MerahPutih.com - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan dugaan penyebab pemadaman listrik atau blackout yang terjadi di Batam, Kepulauan Riau.
Penyebabnya berasal dari sejumlah persoalan teknis, termasuk gangguan jaringan akibat petir hingga dugaan hewan yang terkena jaringan listrik.
Baca juga:
PLN Batam Bantah Isu Blackout Sengaja Direncanakan 3 Hari, Listrik Dijatah 6 Jam
Bahlil Ungkap Penyebab Blackout di Batam
Bahlil menyebutkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, terdapat beberapa kendala teknis dalam pengelolaan jaringan listrik di wilayah tersebut.
Ada beberapa persoalan teknis di wilayah Batam dan ada beberapa jaringan yang kena trouble karena ada petir, menurut mereka. Dan ada kesalahan teknis lah, kira-kira begitu.
kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (14/10)
Ia menambahkan, salah satu dugaan penyebab gangguan tersebut berkaitan dengan hewan, yang disebutnya kemungkinan kelelawar.
Namun, Bahlil tidak mengungkapkan lebih lanjut mengenai kronologi hingga keterkaitan faktor tersebut dengan pemadaman listrik.
"Teknisnya itu ada tiga, salah satu di antaranya adalah katanya ada hewan atau apa yang kena kelelawar atau apa, kira-kira begitu ya," tambah Bahlil.
Baca juga:
Pemerintah Belum Bahas Kompensasi bagi Masyarakat yang Terdampak Blackout
Bahlil juga mengatakan, bahwa gangguan tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam upaya memperbaiki pelayanan kelistrikan kepada masyarakat. Menurutnya, perbaikan perlu dilakukan secara lebih intensif di sejumlah daerah.
Lalu, persoalan tersebut berada pada tingkat implementasi yang dikelola oleh PT PLN (Persero), sehingga perlu ditelusuri lebih lanjut berdasarkan evaluasi teknis perusahaan.
Terkait kemungkinan pemberian kompensasi kepada masyarakat yang terdampak pemadaman, Bahlil mengatakan akan membicarakan hal tersebut terlebih dahulu dengan pihak PLN.
"Saya nanti akan bicarakan terlebih dahulu dengan teman-teman dari PLN. Karena PLN yang paling tahu secara teknis implementasi di lapangan," katanya. (*)