MerahPutih.com - Suasana hangat terasa di lantai dua RM Sinar Gakong, Jakarta Selatan, saat The Jansen menggelar sesi dengar album terbaru mereka, Romantisasi Impulsif, pada Selasa (21/7).
Acara tersebut menghadirkan konsep berbeda karena para tamu tidak hanya diajak menikmati musik, tetapi juga menyantap hidangan dalam suasana santai.
Sebanyak 12 lagu yang mengisi Romantisasi Impulsif diperdengarkan secara penuh kepada para undangan. Selama sesi berlangsung, mereka juga menikmati menu hasil kolaborasi The Jansen dengan RM Sinar Gakong yang menghadirkan saus mala sebagai ciri khasnya.
Perpaduan musik dan kuliner tersebut menciptakan pengalaman yang lebih intim, sekaligus memberi gambaran utuh mengenai karya terbaru band asal Bogor itu.
Baca juga:
Penutup trilogi perjalanan kreatif The Jansen
Kini hanya diperkuat oleh Cintarama Bani Satria (Tata) dan Adji Pamungkas, The Jansen resmi memperkenalkan album kelima mereka yang sekaligus menjadi penutup trilogi setelah Banal Semakin Binal (2022) dan Durja Bersahaja (2024).
Album Romantisasi Impulsif memuat 12 lagu yang dirancang sebagai akhir dari rangkaian cerita yang telah dibangun selama beberapa tahun terakhir.
Konsep album ini berangkat dari tiga kata sederhana, yakni jika, bila, dan andai, yang menjadi benang merah di setiap lagu. Lewat berbagai pertanyaan dan pengandaian tersebut, The Jansen mengajak pendengar merenungkan beragam kemungkinan dalam kehidupan, mulai dari impian akan masa depan, realitas sosial, hingga harapan yang kerap berbenturan dengan kenyataan.
Kisah Johan dan Marni menjadi pusat narasi
Dalam album ini, The Jansen menyusun alur cerita layaknya sebuah film yang memiliki pembukaan, konflik, titik klimaks, momen hening, hingga penutup.
Seluruh cerita berpusat pada dua tokoh fiktif, Johan dan Marni. Johan digambarkan sebagai anak dari keluarga berada yang kemudian jatuh miskin, sedangkan Marni telah lama hidup dalam keterbatasan ekonomi. Hubungan keduanya tumbuh di tengah situasi yang tidak pernah berpihak kepada mereka.
Alih-alih menghadirkan kisah cinta yang melodramatis, Romantisasi Impulsif menampilkan realitas hubungan dua insan yang harus menghadapi tekanan sosial dan ekonomi.
Kemiskinan memang menjadi bagian dari perjalanan mereka. Namun, persoalan yang lebih besar justru datang dari sistem yang dianggap semakin mempersempit ruang hidup masyarakat kecil.
Kebijakan publik, birokrasi, hingga berbagai ketimpangan sosial menjadi penghalang yang memisahkan Johan dan Marni, sekaligus menjadi kritik sosial yang disisipkan The Jansen sepanjang album.
Di tengah berbagai keterbatasan, Johan dan Marni tidak hanya digambarkan sebagai pasangan yang saling menguatkan.
Mereka juga memilih melawan keadaan dan sistem yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil. Kisah cinta keduanya hadir sebagai simbol perlawanan, meski tak pernah menjadi bagian dari narasi besar yang sering digaungkan dalam ruang-ruang resmi.
Baca juga:
Romantisasi Impulsif Layak diadaptasi menjadi film
Di balik konsep tersebut, Adji Pamungkas melihat potensi Romantisasi Impulsif untuk berkembang ke medium lain.
"Kami pengin ngasih penawaran lain atas pembacaan album," ujarnya. "Kalau album ini bisa kok dijadikan film," sambungnya.
Menurut Adji, seluruh lagu dalam album ini telah memiliki struktur cerita yang lengkap, mulai dari karakter, konflik, hingga penyelesaiannya.
Dengan latar sosial dan politik yang menjadi fondasi kisah Johan dan Marni, ia menilai Romantisasi Impulsif memiliki seluruh elemen yang dibutuhkan untuk diadaptasi menjadi film layar lebar.
Melalui Banal, Durja, hingga Romantisasi, The Jansen akhirnya menuntaskan trilogi yang telah mereka bangun selama beberapa tahun terakhir.
Romantisasi Impulsif menjadi penanda berakhirnya satu fase penting dalam perjalanan kreatif mereka. Meski demikian, berakhirnya trilogi bukan berarti menjadi akhir langkah The Jansen.
Untuk saat ini, mereka belum memiliki gambaran pasti mengenai arah karya berikutnya. Namun, justru ketidakpastian itulah yang mereka nikmati karena membuka ruang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam perjalanan bermusik mereka. (Far)

