Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Musik

Personel The Flaming Lips dan Slowdive Bentuk Supergrup ‘Beachy Head’

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 25 Maret 2021
Personel The Flaming Lips dan Slowdive Bentuk Supergrup ‘Beachy Head’

Rachel Goswell dari Slowdive. (Foto: guitar.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PASCA terbentuknya supergrup hip-hop Westmore yang beranggotakan Snoop Dogg, Ice Cube, E-40 dan Too Short, kini giliran para musisi dari scene alternatif mendirikan supergrup bernama Beachy Head.

Bagaimana tidak, supergrup ini terdiri Rachel Goswell dan Christian Savill dari Slowdive, Matt Duckworth dari The Flaming Lips, Ryan Graveface dari Casket Girls dan Dreamend, dan Steven Clarke dari The Soft Cavalry.

Baca juga:

Snoop Dogg, Ice Cube, E-40, dan Too Short Bentuk Mt. Westmore

Beachy Head memperkenalkan diri dengan merilis sebuah single berjudul Destroy Us, hadir sebagai lagu lo-fi/ethereal yang telah dirilis melalui situs Bandcamp.

Debut album bertajuk Self Titled ini, kabarnya akan dirilis pada 30 April 2021 mendatang, melalui label rekaman eponim Graveface.

Nama Beachy Head diambil dari sebuah tebing kapur di kawasan Sussex, Inggris. Dimana tempat tersebut merupakan salah satu kawasan wisata paling populer di Inggris, tetapi juga tempat bunuh diri yang cukup terkenal.

Menurut liner note yang terdapat di Bandcamp, Beachy Head menjelaskan bahwa pembuatan album mereka dilakukan secara bertahap.

Pada 2019 Christian Savill mendapati dirinya yang tengah sendirian, lalu ia mulai menulis dan mendemokan lagu ciptaannya tanpa ada intensi apapun dalam pikirannya.

“Ryan dan Christian melengkapinya saat di Savannah (Georgia) tepat sebelum COVID-19 melanda. Matt Duckworth menambahkan bagian drum. Ketika lockdown kembali diberlakukan di Inggris, Steve menambahkan harmoni dan instrumentasi lainnya. Sentuhan terakhir dari rekaman ini adalah Rachel Goswell yang menyumbangkan vokal pada beberapa lagu,” tulis Beachy Head.

Baca juga:

The Flaming Lips Sukses Gelar Konser Gelembung di Tengah Pandemi

Seperti yang diketahui, The Flaming Lips merupakan unit psychedelic rock yang terbentuk pada 1983 di Oklahoma City, Amerika Serikat. Mereka dikenal dengan pertunjukan mereka yang selalu tidak biasa, dengan menggunakan aksesori seperti balon, boneka, proyeksi video dan sebagainya.

The Flaming Lips juga memiliki ciri khas sebagai kelompok musik yang menggunakan tema sains fiksi di setiap lagu dan pertunjukannya.

Sementara, Slowdive adalah band beraliran shoegaze yang terbentuk pada 1989 di Reading, Berkshire, Inggris. Dibentuk oleh Neil Halstead dan Rachel Goswell, keduanya dikenal sudah berteman sejak mereka berusia enam tahun.

Nama Slowdive sendiri terinspirasi oleh dua peristiwa, mimpi yang dialami oleh salah satu personel, Nick Chaplin dan pecakapan dengan Goswell, ia yang menyarankan Slowdive menjadi nama single dari salah satu band favoritnya, Siouxsie and the Banshees. (far)

Baca juga:

