MerahPutih.com - Perkembangan skena graffiti di Jogja tidak pernah berlangsung dalam ruang yang terpisah. Ia tumbuh berdampingan dengan berbagai subkultur lain, terutama skateboard dan musik.
Sejumlah kolektif di kota ini bahkan rutin menggelar kegiatan lintas skena yang mempertemukan graffiti dengan pertunjukan musik, skateboard, serta berbagai bentuk aktivasi lainnya. Tradisi saling membuka ruang dan berkolaborasi tersebut turut menjaga regenerasi seniman graffiti di Jogja agar terus berlangsung.
Seiring waktu, praktik graffiti juga mengalami perubahan, termasuk dalam hal medium yang digunakan. Jika sebelumnya graffiti lebih lekat dengan aksi jalanan dan stigma vandal, kini keberadaannya mulai diterima secara lebih luas oleh publik maupun institusi seni di Jogja.
Baca juga:
Graffiti mulai hadir di ruang-ruang galeri seni kontemporer hingga menjadi bagian dari pameran yang digelar bersamaan dengan perhelatan ARTJOG.
Eksplorasinya pun tidak lagi terbatas pada dinding jalanan. Para seniman mulai memperluas medium ke kanvas, panel kayu, karya tiga dimensi, bahkan skate bowl, arena berbentuk cekungan yang menjadi bagian dari skate park.
Perluasan medium dan persinggungan antarsubkultur tersebut menjadi salah satu semangat yang ditawarkan melalui SINTESIS, proyek kolaborasi tiga seniman graffiti Jogja, YKRUMK, TECHOO, dan ZEINSONE.
Ketiganya mempertemukan proyek mural dengan aktivasi musik serta eksplorasi visual melalui penggambaran skate bowl.
SINTESIS, Ruang Pertemuan Tiga Bahasa Visual
SINTESIS mempertemukan tiga karakter, tiga bahasa visual, dan tiga sudut pandang dalam satu ruang percakapan.
Tujuannya bukan menghapus perbedaan dan membuat ketiganya terlihat seragam. Sebaliknya, perbedaan tersebut ditempatkan sebagai kekuatan yang dapat saling melengkapi.
Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi kebisingan akibat kepentingan, keserakahan, konflik, serta keinginan untuk menguasai satu sama lain, proyek ini hadir sebagai sebuah refleksi.
Karya tersebut menjadi respons terhadap kekacauan yang perlahan membuat manusia menjauh dari hal-hal paling mendasar dalam kehidupan: kemanusiaan, empati, dan kebaikan.
Lewat mural dan sejumlah karya yang dibangun secara bersama-sama, ketiga seniman tersebut menciptakan sebuah sintesis—ruang tempat karakter, pengalaman, dan gagasan yang berbeda dapat bertemu.
Seperti kehidupan yang selalu bergerak di antara berbagai pertentangan, sintesis tidak berbicara mengenai siapa yang paling benar. Ia justru mempertanyakan bagaimana keberagaman dapat menemukan titik temu dan bergerak menuju tujuan yang sama.
Baca juga:
Dari Graffiti ke Ruang Kolaborasi
SINTESIS menunjukkan bagaimana graffiti dapat berkembang melalui pertemuan dengan medium dan subkultur lain.
Mural tidak berdiri sendiri, tetapi dipertemukan dengan aktivasi musik dan eksplorasi visual pada skate bowl. Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan karakter skena Jogja yang sejak lama tumbuh melalui pertukaran gagasan dan kolaborasi lintas komunitas.
Ruang yang tercipta bukan sekadar tempat memamerkan karya, tetapi juga menjadi ruang percakapan antara karakter dan pengalaman yang berbeda.
Pada akhirnya, SINTESIS mengajak kita kembali mengingat bahwa hidup merupakan perjalanan yang singkat.
Di tengah dunia yang kerap menempatkan kekuasaan, keuntungan, dan ambisi tanpa batas sebagai ukuran keberhasilan, manusia tetap memiliki pilihan untuk bersikap baik.
Sebab yang tertinggal bukan semata-mata tentang sebanyak apa yang berhasil kita miliki, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat kita tinggalkan bagi orang lain. (Far)