Obituarium

Tahun ini, Djaduk Ferianto 'Dipaksa' Tidur Jelang Ngayogjazz

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Rabu, 13 November 2019
Tahun ini, Djaduk Ferianto 'Dipaksa' Tidur Jelang Ngayogjazz

Seniman besar Indonesia, Djaduk Ferianto (Foto: Instagram @djaduk)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DJADUK tak pernah bisa tidur tiap jelang gelaran Ngayogjazz. Ia punya pekerjaan rumah besar, memastikan agar masyarakat desa tempat pagelaran jazz itu dilaksanakan bisa menerima. "Ini butuh metode tersendiri dan benar-benar makan energi agar (mereka) menerima kegiatan kami. Sebelum saya yakin semuanya jelas, saya pasti enggak bisa tidur,” kata Djaduk di sela jumpa pers Ngayogjazz ke-9, dikutip Kompas (24/11/2015).

Ngayogjazz memang berbeda dari gelaran jazz pada umumnya karena berlangsung di desa-desa wilayah Yogyakarta. Sejak kali pertama hadir pada 2007, Ngayogjazz selalu mengajak masyarakat desa tempat berlangsungnya acara untuk terlibat aktif, mulai ikut serta sebagai penampil, terlibat di teknis acara, hingga berjualan di Pasar Jazz.

Baca juga:

Djaduk Ferianto Berpulang Sebelum NGAYOGJAZZ

Jazz atau musik, Jawa, dan Masyarakat Jawa seakan menjadi teropong khusus bagi Djaduk Ferianto. Tak hanya Ngayogjazz, ketiga hal itu juga tersua pada proses kreatif keseniannya.

Sedari usia enam tahun, Gregorius Djaduk Ferianto memilih tari sebagai pertemuan awal dengan dunia kesenian. Ia tersihir dunia kesenimanan ayahnya, maestro tari Bagong Kussudiardja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Dari tari, Djaduk kemudian menjejak bunyi gending gamelan Jawa nan tak sekadar pengantar tariannya.

Ia lalu mengakrabi gamelan Jawa sebagai pemain gendang pada 1972. Pria kelahiran Yogyakarta, 19 Juli 1964, kemudian mengasah keterampilan dan pendalaman seni musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di sana, putra bungsu pasangan Bagong Kussudiardja dan Soetiana bereksplorasi dengan berbagai medan musik, instrumen, hingga sajian.

Hasil eksplorasi musiknya berbuah Juara I Nasional Musik Humor pada 1978 lewat grup Rheze. Tak puas, ia lantas membidani kelompok musik Wathathitha (1980-1983), dan mengemban tugas sebagai penata musik Teater Gandrik sejak 1985.

Dari panggung, Djaduk sempat menjajal ranah industri film dan sinetron menjadi penata musik bahkan bermain dalam film Petualangan Sherina berperan sebagai tokoh antagonis Kertarajasa. Pada 1995, ia menerima Piala Vidia Festival Sinetron Indonesia sebagai Penata Musik Terbaik. Masih di tahun itu, ia beroleh kehormatan didapuk sebagai pengarah musik pada peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia, Kendari Nasional 50 Tahun Indonesia Merdeka.

Djaduk di masa sibuknya melakoni dunia panggung dan industri, masih bekreasi menelurkan kelompok musik kontemporer Kua Etnika pada 1996, dan setelahnya Orkes Keroncong Sinten Remen. Dua kelompok itu menjadi semacam laboratorium perpaduan beragam medan musik nan lumrah awam sebut "Timur" dan "Barat".

Meski nampak seperti anggapan awam soal "Timur-Barat" coba dicampurbaur, justru hasil akhir musiknya, menurut Komponis Suka Hardjana, Kompas, 13 April 1997, menisbikan lalu memberi jalan keluar atas dikotomi "Barat-Timur", tradisi-modern, kini-masa lalu, tribal-universal, nasional-internasional, provinsial-nasional, lokal-global, seni hiburan-seni serius dan seterusnya.

Banyak musikoloog bertengkar soal diferensi skala penalaan, perbedaan jangkauan suara, karakterologi bunyi, keseimbangan harmoni, soal inovasi, eksplorasi dan sebagainya, sementara Djaduk, lanjut Suka Hardjana, memberi jalan tengah terhadap dua rel panjang secara geometris seolah tak akan bersinggungan.

"Dengan kata lain, hal-hal primordial yang sifatnya baku, kaku dan tak berkutik itu, ia (Dajduk) nisbikan semua," tulis Suka Hardjana.

Menisbikan sekat musik itu terus dijalani Djaduk tiap tahun lewat Ngayogjazz. Ia bahkan lagi-lagi disibukan persiapan gelaran Ngayogjazz 2019. Di laman Instagram milknya @djaduk bahkan sekat itu kembali disajikan dengan menampilkan keyboardis Idang Rasjidi tanpa bermain keyboard. "Datanglah kalian akan dapatkan Vitamin batu tentang jazz dll-nya," tulisnya.

