Sosok Kardinal Peter Erdo, Calon Pemimpin Tertinggi Umat Katolik yang Pernah Menentang Kebijakan Paus Fransiskus
Kardinal Peter Erdo. (Foto: Instagram/Roman Catholicism)
MerahPutih.com - Sejumlah nama Kardinal berpeluang menggantikan posisi pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Fransiskus yang baru saja wafat. Salah satunya nama, Uskup Agung Esztergom-Budapest, Hungaria Kardinal Peter Erdo
Lantas, siapakah kah Kardinal Erdo hingga dia sampai digadang-gadang masuk bursa calon Pemimpin umat Katolik yang baru?
Erdo lahir pada 25 Juni 1952 di Budapest, Hungaria. Dia merupakan pakar hukum Gereja dan figur utama dari kalangan konservatif.
Keahliannya dalam hukum Gereja menjadikannya salah satu tokoh yang dihormati di lingkungan Kuria Roma maupun di kalangan keuskupan Eropa Tengah.
Ia adalah Kardinal yang ditugaskan pada Basilika Santa Balbina, Presiden Dewan Konferensi Waligereja Eropa, dan sekarang Relator Umum Sidang Umum Luar Biasa Sinode Uskup-uskup Ketiga di Roma.
Baca juga:
Paus Fransiskus, Juru Bicara Kaum Miskin yang Merombak Gereja Katolik, Meninggal Dunia
Erdo banyak dipuji karena melakukan devosi Maria kepada Bunda dari Konsolidasi. Pria berusia 73 tahun ini juga memiliki kemampuan berbicara dalam bahasa Italia, Hungaria dan Latin. Selama ini, Peter Erdo menjadi pendukung ajaran dan doktrin Katolik tradisional yang kuat.
Selain itu, ia adalah sosok intelektual yang dikenal hebat dan memegang teguh budaya. Pada 2015, Erdo bersekutu dengan perdana menteri nasionalis Hungaria Viktor Orban yang menentang imbauan Fransiskus agar gereja-gereja menerima para migran.
Ia kerap menekankan pentingnya akar kekristenan di Eropa dan menegaskan nilai-nilai tradisional Gereja Katolik dalam berbagai forum internasional.
Baca juga:
Meskipun demikian, Erdo dikenal sebagai pribadi yang pragmatis dan tidak pernah secara terbuka menentang kebijakan Paus Fransiskus, berbeda dengan beberapa tokoh tradisionalis lainnya.
Salah satu momen penting dalam kiprah publik Erdo terjadi pada krisis migran tahun 2015. Ketika Paus Fransiskus menyerukan agar gereja-gereja membuka pintu bagi para pengungsi, Erdo menyampaikan pandangan berbeda.
Ia menilai bahwa membuka gereja bagi migran secara sembarangan dapat dianggap sebagai bentuk perdagangan manusia. Pernyataan tersebut selaras dengan pandangan nasionalis pemerintah Hungaria di bawah Perdana Menteri Viktor Orban.
Meski berasal dari spektrum konservatif, Erdo juga dikenal luas sebagai tokoh yang memiliki pendekatan diplomatis terhadap perbedaan dalam Gereja. Ia mendukung upaya Paus dalam menjalin dialog ekumenis dengan Gereja Ortodoks, yang menunjukkan keterbukaannya dalam membangun persatuan antar umat Kristiani. (Knu)
Bagikan
Joseph Kanugrahan
Berita Terkait
Ziarah ke Makam Paus Fransiskus, Presiden Abbas: Beliau Akui Palestina tanpa Harus Diminta
Pertemuan Bersejarah Paus Leo XIV dan Presiden Palestina, Vatikan Tegaskan Dukung Solusi 2 Negara
Menag Nasaruddin Umar Bahas Tindak Lanjut Deklarasi Istiqlal-Vatikan dengan Paus Leo XIV di Roma
Menteri Agama Berharap Tiap Untaian Doa Umat Katolik di Bulan Rosario Jadi Berkah untuk Indonesia
Paus Leo XIV Tahbiskan Carlo Acutis sebagai Santo, ‘Influencer Tuhan’ Panutan Anak Muda Zaman Ini
Soal Pengangguhan Penahanan 7 Tersangka Persekusi Cidahu, Marinus Gea Sebut Kementerian HAM Kirim Sinyal Negara Lindungi Pelaku
Al Pacino Jadi Aktor Pertama yang Bertemu Paus Leo XIV dalam Pertemuan Khusus
Jabat Tangan Paus Leo XIV, Cak Imin: Simbol Persahabatan dan Komitmen Kemanusiaan
Dialog Agung di Vatikan: Muhaimin Iskandar Membawa Pesan Kebhinekaan dari Indonesia untuk Paus Leo XIV
Budi Arie Sebut Pelantikan Paus Leo XIV Jadi Seruan Moral dan Relevansi dengan Gerakan Koperasi