Pesan Ramadan Ketua Komisi Fatwa MUI: Kita Disuruh Menjaga Lidah
Ketua Komisi Fatwa MUI Huzaimah Tahido Yanggo
MerahPutih.Com - Bulan ramadan merupakan bulan yang paling dikeramatkan kaum muslim di penjuru dunia. Sebab, pada bulan ini, Allah menjanjikan limpahan keberkahan dan ampunan bagi setiap hamba-nya yang betul-betul menjalankan perintahNya.
Selain itu, Allah juga menjanjikan ganjaran berlipat ganda bagi siapa saja yang berbuat amal soleh dan kebajikan di bulan tersebut. Tak hanya itu, di bulan suci ini Allah juga memberikan hadiah berupa malam "Lailatul Qadar" bagi siapa pun yang dikehendakinya.
Malam "Lailatul Qadar" disebut merupakan malam terbaik dibandingkan seribu bulan, dimana Allah mengganjar pahala yang berlipat ganda bagi setiap hambanya yang beramal soleh.
Karenanya, di bulan suci ini umat Islam dianjurkan beribadah dan berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya. Hal itu pula yang dipesankan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bagi masyarakat muslim yang menjalankan ibadah puasa.
"Selama dalam ramadan agar memperbanyak ibadah zikir dan amalan yang baik, manfaatkan waktu dengan sebaiknya beribadah sebanyak-banyaknya kepada Allah. Karena bulan ini berbeda dengan bulan yang lain," imbau Ketua Komisi Fatwa MUI Huzaimah Tahido Yanggo saat ditemui merahputih.com baru-baru ini.
Dia menganjurkan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan waktu dengan melakukan hal yang tidak penting dan menjauhi seluruh perbuatan yang menjerumuskan kepada kemaksiatan dan dosa.
"Kita disuruh menjaga lidah, memperbanyak membaca quran dan salat sunat lainnya," imbuh dia.
Sebab dengan amalan-amalan itu, tuturnya akan mendidik umat agar lebih baik setelah ramadan, lebih progres dan meningkat dari segi kualitas keimanan pada bulan-bulan berikutnya.
"Ibarat orang lulus sekolah, ramadan menjadi tahap latihan, penataran. Dikatakan lulus setelah orang itu selesai berpuasa dan berlebaran di bulan Syawal, bulan peningkatan," terangnya.
Dia menambahkan, seseorang yang betul-betul melaksanakan ibadah puasa ramadan akan terlihat bekasnya saat bulan Syawal menjelang.
"Biasanya ada peningkatan keimanan dan amalan soleh yang diterapkan di bulan Syawal dan seterusnya. Makanya pada Syawal itu disebut idul fitri (kembali kepada kesucian)," terangnya.(Fdi)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Hukum Non Muslim Bagikan Takjil, Begini Penjelasan MUI
Bagikan
Berita Terkait
Wakil Ketua Komisi IX DPR Usul 2 Skenario Pembagian MBG selama Ramadan
BHR Ojol Bakal Kembali Diberlakukan di Lebaran 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Kebijakan Makan Bergizi Gratis Ditolak Digelar saat Bulan Puasa karena Bertentangan dengan Nilai Agama
MUI Isyaratkan Dukungan Pilkada Lewat DPRD, Soroti Politik Uang dan Biaya Tinggi
Korban Banjir dan Longsor di Sumatra Capai 753 Jiwa, MUI: Mereka Mati Syahid
MUI Minta Umat Islam Gelar Shalat Gaib untuk Korban Longsor dan Banjir di Sumut
DPR RI Khawatir Fatwa MUI Tentang Pajak Daerah Akan Membuat Fiskal Daerah Indonesia Runtuh
MUI Keluarkan Fatwa Soal Pajak, Dirjen Segera Tabayyun Biar Tidak Terjadi Polemik
Roy Suryo Cs Dijadikan Tersangka Kasus Dugaan Hoaks Ijazah Palsu Jokowi, Ketum MUI : Pelajaran agar tak Gampang Caci Maki Orang Lain
MUI Tolak Keikusertaan Tim Israel dalam Kejuaraan Dunia Senam di Jakarta