MerahPutih.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan hari ini, berada di level Rp17.668 per dolar AS. Angka ini turun dari posisi sebelumnya Rp 17.597 per dolar AS, seiring meningkatnya tekanan global dan domestik.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya risiko inflasi di Amerika Serikat akibat kenaikan harga minyak dunia.
“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi,” kata Ibrahim, dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (18/5).
Baca juga:
Rupiah Rp 17.630 per Dolar AS, Purbaya Yakinkan Krisis 1997 Tidak Terulang
Faktor Global dan Geopolitik
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik turut menekan pasar. Konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan AS–Iran dan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran eskalasi lebih luas.
Di sisi lain, pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping belum menghasilkan terobosan berarti. Ketidakpastian ini menambah beban bagi pasar global, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah.
Baca juga:
Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Kelabakan Hadapi Lonjakan Harga Kedelai
Sentimen Domestik
Sentimen dalam negeri juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Presiden RI Prabowo Subianto menyebut sebagian masyarakat di daerah tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari, sehingga dampaknya terhadap ekonomi riil dinilai tidak terlalu langsung.
Meski demikian dilansir dari Antara, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp 17.666 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.496, sekaligus menegaskan tren pelemahan rupiah yang masih berlanjut. (*)