Siswa Negeri Aing Seolah Bebas Berambut Gondrong Maupun Warna-Warni Sejak Pandemi

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Senin, 12 Juli 2021
Siswa Negeri Aing Seolah Bebas Berambut Gondrong Maupun Warna-Warni Sejak Pandemi

Murid laki-laki harus berambut rapi. (Foto: Instagram/@nostalgia95_jkt)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

RIZKI Saputra sudah siap peci sedari malam di samping laptopnya. Ia langsung mengenakannya begitu jam pertama pembelajaran jarak jauh pagi hari dimulai. Di layar laptop, beberapa temannya juga kompak berpeci.

Beberapa teman sekelasnya, terutama para siswi menahan tawa, lantaran merasa aneh tiba-tiba temannya jadi lebih alim sejak penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) saat awal pandemi COVID-19.

Kebanyakan siswa mendadak berpeci, termasuk Rizki, memang terkenal sering berbuat ulah di sekolah. Enggak aneh jika Ibu Guru sangat mengapresiasi kebiasan baru anak muridnya menyangka telah terjadi perubahan besar sejak pandemi.

Setelah pelajaran selesai, beberapa anak langsung melakukan panggilan video conference untuk membahas tugas bersama. Di situ, baru ketahuan sebab beberapa siswa mengenakan peci.

Di layar ponsel saat video call, tampak rambut mereka berwarna blonde, abu-abu, ungu, dan pink. Enggak cuma warna-warni, rambut mereka pun gondrong. "Mumpung enggak di sekolahan kan bebas. Yang penting gaya. Tugas juga selesai kan," kata Rizki.

Rizki dan beberapa temannya menganggap sekolah di rumah lebih enak karena bisa bebas mengekpresikan diri. Kalau saja rambut mereka warna-warni dan gondrong saat masih sekolah tatap muka, meski pakai peci, sudah pasti kena hukum. Guru biasa ditugaskan berkeliling kelas memantau rambut panjang akan senang beroleh siswa dengan kondisi tersebut.

gondrong
Pembelaran jarak jauh di rumah masing-masing membuat siswa jadi menggondrongkan rambut. (Unspash-Ben Mullins)

Pak Sigit, guru olahraga di salah satu SMA negeri Jakarta bergelagat mencurigakan. Pagi itu ia memakai kaus kerah dan celana training, tak biasanya menggenggam gunting di tangan kanan lalu berkeliling sekolah, menyambangi kelas satu per satu, bukan untuk mengajak senam pagi.

Ketika melintasi lorong sekolah di lantai dua, ia berpapasan dengan murid seorang laki-laki, lalu menyetopnya. Pak Sigit mulai membidik bagian rambut murid tesebut.

Radit, murid kelas 12, semula memang berniat bertemu Pak Sigit untuk membicarakan keperluan buku tahunan sekolah. Namun, bukan membahas buku tahunan, pertemuan dengan Pak Sigit, justru membuat Radit mendapatkan jasa pangkas rambut gratis.

"Udah 4-5 kali gue kena razia rambut selama SMA," kenang Radit, lulus SMA sembilan tahun lalu kepada Merahputih.com lewat sambungan telepon.

Baca juga:

Kisah Guru TK Emerentiana Nogo Koban Menjadi Alarm Pembelajaran Daring Cuma Privilese Kota Besar

Tentu menyenangkan bisa pangkas rambut gratis. Apalagi bagi pelajar dengan keuangan terbatas bisa hemat uang jajan Rp 20-25 ribu. Masalahnya, Pak Sigit bukan berprofesi sebagai tukang cukur profesional bisa mengubah rambut jadi badai ala seleb dengan model mohawk, under cut, apalagi cornrow.

Staff kesiswaan siap merazia rambut murid laki-laki berambut gondrong. (Foto: Unsplash/Matt Artz)

Sebagai staf kesiswaan, Pak Sigit bertugas merazia rambut murid pria tidak rapi. Kalau sudah tertangkap, murid laki-laki seperti Radit cuma bisa pasrah rambutnya dibabat asal-asalan hingga bentuknya amburadul. Dengan begitu, tiap murid laki-laki akan jera dan menaati aturan di 'kitab' aturan sekolah dengan ketentuan model rambut mesti pendek dan rapi.

