MerahPutih.com - Usman and The Blackstones (UATB) memperkenalkan single terbaru berjudul Woman pada Jumat (21/8). Lagu ini hadir sebagai bentuk penghormatan bagi perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan, tetapi kisah dan nama mereka kerap tersisih dari catatan sejarah.
Woman terinspirasi dari kisah Ita Martadinata Haryono, putri Wiwin Haryono. Ketika masih berstatus sebagai pelajar SMA, Ita bersama sang ibu aktif terlibat dalam kegiatan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) yang didampingi sejumlah tokoh, di antaranya Sandyawan Sumardi dan Karlina Supelli.
Mereka turut mendampingi para korban kekerasan dalam rangkaian tragedi Mei 1998.
Menjelang rencana Ita memberikan kesaksian di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ia ditemukan tewas di kediamannya. Hingga saat ini, kasus pembunuhan tersebut belum menemukan titik terang.
Baca juga:
Efek Rumah Kaca Gebrak Panggung Hari Buruh Internasional 2026 di depan Gedung DPR
'Woman' Jadi Cara UATB untuk Mengingat
Usman mengatakan proses pembuatan lagu tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kisah Ita. Draf lagu bahkan sempat dikirimkan kepada Wiwin Haryono.
Draf lagu pernah di kirim ke Bu Wiwin, yang bisa dibilang pertama kali untuk saya berinteraksi dengan ibunya alm. Ita Martadinata. Lagu ini adalah untuk Ita Martadinata, putrinya Bu Wiwin. Dia meminta agar lagunya indah. Ita dan mamanya ikut membantu TRuK sampai akhirnya Ita dibunuh menjelang bersaksi ke PBB. Saya menulis lagu ini karena ada terlalu banyak kisah perempuan seperti Ita yang dilewatkan begitu saja. 'Woman' adalah cara saya untuk berkata: kami tidak lupa,
Vokalis Usman and The Blackstones, Usman Hamid.
Tidak hanya menjadi tribut untuk Ita Martadinata dan para korban kekerasan Mei 1998, Woman juga menjadi refleksi terhadap berbagai peristiwa kekerasan yang kembali terjadi.
Lagu tersebut turut dikaitkan dengan kerusuhan Agustus 2025 serta dipersembahkan bagi perempuan-perempuan yang hingga kini masih berjuang, bertahan, dan menanti keadilan.
Menolak Pengingkaran Kekerasan Mei 1998
UATB juga menempatkan lagu ini sebagai bentuk penolakan terhadap upaya mengingkari fakta mengenai kekerasan seksual massal yang terjadi pada Mei 1998.
Isu tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari proses hukum yang terus berjalan di tingkat Mahkamah Agung.
Melalui Woman, UATB tidak hanya mengangkat kisah personal Ita Martadinata, tetapi juga berusaha mempertahankan ingatan terhadap perempuan-perempuan yang kisahnya dinilai kerap terpinggirkan atau terlupakan.
Baca juga:
Lorjhu’ Padukan Kejhung Madura dan Groovy Rock dalam Single 'Kejhung Sanolap'
Padukan Unsur Pop dan Folk
Dari sisi musikal, arranger Kelana Halim membawa elemen pop dan folk ke dalam karakter musik UATB yang lugas dan tegas. Aransemen tersebut turut diperkuat permainan cello dari Setyawan.
Woman juga melibatkan Louise Mercy sebagai additional vocal sekaligus co-producer. Keterlibatannya memberikan perspektif dan sentuhan perempuan dalam proses penggarapan lagu.
Single Woman dari Usman and The Blackstones mulai tersedia sejak Jumat (21/8) di berbagai layanan streaming musik.
Melalui karya ini, UATB kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan musik sebagai ruang dalam mengingat serta menyuarakan kisah-kisah yang kerap terpinggirkan atau terlupakan dalam perjalanan sejarah. (Far)