Merahputih.com - Gulungan ombak Pantai Kuta mendadak menjadi panggung megah perayaan Hari Kartini 2026 dengan penuh warna. Di balik riuhnya deburan air, tampak kain-kain kebaya warna-warni melambai tertiup angin laut, namun bukan untuk parade busana biasa.
Keheningan dunia tidak menghalangi langkah sekumpulan remaja perempuan hebat ini untuk melompat ke atas papan selancar dan menari bersama ombak.
Baca juga:
10 Twibbon Hari Kartini yang Sedang Viral dan Cara Menggunakannya, Bisa Dibagikan di Medsos
Sejumlah remaja perempuan anggota peselancar tuli membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran justru menjadi kekuatan fokus luar biasa. Melalui ajang bertajuk Kartini Go Surf 2026, para peselancara tuli merayakan emansipasi dengan cara ekstrem sekaligus elegan.
“Perasaan ikut acara ini senang sekali. Meskipun memakai kebaya, itu bukan tantangan. Tidak ada masalah, ayo dukung acara Kartini ini,” tutur Ayu Intan Melisa Maharani melalui bantuan penerjemah sebagaimana dikutip Antara, Selasa (21/4).
Keseimbangan dalam Keheningan
Ayu Intan bersama lima rekan dalam Team Corti Deaf Surfers menunjukkan ketangkasan meliuk-liuk di atas air. Hobi berselancar sejak 2022 membawanya pada keberanian tinggi mengikuti kegiatan tahunan ini untuk ketiga kalinya.
Kehadiran para peselancar difabel ini mendapat apresiasi besar dari peserta lain, termasuk Salini Rengganis. Peselancar asal Pacitan tersebut mengaku kagum atas semangat inklusivitas yang tercipta di pesisir Bali.

Baginya, berselancar mengenakan busana tradisional merupakan bentuk penghormatan tertinggi bagi semangat juang Kartini.
“Biasanya kita memakai baju desain khusus surfing, tapi kali ini pasti kebayanya terhempas ombak. Itu tantangannya. Setiap kayuhan selalu ada semangat dalam diri, ayo ombak selanjutnya pasti bisa,” ujar Salini penuh energi.
Laut Sebagai Guru Keadilan
Ketua Yayasan Corti, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, memandang laut sebagai ruang publik paling jujur tanpa sekat diskriminasi.
Baginya, momen ini merupakan manifestasi nyata nilai-nilai Raden Ajeng Kartini dalam konteks modern. Ketidakmampuan mendengar justru membuat para remaja ini mampu melakukan meditasi alami saat fokus menaklukkan ombak.
“Ini bukan sekadar eksibisi berselancar dengan berkain dan kebaya melainkan perayaan atas martabat dan emansipasi. Laut adalah guru adil, ia tidak membedakan gender, ia tidak peduli apakah seseorang bisa mendengar atau tidak. Laut hanya menuntut keseimbangan, keberanian, dan resiliensi,” tegas Mirah.
Baca juga:
10 Ucapan Peringati Hari Kartini 2026: Inspirasi Perempuan Mandiri dan Berkarya
Pihak yayasan kini menargetkan kemahiran berselancar tersebut mampu membuka pintu peluang ekonomi bagi para peselancar tuli.
Ke depan, para peselancara tuli diproyeksikan mampu meraih prestasi di kancah nasional maupun internasional, hingga menjadi pelatih selancar profesional. Melalui ombak Kuta, pesan kesetaraan dan kemandirian tersampaikan dengan lantang meski tanpa suara.