Kesehatan

Perlu Ditingkatkan, Penanganan Aritmia di Indonesia

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 29 Agustus 2023
Perlu Ditingkatkan, Penanganan Aritmia di Indonesia

Penanganan Aritmia di Indonesia masih minim.(foto: Merahputih.com/Aqil Baihaqi)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APAKAH kamu pernah mengecek irama jantung? Jika belum pernah, kamu bukan satu-satunya. Pemeriksaan irama jantung mungkin acap terlewat. Hal itulah yang membuat kondisi kelainan irama jantung menjadi salah satu pembunuh senyap.

Pengecekan irama jantung perlu kamu lakukan jika tiba-tiba kamu merasa detak jantungmu berdebar keras, padahal kamu tidak melalukan apa apa, atau merasakan detak jantung yang terlalu lemah. Kedua gejala itu bisa jadi penanda aritma. "Pasien bisa saja tidak ada keluhan. Namun, itu justru sangat berbahaya. Ada risiko terjadi komplikasi dari aritmia yang tak disadari," jelas penasihat InaHRS Dr dr Dicky Armein Hanafy, Sp.JP (K) FIHA, FAsCC pada sesi jumpa pers Satu Dekade InaHRS: An Overview and Outlook di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat, Selasa (29/8).

BACA JUGA:

Grid 3D Mapping System, Tindakan Canggih untuk Atasi Gangguan Jantung Aritmia

Aritmia atau gangguan irama jantung dapat berupa denyut jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau denyut jantung yang tidak teratur. Gejala aritmia ini sangat berbahaya jika tidak ditangani langsung karena akan menyebabkan kematian jantung mendadak.

PERITMI
Aritmia tanpa keluhan menjadi hal yang berbahaya karena akan terjadi komplikasi.(foto: Merahputih.com/Aqil Baihaqi)

Untuk mencegah terjadinya hal itu, sudah ada alat yang diciptakan untuk mencegah kematian jantung mendadak yang disebut ICD (implantable cardioverter defibrator). Alat itu nantinya akan dipasangkan di dalam dada untuk mengembalikan irama jantung. "Cara kerja alat ini untuk memantau jantung dan akan memberikan kejut listrik ke jantung pada saat pasien berisiko mengalami henti jantung," jelas Dicky

Sayangnya, di Indonesia, penanganan kasus aritmia sangatlah minim. Menurut Ketua Perhimpunan Aritmia Indonesia (Peritmi) dan Presiden InaHRS dr Sunu Budhi Raharjo, Sp.JP (K), PhD menjelaskan, untuk pengangan kasus aritmia, jumlah dokter yang memahami ilmu ini sangat sedikit. "Kurang lebih hanya 46 dokter spesialis jantung yang ahli aritmia di Indonesia sampai 2023 ini. Aksesnya juga masih terbatas. Cuma ada di Jakarta, jadi tata laksana aritmia ini belum bisa dijangkau masyarakat di luar sana," ucapnya.

BACA JUGA:

Mengenal Operasi Hybrid, Tindakan Pengobatan untuk Kesehatan Jantung

Akibat akses untuk pencegahan kematian jantung mendadak masih minim, jumlah kematian disebabkan kondisi ini cukup banyak. "Kematian pada penyakit ini mencapai lebih dari 100 ribu jiwa per tahun. Karena tindakan terhadap penyakit ini masih minim, khususya pada pemasangan alat ICD. Kita (Indonesia) tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Jepang, dan Filipina yang notabene mirip dengan kita." jelasnya.

Faktor lainnya juga terkait soal biaya alat ICD yang tergolong tinggi sehingga tidak bisa dibeli semua orang. "Alat ini harganya tidak murah. Satu alat ini seharga Rp 130 juta sampai Rp 140 juta. Namun, BPJS hanya meng-cover Rp 30 juta. Ini tidak sampai setengahnya, jadi ini juga merupakan kendala bagi kami," tambahnya.

peritmi
Penganan Aritmia di indonesia masih sulit dijangkau.(foto: Merahputih.com/Aqil Baihaqi)

Ia berharap penanganan aritma dapat dilakukan di seluruh rumah sakit di Indinesia, agar bisa mendapapatkan cakupan yang luas" ujarnya.

Sebagai penanda satu dekade usianya, Indonesia Heart Rythm Society (InaHRSl atau Peritmi menyerukan pentingnya peningkatan pelayanan kesehatan Aritmia Indonesia. Organisasi ini sdkaligus menghimbau dukungan dan keterlibatan seluruh lini baik dalam pencegahan, penanganan maupun peningkatan pengetahuan tentang penyakit ini.(aqb)

BACA JUGA:

Waspada, Ini Cara Bedakan Nyeri Dada Biasa dengan Sakit Jantung

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan