Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

2 Bibit Siklon Muncul di Selatan Jawa, Waspada Cuaca Ekstrem Hingga 10 Maret

Wisnu Cipto - Kamis, 05 Maret 2026

MerahPutih.com - Dua bibit siklon tropis baru terpantau muncul di selatan Pulau Jawa berpotensi memicu cuaca ekstrem di Provinsi Jawa Timur maupun wilayah Indonesia lainnya.

"Cuaca ekstrem disebabkan dua bibit siklon tropis berada di selatan Pulau Jawa, yakni bibit siklon 90 S mengarah ke timur dan bibit siklon 93 S mengarah ke barat," kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang Linda Fitrotul, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (5/3).

Baca juga:

Jalur Puncak Siaga Cuaca Ekstrem, Satlantas Bogor Beri Imbauan

Ancaman Cuaca Ekstrem Hingga 10 Maret

Menurut dia, kedua bibit siklon itu muncul akibat tekanan rendah dan perubahan iklim yang biasa terjadi pada rentang Februari dan Maret. BMKG memperkirakan kedua bibit siklon itu dapat memicu cuaca ekstrem akan terjadi hingga 10 Maret 2026.

Tiga daerah di Malang Raya, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu dalam beberapa hari ini mengalami berbagai kejadian bencana alam, seperti tanah longsor, banjir, hingga angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang.

Bibit siklon dapat menyebabkan kecepatan angin di atas 45 kilometer per jam dan hujan berintensitas deras yang terjadi tanpa bisa ditentukan waktunya.

Baca juga:

Bibit Siklon Tropis 91S Muncul di Dekat NTB, Pertanda Apa?

Gelombang Tinggi Perairan Selatan Jawa

Khusus di wilayah pesisir Jawa Timur, kedua bibit siklon itu dapat memicu terjadinya gelombang tinggi di kawasan perairan selatan Pulau Jawa.

"(Ketinggian gelombang) hingga lebih dari enam meter, cuaca ekstrem akibat siklon tropis ini merupakan hal yang wajar saat puncak musim hujan," imbau Linda, dilansir Antara.

Stasiun Klimatologi Karangploso Malang juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap waspada dan meningkatkan kehati-hatian terhadap potensi terjadinya cuaca ekstrem, khususnya ketika melaksanakan aktivitas di luar ruangan.

"Kalau di dataran tinggi hambatan hampir tidak ada, sehingga angin jauh lebih kencang. Lalu, bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan jangan berteduh di bawah pohon dan menjauhi papan reklame yang berpotensi rawan roboh," tandasnya. (*)

Baca Artikel Asli