Hari ini, 13 November 2019, di tengah persiapan bahkan 3 hari jelang hajatannya, Djaduk Ferianto berpulang. Gelaran Ngayogjazz tahun ini akan menjadi karya pamungkasnya. Selamat jalan, Kang Djaduk! (*)

#Seniman #Djaduk Ferianto #Obituari
Bagikan

Berita Terkait

ShowBiz
Mudy Taylor Meninggal Dunia, Komika Musikal dengan Legasi Besar
Ia dikenang sebagai komika yang berhasil menjahit humor dan musik menjadi satu kesatuan yang hidup, segar, dan kreatif
Dwi Astarini - Kamis, 27 November 2025
Mudy Taylor Meninggal Dunia, Komika Musikal dengan Legasi Besar
Dunia
Mantan Wapres Amerika Serikat Dick Cheney Meninggal Dunia di Usia 84 Tahun
Cheney merupakan bagian dari pemerintahan Republik di bawah Presiden George W Bush dan menjadi sosok sentral dalam invasi Irak pada 2003 oleh AS dan aliansinya.
Dwi Astarini - Selasa, 04 November 2025
 Mantan Wapres Amerika Serikat Dick Cheney Meninggal Dunia di Usia 84 Tahun
Indonesia
Pelawak Kirun Menangis kala Melayat ke Rumah Duka Ki Anom Suroto
Kirun dan Anom Suroto merupakan dua seniman senior yang telah bersahabat sejak lama.
Dwi Astarini - Kamis, 23 Oktober 2025
Pelawak Kirun Menangis kala Melayat ke Rumah Duka Ki Anom Suroto
Indonesia
Legenda Wayang Tanah Air Anom Suroto Meninggal, Kiprah Mendalang hingga Keliling Dunia
Jenazah Ki Anom Suroto akan disemayamkan di Ndalem Timsan, Makamhaji, Sukoharjo.
Dwi Astarini - Kamis, 23 Oktober 2025
Legenda Wayang Tanah Air Anom Suroto Meninggal, Kiprah Mendalang hingga Keliling Dunia
Indonesia
Dalang Kondang Anom Suroto Tutup Usia Karena Sakit Jantung, Pemakaman di Klaten Pukul 16.00
Dalang Ki Anom Suroto itu wafat dalam usia 77 tahun akibat penyakit jantung.
Wisnu Cipto - Kamis, 23 Oktober 2025
Dalang Kondang Anom Suroto Tutup Usia Karena Sakit Jantung, Pemakaman di Klaten Pukul 16.00
ShowBiz
Bintang ‘The Godfahter’ Diane Keaton Meninggal Dunia di Usia 79 Tahun
Selama lebih dari lima dekade kariernya, Keaton telah membintangi puluhan film.
Dwi Astarini - Minggu, 12 Oktober 2025
  Bintang ‘The Godfahter’ Diane Keaton Meninggal Dunia di Usia 79 Tahun
Indonesia
Sosok Karlinah Djaja, Istri Wapres Ke-4 RI Umar Wirahadikusumah, yang Meninggal Hari ini di Usia 95 Tahun
Karlinah lahir di Bandung pada 30 Juli 1930.
Dwi Astarini - Senin, 06 Oktober 2025
Sosok Karlinah Djaja, Istri Wapres Ke-4 RI Umar Wirahadikusumah, yang Meninggal Hari ini di Usia 95 Tahun
Lifestyle
Resmi Ditutup, ini 5 Galeri di Art Jakarta 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
Galeri di Art Jakarta 2025 ini menarik perhatian pengunjung. Pameran seni itu sudah resmi ditutup pada Minggu (5/10) kemarin.
Soffi Amira - Senin, 06 Oktober 2025
Resmi Ditutup, ini 5 Galeri di Art Jakarta 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
Fun
Buka Art Jakarta 2025, Menbud Fadli Zon Janji Kirim Perupa Indonesia Ikut Pameran Internasional
Seni rupa dapat menjadi jembatan para seniman lokal dengan panggung seni internasional.
Wisnu Cipto - Jumat, 03 Oktober 2025
Buka Art Jakarta 2025, Menbud Fadli Zon Janji Kirim Perupa Indonesia Ikut Pameran Internasional
Dunia
Konservasionis Dame Jane Goodall Meninggal di Usia 91 Tahun, Wariskan Pengetahuan Luar Biasa bagi Umat Manusia
Goodall meninggal karena sebab alami saat berada di California dalam tur di Amerika Serikat.
Dwi Astarini - Kamis, 02 Oktober 2025
 Konservasionis Dame Jane Goodall Meninggal di Usia 91 Tahun, Wariskan Pengetahuan Luar Biasa bagi Umat Manusia
Bagikan