Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, WHO Sebut Risiko bagi Publik Rendah

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 06 Mei 2026
 Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, WHO Sebut Risiko bagi Publik Rendah

MV Hondius. (foto: Oceanwide Expedition)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pihaknya menduga terjadi penularan hantavirus yang jarang terjadi dari manusia ke manusia di antara kontak yang sangat dekat di atas kapal pesiar mewah, Selasa (5/5). Penyebaran itu membuat tujuh kasus terkonfirmasi atau dugaan.

Badan kesehatan PBB itu menyebut penularan hantavirus antarmanusia tidak umum terjadi. Oleh karena itu, mereka kembali menegaskan risiko bagi masyarakat luas tetap rendah karena penyakit ini biasanya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Orang biasanya terinfeksi hantavirus melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau melalui urin, kotoran, atau air liurnya.

Namun, penyebaran terbatas di antara kontak dekat pernah diamati dalam beberapa wabah sebelumnya. Varian Andes, yang menyebar di Amerika Selatan, termasuk Argentina, menurut WHO, mungkin terlibat dalam kasus ini. Pengujian masih berlangsung.

Namun, WHO mengatakan pihaknya mendapat informasi bahwa tidak ada tikus di atas kapal.

“Kami memang percaya bahwa mungkin ada penularan antarmanusia yang terjadi di antara kontak yang sangat dekat, seperti suami istri, orang-orang yang berbagi kabin,” kata Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, dikutip The Korea Times.

Wabah hantavirus ini awalnya terkuak saat seorang pria berusia 70 tahun dan seorang perempuan berusia 69 tahun yang merupakan pasangan asal Belanda jatuh sakit. Juru Bicara Kementerian Kesehatan Afrika Selatan Foster Mohale menyebut sang pria tiba-tiba jatuh sakit, dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare. Ia meninggal saat tiba di Pulau St Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan.

Sementara itu, perempuan tersebut juga jatuh sakit di atas kapal dan dievakuasi ke Afrika Selatan lalu meninggal di sebuah rumah sakit di Johannesburg.

“Korban ketiga yang meninggal juga warga Belanda. Upaya pemulangan jenazahnya sedang dilakukan, bersama seorang tamu yang memiliki hubungan dekat dengannya,” kata pihak Oceanwide Expeditions, operator MV Hondius, dikutip BBC.


Baca juga:

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Kasus Kedua Terkonfirmasi setelah 3 Meninggal Dunia



Fokus Evakuasi Penumpang





Van Kerkhove mengatakan fokus saat ini yakni mengevakuasi dua penumpang yang masih sakit di atas kapal, lalu kapal akan melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Canary.

“Kami telah mendengar dari cukup banyak orang di kapal. Kami ingin Anda tahu bahwa kami bekerja sama dengan operator kapal dan negara asal Anda. Kami mendengar Anda, kami tahu Anda takut,” katanya. Ia menambahkan mereka bekerja keras untuk membawa semua orang pulang dengan selamat.

Namun, kemudian pada hari yang sama, Kementerian Kesehatan Spanyol mengatakan kapal tersebut tidak perlu singgah di Kepulauan Canary jika semua orang yang sakit telah dievakuasi di Tanjung Verde, kecuali muncul kasus baru. Di lain sisi, WHO mengatakan asumsi kerjanya yakni pada kasus awal pasangan Belanda, yang naik kapal di Argentina setelah bepergian di negara tersebut, mereka sudah terinfeksi sebelum mengikuti pelayaran.

Kasus lain mungkin juga terinfeksi saat mengikuti tur pengamatan burung ke pulau-pulau yang menjadi habitat burung dan hewan pengerat sebagai bagian dari perjalanan tersebut.

MV Hondius berangkat dari Ushuaia di selatan Argentina pada Maret. Kapal pesiar yang terdampak wabah mematikan ini berlabuh di lepas pantai Tanjung Verde. Negara kepulauan di Atlantik lepas Afrika Barat itu seharusnya menjadi tujuan akhir kapal, tapi pihak berwenang setempat belum mengizinkan penumpang turun karena wabah tersebut.

“Dua awak kapal memerlukan perawatan medis segera. Sementara itu, seorang lainnya di atas kapal yang diduga terinfeksi hanya melaporkan demam ringan,” kata pihak Oceanwide Expeditions.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Belanda mengatakan sedang mempersiapkan evakuasi medis bagi tiga orang ke Belanda. Belum jelas kapan atau di mana hampir 150 orang lainnya yang masih berada di kapal akan turun.

MV Hondius membawa sebagian besar penumpang asal Inggris, Amerika, dan Spanyol dalam pelayaran mewah yang berangkat dari ujung selatan Argentina pada akhir Maret. Pelayaran ini mengunjungi Semenanjung Antarktika serta Pulau Georgia Selatan dan Tristan da Cunha, beberapa pulau paling terpencil di dunia. Perjalanan ini dipasarkan sebagai ekspedisi alam Antarktika, dengan harga kabin berkisar USD 16.000 hingga USD 25.000.

Penumpang pertama yang sakit, seorang pria Belanda, meninggal pada 11 April. “Jenazahnya tetap berada di kapal hingga 24 April, ketika diturunkan di St Helena, dengan istrinya mendampingi proses pemulangan,” kata Oceanwide Expeditions.

