MerahPuttih.com - Nilai tukar rupiah terus bergejolak. Di mana pada penutupan Selasa (13/5), melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp 17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.414 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa, juga bergerak melemah ke level Rp 17.514 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.415 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyampaikan, lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menambah beban defisit APBN hingga Rp 200 triliun.
Berdasarkan simulasi perhitungan Permata Institute of Economic Research (PIER), tambahan defisit APBN tersebut apabila rata-rata nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.400 per dolar AS dan harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel.
Baca juga:
Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah Bakal Bikin Asing Masukan Duit ke Indonesia
Josua menjelaskan, lonjakan harga minyak mentah tidak hanya berdampak pada biaya impor energi, tetapi juga memberi tekanan terhadap subsidi energi, inflasi, biaya logistik, hingga ruang fiskal pemerintah.
Harga minyak mentah Brent saat ini masih berada di level tinggi dan bahkan sempat mendekati rata-rata 86 dolar AS per barel sejak awal tahun. Angka tersebut jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel.
Skenario terburuk dapat terjadi apabila konflik Timur Tengah semakin meluas dan mendorong harga minyak melampaui 130 dolar AS per barel.
Pemerintah mengaku masih memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun yang dinilai masih mencukupi. Namun, kenaikan inflasi dan depresiasi rupiah berkepanjangan berpotensi menggerus ruang fiskal tersebut dalam waktu dekat.
Josua memandang pemerintah perlu menetapkan skala prioritas belanja di tengah tekanan geopolitik. Menurut dia, belanja negara ke depan perlu diarahkan pada sektor-sektor produktif agar mampu menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek maupun menengah.
“Kita berharap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pun juga bisa lebih berkualitas ke depannya. Tentunya dengan disupport tadi oleh belanja-belanja prioritas yang juga harapannya bisa lebih prioritas lagi ke depannya,” tutupnya.
Sebagai informasi, pemerintah menetapkan target defisit Rp 689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB dalam APBN 2026.