapat dikendalikan. Sebab, secara topografi, 40 % daratan di Jakarta berada di bawah permukaan air laut.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengendalian Banjir Dinas PU DKI Jakarta, Warsito. Menurutnya, sejak ratusan tahun, wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) kerap dilanda banjir. Artinya, banjir di Jakarta tidak mungkin dapat dihilangkan secara tuntas tetapi dapat dikendalikan. Salah satu untuk mengendalikannya yakni dibutuhkan penanganan banjir dari hulu hingga hilir.

"Bagian hulu, perlunya diperbanyak daerah resapan air untuk menunjang wilayahtangkapan air berdasarkan sistem aliran sungai besar. Sedangkan dibagian hilirperlu diperbanyak kawasan polder untuk mengendalikan volume air," kata Warsito saat dihubungi merahputih.com, Senin (29/12).

Warsito menjelaskan, program pengendalian banjir yang dilakukan Dinas PU sepanjangtahun ini anatar lain menormalisasi kali Gunung Sahari, kali Cideng, kali Ciliwung, dan kali Abdul Muis. Sementara untuk normalisasi kali Pesanggrahan, kali Cengkareng Drain, Kanal Banjir Barat (KBB) dan kali Sunter saat ini tengah dikerjakanoleh Kementrian PU.

Ia menyatakan, normalisasi seluruh kali dari hulu hingga hilir harus dilakukan mengingat kali-kali di Jakarta sudah mengalami pendangkalan, penyempitan akibat bangunan liar dan banyak yang masih menggunakan tanggul dengan batu kali. Untuk itu, pada 2015 mendatang program normalisasi akan terus dilakukan hingga semuanya memiliki tanggul beton dan memiliki lebar ideal kali sekitar 100 meter.

"Untuk Anggaran normalisasi menggunakan anggaran MultiYears, diharapkan 2016, normalisasi akan rampung," ungkapnya.

Selain itu, katanya, dibagian hilir, pihaknya juga tengah membangun tiga rumah Pompa dikawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, yakni Pompa bagian barat sebanyaktiga pompa dengan masing-masing pompa berkapasitas enam kubik perdetik, pompabagian tengah sebanyak empat pompa dengan masing-masing pompa berkapasitas limakubik perdetik dan di sisi timur ada tiga pompa yang masing-masing pompa berkapasitas enam kubik perdetik. Menurutnya seluruh pompa tersebut sudah dapat difungsikan untuk menangani banjir 2014-2015 di Jakarta.

Pembuatan Tanggul Raksasa (Giant Sea Wall) di kawasan Pluit, lanjut Warsito juga sedang dikerjakan oleh Kementrian PU, Dinas PU dan pengembang yang memiliki kewajiban. Bahkan rencananya, dipenghujung kali Semongol, Kalideres, Jakarta Barat, Marina Ancol dan Kali Sentiong, juga akan dipasangi pompa sebesar 40 kubik perdetik.

"Kalau dibagian hulu perbatasan antara Jakarta dengan Jawa Barat dan Banten, penangangan dilakukan dengan pembuatan waduk Pondok Rangon dan normalisasi kali Ciliwung serta Pesanggrahan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Warsito juga menyebutkan jika Dinas PU pada tahun ini juga tengah menambah pintu air di Mangarai dan Karet. Untuk di pintu air Manggarai yang saat ini ada dua pintu berkapasitas 500 kubik, saat ini sedang dibuat satu pintu lagi berkapasitas 200 kubik. Begitu juga di pintu air Karet yang saat ini ada empatnantinya akan menjadi lima dengan jumla total kapasitas 900 kubik.

"Penambahan pintu air ini difungsikan untuk mempercepat aliran air di kali ciliwung dan kali krukut. Sehingga musibah banjir di Kampung Melayu, Bidara Cina, Bendungan Hilir dan Mampang bisa terbantu. Hanya saja pembuatan keedua pintu air tersebut baru rampung Februari2015 mendatang," ujarnya. (BMS)

Baca Artikel Asli