PENEMUAN vaksin tepat untuk COVID-19 masih berlangsung. Hingga kini, baru dilakukan penelitian pendahuluan tentang efek samping keamanan vaksin COVID-19 dari Pfizer dan Moderna. Secara keseluruhan, vaksin Pfizer dikatakan aman, begitu juga dengan vaksin dari Moderna yang menunjukkan tidak ada masalah keamanan yang serius.
Meskipun demikian, seperti vaksinasi lainnya, penerima dapat mengalami beberapa efek samping dari vaksin COVID-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), seperti dikutip Antara, menyebut efek samping itu antara lain nyeri dan bengkak di lokasi suntikan, demam, menggigil, lelah dan sakit kepala.
BACA JUGA:
'Hantaman' Pandemi COVID-19 Tak Menyurutkan Daya Beli Konsumen Indonesia
Wakil Presiden Program Farmasi dan Layanan Diagnostik di ZOOM+Care Thad Mick mengatakan efek samping vaksin COVID-19 lainnya mungkin termasuk nyeri otot dan nyeri sendi. Dari apa yang diketahui, sebagian besar efek samping amat mungkin akan muncul dalam satu atau dua hari pertama setelah menerima vaksin. "Tetapi mungkin berpotensi muncul kemudian,” ujarnya seperti dilansir Shape, Kamis (17/12).
Jika efek samping itu disebut sangat mirip dengan gejala COVID-19, itu karena pada dasarnya memang demikian. Vaksin tersebut merangsang sistem kekebalan untuk melawan virus. Demikian dijelaskan dokter anak di California, Richard Pan.
Dia menegaskan hal itu tidak berarti vaksin COVID-19 dapat memberi kamu COVID-19 karena mRNA dari vaksin tidak secara permanen memengaruhi sel. Sebaliknya, mRNA itu hanyalah cetak biru sementara dari lonjakan protein yang terletak di permukaan virus. “Cetak biru ini sangat rapuh. Oleh karena itu, vaksin harus disimpan dalam suhu yang sangat dingin sebelum digunakan,” kata Pan.
Tubuh pada akhirnya menghilangkan cetak biru itu setelah kamu divaksinasi. Namun, antibodi yang kamu kembangkan sebagai respons akan tetap ada.
CDC menyatakan perlu lebih banyak data untuk mengkonfirmasi berapa lama antibodi yang dibangun dari vaksin COVID-19 akan bertahan.
Lalu, seberapa umum efek samping vaksin COVID-19?
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) masih mengevaluasi data tentang seberapa umum efek samping COVID-19 yang mungkin terjadi pada populasi umum. Pan mengatakan, untuk saat ini, informasi dari Pfizer dan Moderna tentang uji klinis skala besar mereka menunjukkan sejumlah kecil orang akan mengalami gejala yang signifikan, tetapi sifatnya sementara setelah menerima vaksin COVID-19.
Uji coba Moderna menunjukkan sebanyak 2,7% orang mengalami nyeri di tempat suntikan setelah dosis pertama. Setelah dosis kedua yang diberikan empat minggu setelah suntikan pertama sekitar 9,7% orang mengalami kelelahan.
Selain itu, sebanyak 8,9% penerima melaporkan nyeri otot, 5,2% mengalami nyeri sendi, 4,5% melaporkan sakit kepala, 4,1% mengalami nyeri, dan 2% mengalami kemerahan di tempat suntikan.
Efek itu tak jauh berbeda dengan vaksin COVID-19 Pfizer. Hasil uji coba mereka memperlihatkan sebanyak 3,8% penerima melaporkan kelelahan dan 2% mengalami sakit kepala setelah dosis kedua yang diberikan tiga minggu setelah suntikan pertama.
Kurang dari 1% peserta dalam uji klinis melaporkan demam dan sejumlah kecil partisipan uji, yakni 0,3%, juga melaporkan pembengkakan kelenjar getah bening yang umumnya sembuh dalam 10 hari setelah vaksinasi.
Menurut Pan, walau bersifat sementara dan tampaknya tidak terlalu umum, efek samping itu bisa jadi cukup signifikan. Dengan begitu, beberapa orang mungkin perlu melewatkan satu hari kerja setelah divaksinasi.
Selain efek tersebut, ada juga kekhawatiran tentang reaksi alergi terhadap vaksin COVID-19 Pfizer. Terkait hal itu, FDA menyatakan individu dengan riwayat reaksi alergi parah misalnya anafilaksis tidak boleh divaksinasi sementara ini.(dwi)
BACA JUGA: