MerahPutih.com - Operasional Whoosh kini memasuki babak baru. Pengelolaan kereta cepat pertama di Asia Tenggara itu resmi dijalankan sepenuhnya oleh sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Sebanyak 574 personel telah menuntaskan proses handover atau perpindahan pengelolaan dari teknisi ahli asal China. Penguatan juga datang dari KAI Group untuk memastikan transisi berjalan mulus.
Vice President Corporate Communication Kereta Api Indonesia (KAI), Anne Purba, menyatakan bahwa tahun ini operasional Whoosh telah sepenuhnya ditangani tenaga lokal.
“Pada tahun ini operasional Whoosh dapat dijalankan 100 persen oleh tenaga lokal,” kata Anne dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (24/2).
Baca juga:
Libur Imlek Penumpang Whoosh Melonjak 25%, Tiap Hari 24-25 Ribu Orang
Dari total 574 personel tersebut:
- 144 orang bertugas pada fungsi operasional
- 66 masinis
- 31 petugas pusat kendali operasi (mengatur perjalanan real time)
- 80 personel menangani perawatan sarana dan memastikan keandalan rangkaian kereta setiap hari
- 350 personel lainnya menjaga kesiapan prasarana seperti jalur, jembatan, terowongan, sistem kelistrikan, persinyalan, dan komunikasi
Seluruh elemen ini memastikan perjalanan berlangsung aman, stabil, dan tepat waktu.
Dalam fase pengalihan, KAI Group menugaskan 191 pegawai perbantuan yang terdiri atas:
- 154 pegawai KAI Induk
- 37 pegawai KAI Commuter
Penempatan ini bertujuan memperkuat alih kompetensi, menjaga disiplin keselamatan, serta memastikan standar operasional tetap konsisten selama masa transisi.
Anne menegaskan, momentum ini menunjukkan penguasaan teknologi dan tata kelola modern Indonesia terus berkembang.
“Momentum ini memperlihatkan bahwa penguasaan teknologi dan tata kelola modern terus berkembang seiring peningkatan kualitas SDM nasional serta penyerapan tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Baca juga:
Proses transfer knowledge untuk masinis Whoosh juga berjalan lebih cepat dari rencana awal.
Jika di China proses serupa bisa memakan waktu hingga tiga tahun, pengoperasian Whoosh berhasil menyelesaikan tahapan tersebut dalam waktu sekitar 1,5 tahun.
Percepatan ini dimungkinkan karena para masinis merupakan masinis KAI berpengalaman, dengan jam terbang minimal 3.000 jam atau setara 100 ribu kilometer perjalanan kereta konvensional.
Capaian ini menjadi bagian penting dalam sejarah transportasi Indonesia. Selain menandai kemandirian operasional, keberhasilan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan kereta cepat secara mandiri.
“Keberhasilan ini memperkuat arah pengembangan KAI sebagai operator berstandar global,” tutup Anne. (Knu)