MERAHPUTIH.COM — TENGGAT kesepakatan damai yang ditawarkan Amerika Serikat kepada Iran mendekati akhir. Di masa kritis ini, Presiden AS Donald Trump menyiratkan Amerika Serikat akan menghancurkan peradaban Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz dan tunduk pada persyaratannya.
Sekitar 12 jam sebelum tenggat waktu Selasa (7/4) malam yang ia tetapkan bagi otoritas Iran, Trump membagikan unggahan di media sosial yang mengancam akan memusnahkan Iran secara permanen. Iran merupakan penerus peradaban Persia yang berusia ribuan tahun, salah satu peradaban paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
“Sebuah peradaban akan musnah malam ini, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin itu akan terjadi,” ujar Trump di platform Truth Social miliknya.
Selama lebih dari dua minggu, Presiden AS itu telah memperingatkan bahwa ia akan memerintahkan penghancuran infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Unggahan terbarunya pada Selasa (7/4) mencerminkan retorika yang semakin meningkat dan penuh kemarahan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Para ahli hukum mengatakan bahwa menargetkan infrastruktur sipil merupakan kejahatan perang.
“Itu mengerikan. Itu kejahatan murni. Itu tidak dapat diterima. Itu kata-kata dari seorang pria gila yang tidak stabil,” kata Yasmine Taeb, direktur legislatif dan politik dari kelompok advokasi MPower Change Action Fund, dikutip Al-Jazeera.
Taeb juga menyerukan reaksi yang lebih kuat dari anggota parlemen AS dan komunitas internasional terhadap retorika dan kebijakan Trump.
Baca juga:
Trump Lakukan Pendekatan Sambil Beri Ancaman, Iran Tolak Gencatan Senjata
Presiden AS menetapkan Selasa (7/4) pukul 20.00 di Washington, DC (Rabu, 8 April pukul 07.00 WIB) sebagai tenggat bagi Iran.
Pada hari pertama perang, AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta beberapa pejabat tinggi lainnya. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menghantam sekolah, bangunan tempat tinggal, serta fasilitas medis.
Meski mengalami kerugian besar, sistem pemerintahan di Teheran tampaknya tetap bertahan, dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) , sayap militer Iran yang ditetapkan sebagai kelompok ‘teroris’ di AS, memimpin upaya perang.
Sejak perang dimulai, tidak ada pembelotan besar maupun protes antipemerintah di Iran. Khamenei telah digantikan putranya, Mojtaba. Iran membalas dengan serangan roket dan drone terhadap Israel serta aset-aset AS di seluruh Timur Tengah.
Pasukan Iran juga menargetkan infrastruktur sipil dan energi di kawasan Teluk serta memblokade Selat Hormuz bagi sebagian besar pelayaran, yang menyebabkan harga energi melonjak tajam. Meski demikian, Trump berkeras ia telah mencapai ‘perubahan rezim’ di Iran dan bahwa AS telah memenangi perang.
Pada Selasa, Trump juga masih membuka kemungkinan penyelesaian diplomatik meskipun mengeluarkan ancaman dramatis tersebut, dengan mengatakan bahwa mungkin sesuatu yang sangat luar biasa secara revolusioner bisa terjadi.
“Kita akan mengetahuinya malam ini, salah satu momen paling penting dalam sejarah dunia yang panjang dan kompleks. Empat puluh tujuh tahun pemerasan, korupsi, dan kematian akhirnya akan berakhir. Tuhan memberkati rakyat besar Iran,” ujar Trump.
Sementara itu, para pejabat Iran tetap bersikap menantang, memperingatkan bahwa setiap eskalasi dari AS akan dibalas dengan tindakan militer serupa di kawasan maupun di luar wilayah tersebut.(dwi)
Baca juga:
Kepala intelijen IRGC Majid Khademi Tewas dalam Serangan, Tidak Lemahkan Militer Iran

