MerahPutih.com - Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur dalam serangan itu.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah dan dikabarkan merusak berbagai fasilitas serta korban jiwa dari kalangan tantara AS.
Sementara iti, para penasihat Donald Trump dikabarkan berupaya membujuk Presiden AS itu untuk segera mendeklarasikan kemenangan atas Iran.
Trump berharap kemajuan awal dalam operasi militer terhadap Iran bisa meningkatkan dukungan publik. Namun, para pembantunya mendesak dia untuk mempercepat operasi dan menyatakan kemenangan segera setelah memungkinkan.
Baca juga:
Imbas Serangan ke Iran, Gerakan Rakyat Desak Pembatalan Perjanjian Tarif Trump
Dikutip dari Antara, para penasihatnya khawatir aksi militer yang berkepanjangan terhadap Iran dapat menimbulkan risiko politik bagi pemimpin AS itu.
Dalam laporan CNN disebiut, perang tersebut bahkan memicu perpecahan di dalam gerakan MAGA yang dipimpin Trump.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud membahas situasi di Iran serta respons Riyadh atas serangan terhadap Kedutaan Besar AS.
“Menteri menyampaikan rasa terima kasih kepada Menteri Luar Negeri atas respons Arab Saudi terhadap serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott pada Rabu (4/3).
Kedua pihak, tambahnya, juga membahas ancaman dari Iran serta perkembangan lain di kawasan.
Kementerian Pertahanan Saudi pada Selasa (3/3) menyatakan bahwa dua drone telah menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh, yang memicu kebakaran kecil dan menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan tersebut.

