Kesehatan

WHO Rekomendasikan Molnupiravir sebagai Obat Antivirus COVID-19 Gejala Ringan

Dwi AstariniDwi Astarini - Minggu, 13 Maret 2022
WHO Rekomendasikan Molnupiravir sebagai Obat Antivirus COVID-19 Gejala Ringan

WHO rekomendasikan terapi antivirus baru untuk COVID-19 gejala ringan. (foto: freepik/freepik)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pil antivirus molnupiravir untuk dikonsumsi pasien bergejala ringan, tapi berisiko tinggi dirawat di rumah sakit, seperti orang tua atau mereka yang tak divaksin.

Dalam situ resmi mereka, WHO telah memperbarui ketentuan terapi COVID-19 untuk memasukkan rekomendasi bersyarat bagi molnupiravir, obat antivirus baru.

Ini merupakan obat antivirus oral pertama yang dimasukkan ke pedoman pengobatan untuk COVID-19. Karena ini merupakan obat baru, hanya ada sedikit data keamanan. WHO merekomendasikan pemantauan aktif untuk keamanan obat, bersama dengan strategi lain untuk mengurangi potensi bahaya.

BACA JUGA:

Vaksinasi Booster Penting, tak Usah Pilih-Pilih Merek

Molnupiravir harus diberikan hanya kepada pasien COVID-19 yang tidak parah, tapi dengan risiko rawat inap tertinggi. Itu biasanya orang yang belum menerima vaksinasi COVID-19, orang tua, orang dengan defisiensi imun, dan orang yang hidup dengan penyakit kronis.

Pasien muda dan sehat, termasuk anak-anak, dan perempuan hamil dan menyusui tidak boleh diberikan obat ini karena berpotensi membahayakan kesehatan mereka.

covid-19
Obat baru ini diberikan kepada mereka yang bergejala ringan, tapi berpotensi dirawat inap. (foto: freepik/freepik)

Rekomendasi pil ini diambil berdasarkan hasil enam uji coba terkontrol secara acak yang melibatkan 4.796 pasien. Uji coba ini menunjukkan molnupiravir bakal mengurangi risiko untuk dirawat di rumah sakit karena COVID-19, dengan 43 rawat inap lebih sedikit per 1.000 pasien berisiko tinggi, serta mempercepat hilangnya gejala dengan rata-rata 3,4 hari.

Ada lebih sedikit indikasi bahwa hal itu berdampak pada kematian, dengan hanya enam kematian lebih sedikit per 1.000 pasien.

WHO mengakui masalah biaya dan ketersediaan yang terkait dengan molnupiravir dapat membuat akses ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menantang dan memperburuk ketidakadilan kesehatan.

Bersamaan dengan rekomendasi tentang molnupiravir, WHO juga merekomendasi agar obat ini hanya diberikan bila infeksi disebabkan varian lain.

Molnupiravir tidak tersedia secara luas, tetapi langkah-langkah telah diambil untuk meningkatkan akses, termasuk penandatanganan perjanjian lisensi sukarela . Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A) menyediakan pasokan terbatas untuk negara-negara dengan kendala akses.

WHO juga telah mengundang produsen untuk menyerahkan produk mereka untuk prakualifikasi, dengan sejumlah produsen molnupiravir sedang melalui penilaian sekarang. WHO mengevaluasi kualitas, keamanan, dan kemanjuran produk medis untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemasok besar lainnya ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.(DGS)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan