Urang Awak yang Dewasa Berdemokrasi Usai Pilpres 2019

Zaimul Haq Elfan HabibZaimul Haq Elfan Habib - Senin, 01 Juli 2019
Urang Awak yang Dewasa Berdemokrasi Usai Pilpres 2019

Jokowi dan Ma'ruf Amin. (Antaranews)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Kendati Prabowo Subianto menang telak di Sumatera Barat pada Pemilu Presiden 2019 dengan perolehan suara 85,95 persen atau 2.488.733 suara, nyaris tak ada riak yang berarti di daerah itu usai KPU pusat menetapkan presiden terpilih.

Agaknya, peribahasa "Biduak lalu kiambang bertaut" (Perahu lewat, tanaman air kembali menyatu), yang artinya dua pihak yang berseteru kembali bersatu terpampang nyata dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Sama seperti perkiraan berbagai pihak dan hasil survei, pada Pemilu Presiden 2019 Prabowo kembali unggul di Ranah Minang, mengulang kemenangan yang sama saat Pilpres 2014.

Jika pada Pilpres 2014 Prabowo yang ketika itu berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh 76 persen suara mengalahkan Jokowi-Jusuf Kalla yang hanya mendapatkan 24 persen suara, pada Pemilu 2019 persentase kemenangan mantan Danjen Kopasus tersebut meningkat menjadi 85,95 persen.

Saat itu, muncul pandangan bahwa Sumatera Barat akan diperlakukan sebagai anak tiri oleh pemerintah pusat. Akan tetapi, semua pandangan miring tersebut tak terbukti nyata karena tak kurang dari lima kali Jokowi bertandang ke Ranah Minang.

Kampanye terbuka capres nomor urut 02, Prabowo Subianto di Padang, Sumatera Barat, Selasa (2/4). (Foto: BPN)
Kampanye terbuka capres nomor urut 02, Prabowo Subianto di Padang, Sumatera Barat, Selasa (2/4). (Foto: BPN)

Baca Juga: Pakar Bongkar Biang Keladi Koalisi Jokowi-Ma'ruf Kalah Telak di Sumbar

Buktinya, pada 8-10 Oktober 2015, Jokowi dalam kapasitas sebagai kepala negara untuk pertama kalinya datang ke Sumbar, mengunjungi sejumlah lokasi, mulai dari Istana Bung Hatta Bukittinggi, peternakan sapi Padang Mengatas, Kawasan Wisata Bahari Terpadu Mandeh, hingga meninjau pembangunan Rail Bus di kawasan Bandara Internasional Minangkabau.

Pada April 2016, Jokowi kedua kalinya datang ke Padang dalam rangka pembukaan latihan multilateral angkatan laut Komodo 2016.

Usai dilantik sebagai presiden, Jokowi juga punya tradisi baru selaku kepala negara, yaitu merayakan Idul Fitri di daerah bersama rakyat dan Padang menjadi kota kedua yang dipilih Presiden untuk merayakan Lebaran pada 2016 setelah pada 2015, mantan Wali Kota Solo dua periode itu berlebaran di Aceh.

Pada 7-9 Februari 2018, Jokowi kembali bertandang ke Ranah Minang, menghadiri puncak Hari Pers Nasional dan serangkaian kegiatan lain, sedangkan pada 21 Mei 2018, Presiden kembali ke Sumbar dalam rangka membagikan sertifikat tanah wakaf dan peresmian kereta Bandara Minangkabau.

Urang Awak yang Dewasa Berdemokrasi

Pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Edi Indrizal menilai dua kali perhelatan pilpres, sejak 2014, membuat warga Sumbar kian dewasa berdemokrasi.

"Kendati presiden terpilih bukan pilihan mayoritas warga, namun nyaris tak ada gejolak di level akar rumput dan orang Minang dengan cepat dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri," kata dia seperti diberitakan Antara.

