Saran Pengamat untuk Cegah Hoax di Pilkada Serentak 2018
Ilustrasi. (Foto: Ist)
MerahPutih.com - Tahun 2018 ini merupakan tahun politik yang diprediksi bakal cukup menguras energi bangsa. Pasalnya, terdapat 171 daerah di Indonesia yang akan memilih pemimpinnya pada Juni 2018.
Dari seluruh tahapan proses Pilkada, sejumlah kalangan menduga isu SARA bernuansa hoax dan hate speech bakal marak melalui sosial media. Hal itu, tak lepas dari tujuan politik yang ingin diwujudkan dalam pesta demokrasi Pilkada 2018.
Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing menuturkan, tujuan politik hoax dan hate speech tersebut bisa saja dalam rangka menjatuhkan sosok paslon tertentu dan partai pengusung serta partai pendukungnya.
"Padahal, politik itu harus mengedepankan moral," kata Emrus kepada wartawan, Jumat (5/1).
Karena itu, kata Emrus, kemenangan paslon yang diwarnai dengan penyebaran hoax dan hate speech, selain cacat moral demokrasi juga sangat tidak satria bagi pemenang.
"Ibarat dalam pertandingan final sepak bola piala bergengsi, kemenangan diperoleh melalui berbagai upaya seperti gol dari tindakan offside," tandasnya.
Untuk itu, Emrus menilai perlu dibentuk forum antar paslon dan parpol untuk mencegah dan mematikan pembiakan hoax dan hate speech yang bernuansa apapun. Termasuk mengeksploitasi SARA.
Sebab, bisa saja strategi SARA sengaja dipakai menggiring opini untuk mengedalikan follower ideologis.
"Forum antar paslon dan partai dapat digunakan mengklarifikasi yang mana info resmi partai atau kandidat. Dalam forum terjadi saling koreksi dan klarifikasi," jelasnya.
"Dengan demikian, pembiakan hoax dan hate speech di medsos akan dapat dicegah, atau paling tidak dinetralisir dampak buruk dari hoax dan hate speech, sehingga Pilkada 2018 dapat berlangsung dengan adu integritas, kapabilitas dan program dari para peserta kontestasi Pilkada," kata Emrus. (Pon)
Baca juga berita terkait lainnya di:
Bagikan
Ponco Sulaksono
Berita Terkait
[HOAKS atau FAKTA]: Seperti Venezuela, Donald Trump Ancam Tangkap Prabowo jika Lakukan Perusakan Terhadap Alam
[HOAKS atau FAKTA]: Hakim PN Surakarta Pastikan Ijazah Jokowi Palsu
[HOAKS atau FAKTA]: Dedi Mulyadi Disambut Ribuan Orang saat Tiba di Lokasi Bencana Sumatra
[HOAKS atau FAKTA]: Penularan Virus Super Flu Dinilai Lebih Cepat dan Berbahaya dari COVID-19
[HOAKS atau FAKTA]: Bahlil Asyik Berjoget di Tengah Duka Korban Bencana Sumatra
[HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Australia Bagi-bagi Uang untuk Modal Usaha, Dititip Lewat Kementerian Agama
[HOAKS atau FAKTA]: Megawati Kepincut Menkeu Purbaya, Tawari Masuk PDIP dan Dijadikan Ketua Partai
[HOAKS atau FAKTA]: Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Kunjungan Dedi Mulyadi ke Sumatra Hanya Cuma Pencitraan
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Perintahkan Semua Kantor Desa Diaudit, Menkeu Purbaya Didemo Para Kades
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Pecat Bahlil karena Ketahuan Bohong Listrik di Aceh Sudah Menyala