Headline

Polemik Pidato Anies, Frans Tshai: Yang Pribumi itu Siapa sih?

Eddy FloEddy Flo - Selasa, 17 Oktober 2017
Polemik Pidato Anies, Frans Tshai: Yang Pribumi itu Siapa sih?

Politisi dan Wakil Ketua Dewan Pembina FPAB, Dr. Frans Tshai (MP/Dickie Prasetia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Dikotomi pribumi dan non pribumi sudah dihapus melalui Inpres Nomor 26 Tahun 1998. Instruksi Presiden tersebut dengan terang benderang menghentikan pemakaian istilah pribumi dan non pribumi dalam segala bentuk penyelenggaraan pemerintahan.

Dus, konsekuensi hukumnya jelas. Barang siapa apalagi penyelenggara negara seperti gubernur, bupati, camat, lurah dan semua perangkatnya yang masih menggunakan istilah pribumi dan non pribumi melawan Inpres No 26 Thn 1998.

Politisi yang juga aktivis Tionghoa, Frans Tshai mengajak semua pihak untuk lebih jernih dan bijak melihat dikotomi pribumi dan non pribumi sebagai jargon kolonial. Sebab, menurut kader Partai Demokrat ini, pribumi dan non pribumi sudah tidak relevan lagi. Meski kata pribumi sekelebat disinggung dalam pidato politik Anies Baswedan yang nota bene Gubernur DKI Jakarta.

“Sudah tidak relevan lagi istilah warga keturunan dan warga asli. Sebab kita tidak pernah minta dilahirkan dari suku, ras dan agama apapun. Prinsipnya kita ini dimanapun kita berada hendaknya bisa berguna bagi sesama, “ujar Frans Tshai secara khusus kepada merahputih.com di Gading Serpong, Selasa (17/10).

Frans Tshai menjelaskan bahwa dalam konteks Indonesia, sebetulnya istilah pribumi dan non pribumi lebih merujuk kepada rekayasa bahasa yang secara politis dipakai mengucilkan kelompok tertentu.

“Istilah pribumi dan non pribumi itu warisan zaman dulu. Kalau kita terus hidup di masa lalu, kita tidak pernah akan ke depan. Secara politis, istilah itu dipakai untuk mengucilkan sekelompok manusia, warga negara yang dikatakan pribumi, “terang Frans.

Frans Thsai
Wakil Ketua Dewan Pembina FPAB Dr. Frans Tshai (MP/Dickie Prasetia)

Wakil Ketua Dewan Pembina Forum Persaudaraan Anak Bangsa (FPAB) ini secara retoris mempertanyakan, siapa yang dimaksudkan pribumi dan non pribumi di Tanah Air.

“Sekarang saya bertanya, yang pribumi itu siapa sih? Orang Kalimantan, pribuminya siapa? Saudara-saudara dari suku Dayak, emang dia datang lebih dulu akhirnya ke pedalaman. Suku lain yang datang belakangan, mendiami pesisir, demikian juga yang lain-lain sama saja. Jadi jangan main klaim pribumi dan non pribumi karena itu sangat-sangat tidak baik. Kalau orang Jawa ke Kalimantan Barat, apakah dia disebut pribumi? Saya bilang bukan. Karena dia lahir di Jawa dan bukan Kalimantan Barat, “papar Frans seraya mencontohkan Bung Karno sebagai figur pemersatu bangsa yang ulung.

Frans Tshai menyarankan cara terbaik menghentikan pemakaian dikotomi pribumi dan non pribumi dalam masyarakat melalui disiplin penegakan hukum.

“Salah satu masalah kita adalah disiplin. Khususnya disiplin dalam menegakan hukum. Aturan banyak, tapi kalau tidak ditegakan orang tidak takut melanggarnya. Jelas-jelas yang mengenai pribumi dan non pribumi udah melanggar, ada ga yang berani berinisiatif mengatakan telah terjadi pelanggaran dan sanksinya apa, “tegas Frans.

Sebab, menurut Frans hukum harus menjadi panglima di tengah anomali sosial politik. Dengan tindakan hukum yang tegas, niscaya dikotomi yang bersifat memecah-belah persatuan bangsa dapat teratasi.

“Kalau ini bisa ditegakan maka akan menjadi contoh bagi orang-orang di masa mendatang akan paham bahwa hal itu boleh lagi karena pemerintah atau negara bertindak tegas melindungi setiap komponen bangsa, tidak membeda-bedakan mereka, “katanya.

Politisi yang mengaku mendapat banyak pertanyaan dan aduan masyarakat terkait pernyataan pribumi dalam pidato Anies Baswedan itu menyatakan, bahwa saat ini bukan masalah pribumi dan non pribumi yang menjadi persoalan utama bangsa. Masih banyak masalah lain yang butuh perhatian serius dari semua komponen bangsa.