Istrinya, yang mengalami gejala gastrointestinal saat turun dari kapal, kemudian kondisinya memburuk selama penerbangan ke Johannesburg. Ia meninggal saat tiba di unit gawat darurat pada 26 April, menurut WHO, yang juga menambahkan bahwa pelacakan kontak sedang dilakukan terhadap penumpang dalam penerbangan tersebut.

Otoritas Afrika Selatan telah mengonfirmasi bahwa pasien asal Inggris yang dirawat di rumah sakit di Johannesburg positif hantavirus. Belanda juga mengonfirmasi virus tersebut pada perempuan Belanda yang meninggal.

“Institut Nasional Penyakit Menular Afrika Selatan sedang melakukan pengurutan genom virus tersebut, dengan hasil mungkin tersedia pada Rabu,” kata Van Kerkhove.

WHO mengatakan pada Desember 2025 bahwa Argentina masih mencatat jumlah kasus terbanyak di kawasan Amerika, dengan tingkat kematian sekitar 32 persen, lebih tinggi daripada rata-rata dan jika dibandingkan dengan varian virus lainnya.(dwi)

Baca juga:

3 Tewas dalam Pelayaran Kapal Pesiar Atlantik, Diduga Wabah Hantavirus

#Hantavirus #Kapal Pesiar #WHO
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).

Berita Terkait

Indonesia
[HOAKS atau FAKTA ] : WHO Anjurkan Konsumsi Ivermectin Tiap Hari untuk Cegah Hantavirus
Pencegahan utama hantavirus dilakukan dengan menghindari kontak dengan tikus, urine, kotoran, dan lingkungan yang terkontaminasi tikus.
Dwi Astarini - Senin, 25 Mei 2026
[HOAKS atau FAKTA ] : WHO Anjurkan Konsumsi Ivermectin Tiap Hari untuk Cegah Hantavirus
Dunia
WHO Tetapkan Status Darurat Wabah Ebola, CDC Larang Warga 3 Negara Afrika Masuk AS
CDC melarang sementara warga Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan masuk ke AS selama 30 hari akibat wabah Ebola
Wisnu Cipto - Jumat, 22 Mei 2026
WHO Tetapkan Status Darurat Wabah Ebola, CDC Larang Warga 3 Negara Afrika Masuk AS
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Hantavirus Adalah Rekayasa dan Bohongan
Beredar informasi yang menyebut Hantavirus adalah virus bohongan yang diambil dari bahasa Israel. Cek kebenaran informasinya.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 22 Mei 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Hantavirus Adalah Rekayasa dan Bohongan
Indonesia
Hantavirus masih Menyebar, Legislator Ingatkan Pemprov DKI untuk Waspada
Menurut dia, virus itu berpotensi menjadi pandemi seperti COVID-19 apabila tidak ditangani dengan baik.
Dwi Astarini - Kamis, 21 Mei 2026
 Hantavirus masih Menyebar, Legislator Ingatkan Pemprov DKI untuk Waspada
Dunia
Ebola Bunuh 134 Orang di Kongo, WHO Nyatakan Kekhawatiran atas Skala dan Kecepatan Penyebaran
Virus tersebut menyebar tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu setelah kematian pertama yang diketahui.
Dwi Astarini - Rabu, 20 Mei 2026
 Ebola Bunuh 134 Orang di Kongo, WHO Nyatakan Kekhawatiran atas Skala dan Kecepatan Penyebaran
Indonesia
Dinkes DKI Jakarta Temukan 3 Kasus Positif Hantavirus, 6 Suspek Masih Dipantau
Dinkes DKI Jakarta menemukan 3 kasus positif hantavirus dan 6 suspek. Masyarakat diminta waspada penularan virus dari tikus serta menjaga kebersihan lingkungan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 18 Mei 2026
Dinkes DKI Jakarta Temukan 3 Kasus Positif Hantavirus, 6 Suspek Masih Dipantau
Indonesia
Tim Pengawas Haji Ingatkan Pemerintah Pantau Kesehatan Jemaah Terkait Hantavrus
Timwas DPR meminta jemaah untuk menjaga kebersihan, menggunakan masker di tempat umum, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 17 Mei 2026
Tim Pengawas Haji Ingatkan Pemerintah Pantau Kesehatan Jemaah Terkait Hantavrus
Dunia
WHO Resmi Tetapkan Wabah Ebola Darurat Internasional
WHO telah mengirim tim ahli ke Uganda sejak Januari untuk membantu pemerintah setempat menangani wabah.
Wisnu Cipto - Minggu, 17 Mei 2026
WHO Resmi Tetapkan Wabah Ebola Darurat Internasional
Indonesia
Ancaman Virus Hanta Mengintai Wilayah Urban, DPR RI Desak Penguatan Edukasi
Meskipun Indonesia sedang gencar membangun infrastruktur seperti jalan tol dan gedung pencakar langit, risiko ancaman virus yang dibawa oleh tikus (rodensia) ini justru semakin tinggi
Angga Yudha Pratama - Jumat, 15 Mei 2026
Ancaman Virus Hanta Mengintai Wilayah Urban, DPR RI Desak Penguatan Edukasi
Dunia
Wabah Hantavirus di MV Hondius, Argentina akan Kirim Ahli untuk Selidiki Sumber
Pasangan asal Belanda yang diidentifikasi WHO sebagai penumpang pertama kapal pesiar terinfeksi hantavirus diketahui menghabiskan beberapa bulan di Argentina.
Dwi Astarini - Rabu, 13 Mei 2026
  Wabah Hantavirus di MV Hondius, Argentina akan Kirim Ahli untuk Selidiki Sumber
Bagikan