Unjuk Rasa Pelajar Prancis, Korban Berjatuhan dengan Cacat Permanen Jadi Bukti Tindakan Brutal Kepolisian

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
 Unjuk Rasa Pelajar Prancis, Korban Berjatuhan dengan Cacat Permanen Jadi Bukti Tindakan Brutal Kepolisian

Remaja Bangkit Lebih Menantang.(foto: Instagram @ab7_media)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — POLISI Prancis menghadapi sorotan tajam akibat cara mereka menangani unjuk rasa para pelajar di berbagai daerah. Beberapa remaja dilaporkan mengalami cedera parah setelah terkena granat. Para polisi bahkan disebut menggunakan kekerasan saat menangkap para demonstran muda tersebut.

Seperti dilansir The Korea Times, seorang remaja 14 tahun dilaporkan mengalami kehancuran rahang dan kehilangan banyak gigi akibat serangan granat gas air mata. Petugas yang menembakkannya ditahan seminggu kemudian dan didakwa atas tindakan penganiayaan berat hingga menyebabkan cacat. Ia diancam hukuman hingga 15 tahun penjara.

“Setelah menjalani operasi, anakku tidak dapat berbicara dan hanya bisa makan menggunakan sedotan,” kata ibunya.

Beberapa remaja lainnya juga mengalami cedera yang mengubah hidup mereka. Dilaporkan, cedera itu disebabkan penggunaan senjata polisi selama unjuk rasa skala nasional oleh para siswa SMA yang menuntut penambahan dana untuk sekolah-sekolah yang terbengkalai. Di bekas kota pertambangan Lens, seorang remaja 15 tahun kehilangan tangannya dalam sebuah insiden yang melibatkan granat kejut (stun grenade) milik polisi. Di Tours, di wilayah penghasil anggur Loire, jaksa setempat menyatakan peluru kendali kerusuhan (riot-control round) milik polisi diduga menjadi penyebab kebutaan parsial pada seorang remaja 16 tahun.

Tak semata-mata menimbulkan luka fisik, kebrutalan tindakan polisi itu memberikan pelajaran langsung tentang kekuasaan negara dan hak-hak sebagai warga negara kepada generasi pelajar Prancis—yang kelak menjadi pemilih—serta bagaimana kedua hal tersebut terkadang bentrok.

“Hal ini mempolitisasi Anda dengan kecepatan yang luar biasa. Bagi banyak dari mereka—bahkan bagi mereka semua—ini merupakan salah satu pengalaman pertama ikut serta dalam demonstrasi, berkumpul di ruang publik untuk menyuarakan tuntutan yang mereka anggap sah,” kata Alexis Baudelin, seorang pengacara di Paris yang menangani lebih dari belasan anak muda yang ditahan.

Baca juga:

Demo Pelajar di Prancis Rusuh, Pemerintah Tutup Ratusan SMA



Polisi Menangkapi Ribuan Anak Muda




Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, polisi telah menangkap lebih dari 6.500 orang, yang sebagian besar ialah anak muda, sejak unjuk rasa mulai membesar minggu lalu. Di antara jumlah itu, sebanyak 488 orang ditahan selama demonstrasi nasional pada Selasa. Gerakan yang menuntut peningkatan anggaran dan penambahan guru pengganti di sekolah ini dimulai di sebuah SMA di wilayah Paris pada pertengahan September.

Para pengacara dan peneliti yang mempelajari tindakan kepolisian Prancis memperingatkan respons yang keras ini dapat memicu kekecewaan di kalangan orang dewasa muda terhadap Republik beserta janjinya tentang ‘kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan’ (liberty, equality, dan fraternity). Polisi dinilai kurang menaruh toleransi kepada para demonstran remaja ketimbang saat menghadapi para petani ketika mereka menyiram gedung-gedung pemerintah dengan pupuk kandang, memblokade jalan, dan membakar barang-barang.

Baudelin, sang pengacara, mengatakan klien-klien mudanya telah mendapat 'kursus kilat' mengenai ‘kekerasan tak terkendali dari pihak kepolisian’.

Sang pengacara mengatakan kliennya dikunci selama berjam-jam tanpa membawa apa pun di sel yang sebagian besar sangat tidak higienis, di kantor polisi yang berbau menyengat, tempat mereka tidak bisa tidur, sembari diancam petugas polisi bahwa jika mereka tidak berbicara atau tidak mengatakan yang sebenarnya, hidup mereka akan hancur.

“Ini menjadi pengalaman yang bisa sangat traumatis dan sepenuhnya tidak proporsional,” imbuh Baudelin.


Remaja Bangkit Lebih Menantang




Meski dihantam secara brutal oleh pihak kepolisian, para remaja yang berdemo tak mundur. Dalam sebuah kerumunan demonstran di Paris pada awal minggu ini, tiga remaja Paris mengaku baru kembali dari penangkapan. Mereka mengaku sempat ditangkap, diborgol, digeledah, dan ditahan dalam penangkapan minggu lalu, namun kemudian dibebaskan tanpa tuduhan kriminal.

Samy dan Warkya, keduanya berusia 17 tahun, mengatakan mereka ditahan bersama seorang teman lainnya. Mereka percaya polisi mengincar mereka karena warna kulit mereka. Warkya dan temannya ialah warga kulit hitam, sedangkan Samy mengidentifikasikan dirinya sebagai keturunan Arab. Pejabat Prancis telah berulang kali membantah adanya rasialisme di tubuh kepolisian. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyatakan di parlemen minggu ini bahwa tuduhan semacam itu merupakan kebohongan.