Usai Pilpres 2019, gesekan diamati dia, hanya terasa di tingkat elite karena mereka sebagai pihak yang berkepentingan secara langsung dalam kursi kekuasaan politik. "Kalau masyarakat bawah, biasa saja tak ada masalah," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia menilai tak relevan jika ada yang mewacanakan rekonsiliasi atau perlu perlakuan khusus oleh presiden terpilih terhadap Sumatera Barat.

"Saya rasa tidak perlu karena secara historis waktu Pilpres 2014 juga terjadi hal yang sama dan semua berjalan dengan baik," kata dia.

Hal serupa digaungkan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Ia mengajak semua pihak, terutama masyarakat provinsi itu, untuk menerima hasil keputusan Mahkamah Konstitusi dan kembali bersatu mendukung presiden terpilih.

Baca Juga: Jokowi Kalah Telak di Sumbar, Pengamat Ungkap Sejumlah Faktor

Sidang MK yang sudah selesai, disebut dia, bahwa hal itu artinya proses pemilu sudah masuk babak akhir. Semua pihak harus menghargai apapun hasil pesta demokrasi itu.

Segala perbedaan yang terjadi selama proses pemilu, ucap dia, harus ditinggalkan di belakang agar ke depan Indonesia bisa lebih maju dan bersaing dengan negara-negara maju di dunia.

"Mayoritas masyarakat Sumbar adalah pemilih Prabowo-Sandiaga Uno. Tetapi setelah ini, semua harus bersatu kembali demi Indonesia yang lebih baik," katanya.

Demikian juga pandangan Rektor Unand, Tadil Husni. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat kembali bersatu usai pelaksanaan Pemilu Presiden 2019. "Saatnya kembali bersatu dan jangan ada lagi friksi di tengah masyarakat usai pilpres ini," kata dia.

Sudah saatnya sekarang masyarakat bersatu dan mendukung pelaksanaan pembangunan karena perpecahan akan membuat pembangunan menjadi sulit berjalan secara baik.

"Lihat saja contoh yang sudah ada, negara-negara yang berpecah sulit membangun, dasar utama kesuksesan pembangunan adalah kekompakan," katanya.

Ia menekankan bahwa persatuan menjadi hal utama dan penting untuk kelangsungan pembangunan.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, Shofwan Karim melihat bahwa pada dasarnya masyarakat Sumbar bisa menerima hasil Pilpres 2019.

Kalau pun ada perbedaan pendapat saat pilpres, hal itu sebagai dinamika demokrasi. sedangkan saat ini hal yang perlu dilakukan adalah bersama-sama merajut persatuan dalam bingkai NKRI.

Ia menyampaikan bukan saatnya lagi bicara calon presiden 01 atau 02 karena Jokowi adalah Presiden Republik Indonesia.

"Ketika sudah dilantik maka tidak ada lagi daerah basis atau bukan. Semua sama, yaitu wilayah NKRI yang harus mendapatkan porsi pembangunan yang sama," katanya.

Ia berharap, presiden terpilih melanjutkan pembangunan di Sumatera Barat, terutama sektor infrastruktur, pariwisata, dan pendidikan.

Salah satunya, ucapnya, pembangunan jalan tol Padang-Pekanbaru perlu dituntaskan, kemudian pembenahan objek wisata, termasuk infrastrukturnya, sehingga ekonomi masyarakat menjadi hidup.

Ia juga berharap, pemerintah pusat mengoptimalkan pembangunan sumber daya manusia dengan pembangunan pesantren.

