INDUSTRI musik di Indonesia sepertinya masih cukup menjanjikan. Terbukti setiap tahunnya ada saja lagu baru dari musisi berbeda yang meledak di pasaran.
Namun, peluang di industri musik bukan hanya dilirik oleh label papan atas, melainkan juga para musisi indie. Perlahan tapi pasti, musisi-musisi indie ini merangkak naik dan mampu bersaing dengan musisi yang dinaungi pihak label.
Arhandi atau akrab disapa Aang Bhotax, Divisi Promo & Artist Management dari Mans Entertainment, mengatakan bahwa berkembangnya musisi indie seperti sekarang tidak lepas dari kreativitas musisi dan timnya. Menurutnya, band atau musisi indie justru lebih cerdas dalam mengelola media sosial sebagai sarana promosi.
"Anak-anak indie sekarang lebih kreatif untuk membuat suatu konsep, untuk dibuat ke digital. Mereka wawasannya lebih terbuka," katanya kepada Merahputih.com di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (24/8).
Aang Bhotax pun memahami alasan di balik itu. Menurutnya, keahlian para musisi indie dalam mengelola media sosial tak lepas dari keterbatasan mereka untuk terjun di industri musik.
"Ini dipicu karena mereka tidak bisa masuk ke industri, makanya mereka bikin kanal sendiri di YouTube. Bahkan mungkin mereka enggak bercita-cita jadi artis, cuma iseng aja, tiba-tiba ada yang nawarin, enggak pakai demo segala macam," ujar Aang Bhotax.
Perkembangan teknologi memungkinkan musisi indie untuk tetap bersaing, memberi mereka kesempatan untuk berkembang. Beberapa bahkan telah memiliki fan base tersendiri, yang tentunya dapat membantu untuk mempromosikan musik mereka. (*)
Selain artikel ini Anda juga bisa baca: Media Sosial, Senjata Ampuh Label Untuk Promosi Artis.