“Sudah tidak relevan lagi istilah warga keturunan dan warga asli. Sebab kita tidak pernah minta dilahirkan dari suku, ras dan agama apapun. Prinsipnya kita ini dimanapun kita berada hendaknya bisa berguna bagi sesama. Saya ingin mengutip pernyataan fisikawan Albert Einstein bahwa hanya hidup berguna bagi orang lain adalah hidup yang bermakna. Ini pernyataan yang sangat dalam maknanya, “pungkas Frans Tshai.(*)

#Tionghoa #Pribumi Non Pribumi #Pribumi #Anies Baswedan #Gubernur DKI Jakarta
Bagikan
Ditulis Oleh

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian

Berita Terkait

Indonesia
Pemprov DKI Mulai Bongkar 109 Tiang Monorel Terbengkalai di Rasuna Said
Pemprov DKI Jakarta mulai membongkar 109 tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said yang terbengkalai selama lebih dari 21 tahun demi penataan kota.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Januari 2026
Pemprov DKI Mulai Bongkar 109 Tiang Monorel Terbengkalai di Rasuna Said
Indonesia
Pramono Anung Resmikan Waduk Batu Licin di Cipayung, Perkuat Pengendalian Banjir
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Waduk Batu Licin di Cipayung, Jakarta Timur. Waduk ini berfungsi mengendalikan banjir sekaligus ruang publik.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 12 Januari 2026
Pramono Anung Resmikan Waduk Batu Licin di Cipayung, Perkuat Pengendalian Banjir
Indonesia
Hadiri Haul ke-85 M.H. Thamrin, Pramono Anung Tegaskan Komitmen Jaga Nilai Perjuangan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri haul ke-85 M.H. Thamrin dan menegaskan komitmen menjaga nilai perjuangan serta identitas Betawi.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 11 Januari 2026
Hadiri Haul ke-85 M.H. Thamrin, Pramono Anung Tegaskan Komitmen Jaga Nilai Perjuangan
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Peluk Anies, Beban Korban Bencana Alam di Aceh Tamiang Langsung Hilang
Beredar narasi di media sosial yang menyebut kehadiran Anies di lokasi bencana alam Aceh membuat beban korban hilang. Cek kebenaran informasinya!
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 09 Januari 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Peluk Anies, Beban Korban Bencana Alam di Aceh Tamiang Langsung Hilang
Indonesia
PAM Jaya Bangun Gedung Sentra Pelayanan, Gubernur Pramono: Fondasi Layanan Air Jakarta Kian Kuat
Gubernur DKI Jakarta mendukung pembangunan Gedung Sentra Pelayanan PAM Jaya sebagai pusat layanan dan edukasi air.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Januari 2026
PAM Jaya Bangun Gedung Sentra Pelayanan, Gubernur Pramono: Fondasi Layanan Air Jakarta Kian Kuat
Indonesia
Gubernur Pramono Dorong Percepatan MRT Jakarta hingga Kota Tua, Ditargetkan Beroperasi 2029
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan MRT Jakarta Fase 2A hingga Kota Tua beroperasi pada 2029. Groundbreaking Duta Merlin segera dimulai.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Januari 2026
Gubernur Pramono Dorong Percepatan MRT Jakarta hingga Kota Tua, Ditargetkan Beroperasi 2029
Indonesia
Pramono Anung Dorong PAM Jaya IPO 2027, Saham Publik Maksimal 30 Persen
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong PAM Jaya IPO pada 2027 dengan porsi saham publik maksimal 30% agar kendali layanan air tetap di tangan Pemprov.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Januari 2026
Pramono Anung Dorong PAM Jaya IPO 2027, Saham Publik Maksimal 30 Persen
Indonesia
Presiden Prabowo Ungkap Dukungan untuk Gubernur DKI Jakarta, Pramono: kalau sudah Jadi Gubernur enggak Ada Urusan Kepartaian
Pramono mengatakan dukungan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah tak berurusan dengan partai politik.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Presiden Prabowo Ungkap Dukungan untuk Gubernur DKI Jakarta, Pramono: kalau sudah Jadi Gubernur enggak Ada Urusan Kepartaian
Indonesia
Monorel Mangkrak Rasuna Said Dibongkar Januari 2026, Pramono: Tanpa Penutupan Jalan
Gubernur DKI Jakarta memastikan pembongkaran monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said dilakukan tanpa penutupan jalan dan tidak mengganggu lalu lintas.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 06 Januari 2026
Monorel Mangkrak Rasuna Said Dibongkar Januari 2026, Pramono: Tanpa Penutupan Jalan
Indonesia
Tawuran Berulang di Manggarai, Pramono Anung: Ada yang Sengaja Memicu
Gubernur DKI Jakarta menduga ada pihak tertentu yang sengaja memicu tawuran di Manggarai. Pemprov DKI menyiapkan solusi lewat penyediaan lapangan kerja.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 06 Januari 2026
Tawuran Berulang di Manggarai, Pramono Anung: Ada yang Sengaja Memicu
Bagikan