Abu Kremasi Lemmy Kilmister Dikemas dalam Bentuk Peluru

#Musik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Kisah di Balik Lagu 'Gloryland', Anthem Resmi Piala Dunia 1994
'Gloryland' menawarkan atmosfer yang inspiratif dengan lirik yang menekankan harapan, persatuan, perjuangan, dan tekad untuk meraih kemenangan.
Dwi Astarini - Jumat, 24 Juli 2026
Kisah di Balik Lagu 'Gloryland', Anthem Resmi Piala Dunia 1994
ShowBiz
Makna Lagu 'Un'estate Italiana', Lagu Tema FIFA World Cup 1990
Liriknya mengisahkan tentang mimpi, harapan, persatuan, dan perjuangan untuk menjadi yang terbaik, selaras dengan semangat yang mewarnai ajang Piala Dunia.
Dwi Astarini - Kamis, 23 Juli 2026
Makna Lagu 'Un'estate Italiana', Lagu Tema FIFA World Cup 1990
ShowBiz
Setelah 20 Tahun, Discus Resmi Merilis 'Live in Switzerland 2005' dalam Format CD
Lebih dari 20 tahun tersimpan sebagai rekaman legendaris, penampilan bersejarah Discus di ProgSol Festival Swiss akhirnya resmi dirilis dalam format CD.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 Juli 2026
Setelah 20 Tahun, Discus Resmi Merilis 'Live in Switzerland 2005' dalam Format CD
ShowBiz
Lirik 'La Copa de la Vida' dari Ricky Martin, Lagu Tema Piala Dunia yang tak Lekang Waktu
Lagu yang dirilis pada 1998 sebagai bagian dari album Vuelve ini memadukan unsur Latin pop, samba, dan musik dansa dengan irama yang penuh energi.
Dwi Astarini - Kamis, 23 Juli 2026
Lirik 'La Copa de la Vida' dari Ricky Martin, Lagu Tema Piala Dunia yang tak Lekang Waktu
ShowBiz
Resmi! for Revenge Jadi Pengisi Lagu Original Film 'Spider-Man: Brand New Day'
for Revenge resmi dipercaya membawakan lagu original versi Indonesia untuk film Spider-Man: Brand New Day.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 Juli 2026
Resmi! for Revenge Jadi Pengisi Lagu Original Film 'Spider-Man: Brand New Day'
ShowBiz
Makna Lagu 'When I'm Home', Soundtrack Emosional 'The Odyssey'
The Odyssey hanya menghadirkan satu lagu sebagai soundtrack utama, yakni When I'm Home (2026).
Dwi Astarini - Kamis, 23 Juli 2026
Makna Lagu 'When I'm Home', Soundtrack Emosional 'The Odyssey'
ShowBiz
Dream Catcher! Tuangkan Kisah Romansa Remaja dalam EP Debut Self Titled
EP yang diproduksi secara independen ini menghadirkan lima lagu yang disusun sebagai sebuah narasi utuh.
Dwi Astarini - Kamis, 23 Juli 2026
Dream Catcher! Tuangkan Kisah Romansa Remaja dalam EP Debut Self Titled
ShowBiz
Miki Matsubara Cetak Sejarah, 'Mayonaka no Door~stay with me' Tembus 500 Juta Streaming
Dirilis sejak 1979, 'Mayonaka no Door~stay with me' Miki Matsubara kembali mencetak sejarah. Lagu City Pop Jepang ini kini telah melampaui 500 juta streaming Spotify.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 22 Juli 2026
Miki Matsubara Cetak Sejarah, 'Mayonaka no Door~stay with me' Tembus 500 Juta Streaming
ShowBiz
Supple Rilis Album 'Nothing Can Explain', Hadirkan Eksplorasi Musik yang Lebih Matang
Supple membuka fase baru lewat album Nothing Can Explain. Delapan lagu dalam rilisan ini membawa pendengar menyusuri penyangkalan, obsesi, tekanan sosial, hingga survivor's guilt.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 22 Juli 2026
Supple Rilis Album 'Nothing Can Explain', Hadirkan Eksplorasi Musik yang Lebih Matang
Indonesia
Pencatatan Hak Cipta Lagu Kini Gratis, DJKI Berlakukan Tarif Rp 0 Mulai 1 Agustus 2026
Mulai 1 Agustus 2026, pencatatan hak cipta lagu dan musik resmi digratiskan. DJKI berharap kebijakan ini mendorong lebih banyak musisi mendaftarkan karya.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 22 Juli 2026
Pencatatan Hak Cipta Lagu Kini Gratis, DJKI Berlakukan Tarif Rp 0 Mulai 1 Agustus 2026
Bagikan