MERAHPUTIH.COM - UMAT Katolik di Indonesia dan berbagai belahan dunia memulai masa pra-Paskah dengan perayaan Rabu Abu pada 18 Februari ini. Rabu Abu menjadi penanda dimulainya masa pertobatan selama 40 hari menjelang Hari Raya Paskah. Dalam perayaan ini, umat menerima tanda salib dari abu yang dioleskan di dahi oleh imam.
Seperti dilansir berbagai sumber, Abu tersebut berasal dari pembakaran daun palma yang digunakan pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. Tanda abu melambangkan pertobatan, kerendahan hati, serta pengingat akan kefanaan manusia.
Rabu Abu menjadi salah satu hari penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik karena pada hari ini umat diwajibkan menjalankan puasa dan pantang. Mengacu pada pedoman Konferensi Waligereja Indonesia, ketentuan puasa berarti makan kenyang satu kali dalam sehari, serta dua kali makan kecil yang jika digabungkan tidak melebihi satu kali makan kenyang.
Sementara itu, pantang umumnya dilakukan dengan tidak mengonsumsi daging, meski umat dapat menggantinya dengan bentuk pengendalian diri lain yang relevan. Kewajiban puasa berlaku bagi umat berusia 18 hingga 59 tahun. Sementara itu, kewajiban pantang berlaku bagi umat berusia 14 tahun ke atas.
Baca juga:
Rabu Abu, Paus Francis Ajak Umat Tinggalkan Medsos dan Perbanyak Refleksi
Selain Rabu Abu, kewajiban puasa dan pantang juga berlaku pada Jumat Agung. Umat Katolik dianjurkan berpantang setiap Jumat selama Masa Prapaskah sebagai bentuk penghayatan iman dan solidaritas atas sengsara Kristus.
Di Indonesia, sejumlah gereja menggelar misa Rabu Abu sejak pagi hingga malam hari untuk mengakomodasi umat yang hadir.
Keuskupan Agung Jakarta mengimbau umat untuk memaknai masa pra-Paskah tidak sekadar sebagai kewajiban ritual, tapi sebagai kesempatan memperdalam doa, memperkuat pengendalian diri, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.
Masa pra-Paskah berlangsung selama 40 hari, tidak termasuk pada Minggu, dan menjadi periode refleksi sebelum umat merayakan Paskah yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus.
Melalui puasa, pantang, doa, dan karya amal, umat Katolik diharapkan menjalani perjalanan rohani yang lebih mendalam serta memperbarui komitmen hidup beriman dalam kehidupan sehari-hari.(knu)
Baca juga:
Bertepatan Hari Pencoblosan, KAJ Minta Gereja Katolik Tak Gelar Misa Rabu Abu di Pagi Hari