MERAHPUTIH.COM - TANGGAL 20 Mei setiap tahun diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hari nasional ini bukan seremonial biasa, melainkan hasil jerih payah dan dedikasi nasionalisme para pejuang. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ditetapkan lewat peraturan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Penetapan ini disahkan Presiden Soekarno pada 16 Desember 1959 untuk memperingati hari lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Penyelenggaraan dan pedoman peringatan hari bersejarah ini diatur lebih lanjut melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 1985. Keppres tersebut dimaksudkan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Sejarah Singkat Peringatan Hari Kebangkitan Nasional
Sebelum negara Indonesia merdeka, kependudukan Belanda di Tanah Air sangatlah masif. Belanda membuat kebijakan struktural yang diberlakukan paksa mengatur hidup orang Hindia Belanda atau Indonesia. Salah satunya, kebijakan tanam paksa yang diteken Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Johannes van den Bosch.
Merela memberlakukan itu untuk mengisi kembali kas Belanda yang kosong akibat dari Perang Diponegoro (1825-1830) dan Revolusi Belgia (1830).
Baca juga:
Hari Kebangkitan Nasional 2026: Sejarah, Makna, Logo dan 20 Ucapan Harkitnas ke-118
Saat tanam paksa diberlakukan, orang Indonesia dipaksa menggunakan lahan mereka untuk menanami bibit tanaman dengan berbagai komoditas ekspor untuk diperjualbelikan di pasar internasional. Penjualan tersebut dibawa kembali ke kas Belanda.
Sementara itu, orang Indonesia yang lahannya dipakai untuk menanam komoditas seperti tes, tembakau, kopi, dan tebu oleh penjajah tidak mendapatkan keuntungan yang layak. Mereka bahkan merugi karena eksploitasi penjajahan yang Belanda lakukan.
Sepanjang tahun eksploitasi tersebut berlangsung. Kritik muncul dari kalangan Belanda, seperti yang dilakukan Dowes Dekker dan desakan Perdana Menteri Belanda, Abraham Kuypers.
Pada 1901, kabinet Belanda berubah menjadi liberal. Ratu Wilhelmina kemudian menerapkan kebijakan Politik Etis sebagai upaya balas budi pemerintah Belanda kepada rakyat Hindia Belanda. Mereka menyediakan pendidikan, irigasi, dan transmigrasi yang dinamai Politik Etis alias balas budi Belanda ke orang Indonesia.
Sejak Politik Etis berjalan dengan baik di Tanah Air, bermunculanlah sejumlah cendekiawan yang membuat organisasi pergerakan. Mereka kemudian mendirikan organisasi pergerakan Budi Oetomo. Tanggal pendirian Budi Utomo kini ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Budi Oetomo lahir dari gagasan Wahidin Soedirohoesodo dan Dr Soetomo yang menginginkan agar dibentuk suatu perkumpulan yang membantu membiayai pendidikan pemuda bumiputra yang pandai, tapi tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan.
Pada 1907, Wahidin Soedirohoesodo berkeliling Jawa untuk mewujudkan gagasannya tersebut. Dalam perjalanannya, Wahidin singgah di STOVIA dan gagasannya mendapat tanggapan positif dari para siswa. Gagasan Wahidin acap kali dijadikan bahan diskusi para siswa STOVIA, khususnya mengenai pendidikan bagi kaum bumiputra.
Diskusi yang semakin intens mendorong para siswa STOVIA tersebut mengadakan pertemuan untuk mendirikan suatu perkumpulan. Dalam pertemuan yang berlangsung pada 20 Mei 1908, Soetomo mengemukakan gagasan dan cita-citanya terkait dengan pendirian perkumpulan yang bergerak di bidang sosial, transpirasi dari gagasan Wahidin sebelumya.
Hasil dari pertemuan tersebut yakni berdirinya Budi Oetomo dengan Soetomo menjadi ketuanya. Kongres pertama Budi Oetomo diselenggarakan di Yogyakarta pada 4 dan 5 Oktober 1908 dan dihadiri pemuda dari berbagai daerah, pejabat keraton, para pejabat Belanda, dan para Bupati Temanggung, Blora, dan Magelang (Marihandono, 2013).
Dalam kongres tersebut, ditetapkan bahwa tujuan Budi Oetomo yakni kemajuan yang selaras (harmonis) buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan (kesenian dan ilmu).
Adapun sosok di balik peringatan hari nasional peringatan Kebangkitan Nasional digawangi Wahidin Soedirohoesodo, Soetomo, Douwes Dekker, dr Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantoro (Suwardi Suryoningrat).(Tka)
Baca juga:
Makna dan Logo Hari Kebangkitan Nasional Ke-116, Menuju Indonesia Emas