Samy bercerit yang menghentikan mereka berkata, ‘kamu, kamu, dan kamu, ikut kami’. Tidak ada alasan yang jelas karena ia mengaku tidak memakai penutup kepala (hoodie), tidak membawa apa-apa. “Wajah kami terlihat jelas,” katanya.

“Di sini, di Prancis, mereka tidak mendengarkan kami. Mereka lebih memilih mengirim polisi daripada mendengarkan kami dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari kami,” ujarnya.

Warkya mengatakan pengalaman pertamanya ditahan polisi justru semakin memperkuat tekadnya untuk melakukan protes, sekaligus mengajarinya untuk segera berlari begitu petugas muncul.

“Polisi jauh lebih kuat daripada kami. Tidak ada yang bisa kami lakukan,” katanya.(dwi)

Baca juga:

Unjuk Rasa Pelajar di Prancis Berujung Ricuh, Hampir 80 Orang Terluka

#Prancis #Demonstrasi #Pelajar
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Unjuk Rasa Pelajar Prancis, Korban Berjatuhan dengan Cacat Permanen Jadi Bukti Tindakan Brutal Kepolisian
Beberapa remaja lainnya juga mengalami cedera yang mengubah hidup mereka.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
 Unjuk Rasa Pelajar Prancis, Korban Berjatuhan dengan Cacat Permanen Jadi Bukti Tindakan Brutal Kepolisian
Dunia
Pencurian Museum Renoir, 5 Orang Ditangkap dan Diduga Bagian Jaringan Kejahatan Terorganisasi
Dua terduga pelaku pembobolan dikatakan berada di antara mereka yang ditangkap.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
Pencurian Museum Renoir, 5 Orang Ditangkap dan Diduga Bagian Jaringan Kejahatan Terorganisasi
Indonesia
Ada Demo 6-8 Oktober 2026 di Gedung MPR/DPR, Pengendara Diminta Hindari Jalan Gatot Subroto
Demo di Gedung MPR/DPR akan berlangsung 6-8 Oktober 2026. Polisi pun menyiapkan sejumlah jalan alternatif.
Soffi Amira - Selasa, 06 Oktober 2026
Ada Demo 6-8 Oktober 2026 di Gedung MPR/DPR, Pengendara Diminta Hindari Jalan Gatot Subroto
Dunia
Demo Pelajar di Prancis Rusuh, Pemerintah Tutup Ratusan SMA
Para siswa mengatakan jam sekolah terlalu panjang, fasilitas tidak memadai, termasuk ruang kelas yang terlalu panas, dan terlalu banyak ketidakhadiran pengajar.
Dwi Astarini - Sabtu, 03 Oktober 2026
 Demo Pelajar di Prancis Rusuh, Pemerintah Tutup Ratusan SMA
Dunia
Unjuk Rasa Pelajar di Prancis Berujung Ricuh, Hampir 80 Orang Terluka
Sejumlah siswa sekolah menengah di Prancis menggelar aksi protes selama sepekan untuk menentang jadwal yang terlalu padat, kekurangan guru, dan beberapa isu pendidikan lainnya.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Unjuk Rasa Pelajar di Prancis Berujung Ricuh, Hampir 80 Orang Terluka
Indonesia
Transjakarta Rekayasa Sejumlah Rute Imbas Demo DPR 29 September 2026, ini Daftarnya
Transjakarta menyesuaikan rute perjalanan imbas demo DPR, Selasa (29/9). Berikut daftar rute yang dialihkan sementara.
Soffi Amira - Selasa, 29 September 2026
Transjakarta Rekayasa Sejumlah Rute Imbas Demo DPR 29 September 2026, ini Daftarnya
Indonesia
73 Demo Warnai Jakarta Hari Ini, 26.386 Personel Dikerahkan Buat Pengamanan
Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat agar mencari rute alternatif guna menghindari kepadatan di area unjuk rasa.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
73 Demo Warnai Jakarta Hari Ini, 26.386 Personel Dikerahkan Buat Pengamanan
Indonesia
Prancis sebut Indonesia ‘Pusat Gravitasi’ Penting di Kawasan Indo Pasifik
Misi Pegase 2026 merupakan rangkaian penerbangan jelajah dunia yang membentang dari Arktik, Asia-Pasifik, hingga Timur Tengah.
Dwi Astarini - Selasa, 22 September 2026
Prancis sebut Indonesia ‘Pusat Gravitasi’ Penting di Kawasan Indo Pasifik
Indonesia
Tentara Prancis Mendarat di Jakarta, Bawa Rafale dan A400M untuk Misi Pégase 2026 hingga Misi Keamanan Kawasan
Latihan ini menjadi bagian dari penguatan kerja sama pertahanan kedua negara di kawasan Indo-Pasifik.
Dwi Astarini - Selasa, 22 September 2026
Tentara Prancis Mendarat di Jakarta, Bawa Rafale dan A400M untuk Misi Pégase 2026 hingga Misi Keamanan Kawasan
Indonesia
Atasi Krisis BBM, Prancis Minta Uni Eropa Longgarkan Standar Kualitas
Para pengemudi di Prancis sengaja melanggar aturan dengan mengisi kendaraan mereka dengan bahan bakar khusus mesin pertanian akibat tingginya harga bahan bakar biasa.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Atasi Krisis BBM, Prancis Minta Uni Eropa Longgarkan Standar Kualitas
Bagikan