Sumbar yang dikenal sebagai pesantren dengan sistem modern, perlu lebih diperhatikan pengembangannya agar lahir SDM berkualitas. (*)

Baca Juga: Kunjungan Jokowi ke Sumbar Batal

#Joko Widodo #Pilpres 2019 #Minangkabau
Bagikan
Ditulis Oleh

Zaimul Haq Elfan Habib

Low Profile

Berita Terkait

Indonesia
Sekjen PDIP: Tantangan Pemerintahan Prabowo Warisan Era Jokowi
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menilai tantangan yang dihadapi Presiden Prabowo Subianto merupakan warisan dari pemerintahan Jokowi.
Wisnu Cipto - Senin, 01 Juni 2026
Sekjen PDIP: Tantangan Pemerintahan Prabowo Warisan Era Jokowi
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Dinobatkan Jadi Alumni Terbaik UGM
Beredar informasi yang menyebut Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dinobatkan sebagai lulusan terbaik UGM. Cek kebenaran informasinya.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 27 Mei 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Dinobatkan Jadi Alumni Terbaik UGM
Berita Foto
Kasus Dugaan Ujaran Kebencian, Ikatan Keluarga Minang Laporkan Abu Janda ke Bareskrim Polri
Sekjen DPP IKM B Moulevey Rajo Mudo melaporkan Permadi Arya ke Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 26 Mei 2026
Kasus Dugaan Ujaran Kebencian, Ikatan Keluarga Minang Laporkan Abu Janda ke Bareskrim Polri
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Pembuat Ijazah Jokowi Buat Pengakuan soal Adanya Modifikasi
Beredar informasi yang menyebut, pembuat ijazah Jokowi muncul ke publik dan membuat pengakuan.
Frengky Aruan - Sabtu, 09 Mei 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Pembuat Ijazah Jokowi Buat Pengakuan soal Adanya Modifikasi
Indonesia
Kabar Jokowi 'Caplok' Partai NasDem, Jubir PSI Bestari: Tidak Benar, Coba Bentuk Opini Publik Negatif
Jubir PSI yang merupakan mantan kader NasDem heran Jokowi selalu disebut-sebut.
Frengky Aruan - Senin, 13 April 2026
Kabar Jokowi 'Caplok' Partai NasDem, Jubir PSI Bestari: Tidak Benar, Coba Bentuk Opini Publik Negatif
Indonesia
Bantah Isu Ambil Alih NasDem, Jokowi: Jangan Menuduh yang Tidak Benar
Jokowi membantah isu ingin mengambil alih Partai NasDem dan NasDem Tower. Ia menegaskan tudingan tersebut tidak benar dan tidak masuk akal.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 April 2026
Bantah Isu Ambil Alih NasDem, Jokowi: Jangan Menuduh yang Tidak Benar
Indonesia
Rismon Sianipar Harus Memohon Langsung ke Jokowi, Restorative Justice-nya Masih Dikaji
Polda Metro Jaya mengungkapkan syarat utama yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak, sehingga restorative justice Rismon Sianipar bisa terpenuhi
Frengky Aruan - Minggu, 12 April 2026
Rismon Sianipar Harus Memohon Langsung ke Jokowi, Restorative Justice-nya Masih Dikaji
Indonesia
Jokowi Bantah Kasih Rp 50 Miliar untuk Restorative Justice, Sebut tak Masuk Akal
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, membantah isu memberikan Rp 50 miliar untuk restorative justice. Ia mengatakan, hal tersebut tak masuk akal.
Soffi Amira - Sabtu, 11 April 2026
Jokowi Bantah Kasih Rp 50 Miliar untuk Restorative Justice, Sebut tak Masuk Akal
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Buang Anggaran, Jokowi Tidak Setuju Program Koperasi Merah Putih
Jokowi melarang Purbaya membangun program Koperasi Merah Putih karena lebih baik anggarannya diberikan kepada rakyat.
Frengky Aruan - Rabu, 08 April 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Buang Anggaran, Jokowi Tidak Setuju Program Koperasi Merah Putih
Indonesia
Jokowi Angkat Bicara Soal Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon Akibat Serangan Israel
Dalam situasi normal, perjalanan udara Beirut menuju Jakarta memakan waktu minimal 17 jam
Angga Yudha Pratama - Jumat, 03 April 2026
Jokowi Angkat Bicara Soal Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon Akibat Serangan Israel
Bagikan