MERAHPUTIH.COM - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menempatkan pengembangan Stasiun Gambir sebagai bagian dari optimalisasi aset di pusat Jakarta. Arah pengembangan ini berfokus pada hospitality, yaitu layanan yang memberi kenyamanan bagi pelanggan, serta leisure, yaitu ruang untuk makan, berbelanja, menunggu perjalanan, beristirahat, menikmati ruang publik, dan melanjutkan aktivitas di kawasan sekitar Monas.
Pengembangan Gambir diarahkan agar ruang stasiun lebih produktif dan memberi manfaat lebih luas. Aset stasiun yang berada di jantung Jakarta dikelola agar mendukung layanan pelanggan, membuka ruang bagi tenant, memperkuat aktivitas ekonomi, serta menciptakan peluang kerja langsung dan pendukung.
Vice President of Corporate Communication of KAI Anne Purba mengatakan Gambir memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan Monas, kawasan pemerintahan, perkantoran, hotel, ruang publik, serta akses transportasi lanjutan.
“Pengembangannya kami arahkan sebagai ruang hospitality dan leisure agar pelanggan dapat menunggu perjalanan dengan nyaman, makan, berbelanja, mengakses layanan perjalanan, serta melanjutkan aktivitas ke pusat kota,” ujar Anne di Jakarta, Sabtu (4/7).
Baca juga:
Saat ini, berdasarkan data tenant Stasiun Gambir 2026, terdapat 132 area/titik komersial yang telah tersewa, terdiri dari 67 space dan 65 open space.
Space merupakan ruang komersial yang digunakan untuk outlet atau layanan tertentu, sedangkan open space merupakan titik pemanfaatan ruang terbuka untuk kebutuhan layanan, promosi, mesin layanan, parkir, atau aktivitas komersial lain.
Tenant yang hadir di Gambir mencakup kuliner, kedai kopi, minimarket, ritel, toko oleh-oleh, toko buku, lounge, loker, hotel transit, pod, ATM, vending machine, parkir, media luar ruang, serta layanan pendukung perjalanan. Keberadaan tenant tersebut menunjukkan Gambir telah memiliki ekosistem ekonomi yang hidup dan dibutuhkan pelanggan.
Data pelanggan juga memperlihatkan kuatnya basis mobilitas di Gambir. Pada 2022, Stasiun Gambir melayani 5.759.495 pelanggan. Jumlah tersebut meningkat menjadi 6.530.778 pelanggan pada 2023 atau tumbuh 13,39 persen. Pada 2024, volume pelanggan tercatat 5.914.820 pelanggan, kemudian kembali meningkat menjadi 6.105.784 pelanggan pada 2025 atau tumbuh 3,23 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Secara rata-rata, pelanggan di Stasiun Gambir pada 2025 mencapai sekitar 16.700 pelanggan per hari. Pada Semester I 2026, Gambir telah melayani 3.227.508 pelanggan, terdiri dari 1.652.532 pelanggan berangkat dan 1.574.976 pelanggan tiba.
Menurut Anne, arus pelanggan sebesar itu membutuhkan layanan pendukung yang memadai. Pelanggan membutuhkan ruang tunggu yang nyaman, pilihan makanan dan minuman, ritel kebutuhan perjalanan, layanan informasi, akses transportasi lanjutan, serta ruang yang ramah bagi keluarga.
Dari sisi tenaga kerja, satu outlet kecil secara sederhana dapat menyerap 2–3 pekerja untuk kasir, penyajian, dapur, dan operasional harian.
Dengan 67 space aktif, ekosistem outlet yang di Gambir dapat menopang sekitar 134–201 tenaga kerja langsung di level tenant. Jumlah itu belum mencakup tenaga kebersihan, keamanan, teknisi, parkir, pengelola hotel transit, pengelola lounge, logistik tenant, pemasok makanan-minuman, serta layanan pendukung lainnya.
Dalam Kajian Optimalisasi Bisnis dan Visioning Stasiun Gambir, New Gambir diarahkan sebagai modern station & lifestyle hub, atau stasiun modern yang terhubung dengan pusat gaya hidup. Kajian tersebut memuat pengembangan ritel, kuliner, lounge, hotel, rooftop park, ruang publik, serta ruang pertemuan dan kegiatan. Kajian juga menggunakan istilah NLA atau net leasable area, yaitu luas area komersial yang dapat disewakan kepada tenant.
Berdasarkan kajian tersebut, fasilitas ritel pengembangan baru memiliki luas area komersial yang dapat disewakan sekitar 15.479 m², sedangkan hotel dan ruang pertemuan sekitar 3.756 m². Ruang pertemuan dalam kajian juga berkaitan dengan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), yaitu fasilitas untuk rapat, kegiatan perusahaan, konvensi, pameran, dan agenda komunitas atau korporasi.
Apabila pengembangan berjalan sesuai kajian, area ritel baru tersebut berpotensi menampung sekitar 220–310 unit usaha kecil dan menengah, dengan gambaran ukuran 50–70 persegi per tenant. Jika setiap unit menyerap 2–3 pekerja, potensi tenaga kerja langsung dari tenant dapat mencapai sekitar 440–930 orang.
Di luar tenant, kawasan hospitality dan leisure juga membutuhkan tenaga pendukung seperti kebersihan, keamanan, teknisi gedung, pengelola parkir, customer service, pengelola taman, pengelola rooftop, loading, logistik, dan pengelolaan sampah.
Dengan demikian, pada fase operasional penuh, pengembangan Gambir berpotensi membuka sekitar 500–1.000 peluang kerja langsung dan pendukung. “Potensi tersebut akan mengikuti desain akhir, komposisi tenant, tahapan pembangunan, dan pola operasional kawasan,” tutur Anne.
Anne menjelaskan pengembangan Gambir juga menjadi bagian dari penguatan non-fare box atau NFB, yaitu pendapatan di luar tiket kereta api. Melalui fungsi komersial yang tertata, stasiun dapat memberi layanan yang lebih baik kepada pelanggan sekaligus memperkuat nilai ekonomi aset perusahaan.
“KAI ingin Gambir menjadi ruang perjalanan sekaligus ruang pengalaman kota,” tutup Anne.(knu)
Baca juga:
Stasiun Gambir Diperluas, Terkoneksi KRL, LRT hingga Kereta Cepat Whoosh