Celakanya lagi, rambut Radit pernah dipotong hanya di bagian tengah kepala. Sementara bagian pinggir rambut masih lebat. Alhasil, sepulang sekolah ia harus pergi ke tukang pangkas rambut untuk merapikan rambutnya. Karena sudah terlanjur berantakan, gaya rambut cocok untuknya cuma satu: cepak.

"Kalo abis dicukur (kena razia rambut) pasti diketawain di tongkrongan. Mau enggak mau rapihin sekalian (cukur cepak)," kata owner Gumi Kopi itu sambil tertawa.

Razia rambut di sekolah terkadang juga tidak hanya terjadi saat jam pelajaran. Dari pengalamannya, Radit pernah terjaring razia rambut saat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Sekolah Radit mengadakan hampir kegiatan ekskul di hari Sabtu. Nyatanya, Pak Sigit tetap membuka jasa layanan cukur gratis di luar jam pelajaran formal. "Gue enggak pernah kapok (punya rambut gondrong) bangga aja gitu kalau rebel," paparnya.

Baca juga:

Bolos Sekolah Belum Tentu Anak Salah

Sekolah di Negeri Aing memang ketat soal peraturan model rambut murid laki-laki. Terlebih di sekolah negeri, rambut murid mesti rapi, jambang tidak boleh panjang sampai telinga, dan poni dilarang melebihi alis. Pokoknya punya rambut panjang seperti kebanyakan anak emo bisa jadi sasaran empuk Guru BP atau staff kesiswaan.

Murid berambut gondrong harus bersiap-siap kena razia rambut. (Foto: nostalgia95_jkt)

Kemdikbud sejak pandemi melanda Indonesia mengimbau agar setiap sekolah negeri atau swasta menerapkan sistem pembelajaran secara daring. Zoom menjadi aplikasi wajib diunduh setiap pelajar Indonesia dan Google Meet juga jadi alternatif lainnya.

Kebijakan tersebut membuat siswa sekolah baik, SMP dan SMA merasa lega. Sebab, mereka bebas berekspresi dengan memiliki gaya rambut keren warna-warni bahkan gondrong. Proses belajar-mengajar tidak tatap muka selama pandemi, sehingga tidak memungkinkan guru niat merazia rambut sampai ke rumah murid.

Pustakawan Annisa Novia, di situs pertukaran pengetahuan Quora memberikan pendapatnya mengapa rambut murid laki-laki tidak boleh gondrong. Ia merujuk pada buku bertajuk Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an gubahan Aria Wiratma Yudhistira.

Menurut Annisa, pada tahun 60-an Indonesia kedatangan budaya hippies atau flower generation. Dari situ muda-mudi tak mau diatur dan ingin bebas berekspresi seperti memiliki penampilan berambut gondrong.

Selama belajar daring murid bebas memiliki gaya rambut. (Foto: Unsplash/Compare Fibre)

Akhirnya, presiden Soeharto saat itu meminta para petinggi di instansi pemerintahan untuk mencegah kebiasaan hippies bertebaran di Indonesia. Termasuk dengan merazia para pemuda gondrong. Alasan dipakai para petinggi untuk menjalankan keputusan anti-gondrong tersebut karena anak muda akan menjadi acuh tak acuh dan tidak rapi.

"Para pelajar dan mahasiswa masa itu, harus patuh atas segala ketetapan Bapak Besar. Termasuk peraturan yang krusial di tahun 60-70an: dilarang gondrong!," ungkap Annisa di Quora.

Bagi Radit, pelajar berambut gondrong seharusnya tidak dipermasalahkan. Prestasi seorang pelajar kata Radit tidak bergantung dengan penampilan rambutnya. "Menurut gua sih harusnya fine-fine aja (murid berambut gondrong) yang penting nilai akademiknya gak turun," tutup Radit. (ikh)

Baca juga:

Meja Sekolah Jadi Arena Psywar Anak Pagi Versus Siang

#Fashion #Juli Ngilmu Di Negeri Aing
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Fashion
UNIQLO x KAWS Hadirkan KAWS UNIVERSE, Bawa Pesan 'We Are Better Together'
UNIQLO dan KAWS kembali berkolaborasi lewat KAWS UNIVERSE yang menghadirkan COMPANION, karakter baru, dan plush charm mulai 14 September 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 11 September 2026
UNIQLO x KAWS Hadirkan KAWS UNIVERSE, Bawa Pesan 'We Are Better Together'
Fashion
'Revenge Dress' Milik Putri Diana kembali Dilelang, Diperkirakan Laku Rp 4,5 Miliar
Penampilan dramatis Putri Diana saat tiba di Serpentine Gallery pada 1994 menjadi salah satu momen ikonis dalam budaya pop.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
 'Revenge Dress' Milik Putri Diana kembali Dilelang, Diperkirakan Laku Rp 4,5 Miliar
Fashion
‘With Gemini, In Craft’, Google Dorong Kreativitas Fesyen tanpa Batas
Lewat inisiatif ‘With Gemini, In Craft’, Google menjadikan akal imitasi sebagai mitra kreatif pendukung bagi rumah mode, studio kreatif, serta pelaku usaha di Indonesia.
Dwi Astarini - Sabtu, 05 September 2026
‘With Gemini, In Craft’, Google Dorong Kreativitas Fesyen tanpa Batas
Olahraga
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Jersey Tim Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 mengangkat motif Gorga khas Toba dan Limar dari Sumatera Selatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Fashion
Tak Sekadar Belajar ke Luar Negeri, Program ESMOD Jakarta Bawa Identitas Fashion Indonesia ke Dunia
ESMOD Jakarta memperkuat koneksi fashion global melalui Global Mobility Pathway, membuka pertukaran mahasiswa dengan jaringan ESMOD di berbagai negara.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 12 Agustus 2026
Tak Sekadar Belajar ke Luar Negeri, Program ESMOD Jakarta Bawa Identitas Fashion Indonesia ke Dunia
Fashion
Ulos Simetria di BTN IFW 2026, Saat Wastra Sumatra Menjadi Bahasa Generasi Baru
BTN IFW 2026 mengangkat Ulos melalui tema Ulos Simetria. Desainer muda menerjemahkan tradisi, identitas, transformasi, dan pengalaman personal ke dalam mode kontemporer.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 12 Agustus 2026
Ulos Simetria di BTN IFW 2026, Saat Wastra Sumatra Menjadi Bahasa Generasi Baru
Fun
BRImo CODE.STRT 2026 Angkat Budaya Urban Lewat Fashion, Musik, dan Komunitas
BRImo CODE.STRT 2026 kembali hadir dalam rangkaian JF3 Fashion Festival dengan lebih dari 50 brand, kompetisi basket, skate, dance, musik, hingga area kuliner di Summarecon Mall Serpong.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 04 Agustus 2026
BRImo CODE.STRT 2026 Angkat Budaya Urban Lewat Fashion, Musik, dan Komunitas
Fun
JAECOO Kolaborasi dengan 347 Homebreaks dan NMAA, Tampilkan Konsep Personalisasi J5 EV
JAECOO Indonesia berkolaborasi dengan 347 Homebreaks dan NMAA menghadirkan konsep personalisasi untuk J5 EV.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 04 Agustus 2026
JAECOO Kolaborasi dengan 347 Homebreaks dan NMAA, Tampilkan Konsep Personalisasi J5 EV
Fashion
BTN Indonesia Fashion Week 2026 Ditutup Meriah, Ulos Simetria Tegaskan Wastra Nusantara Mendunia
BTN Indonesia Fashion Week 2026 resmi ditutup setelah lima hari penyelenggaraan. Tema Ulos Simetria menghadirkan transformasi Ulos menjadi adibusana modern.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 03 Agustus 2026
BTN Indonesia Fashion Week 2026 Ditutup Meriah, Ulos Simetria Tegaskan Wastra Nusantara Mendunia
Fashion
Ulos Jadi Magnet di IFW 2026, Tampil Modern dengan Sentuhan Warna Pastel
Kain ulos menjadi magnet di Indonesia Fashion Week 2026. Kain tersebut tampil modern dengan sentuhan warna pastel.
Soffi Amira - Minggu, 02 Agustus 2026
Ulos Jadi Magnet di IFW 2026, Tampil Modern dengan Sentuhan Warna Pastel
Bagikan