HIDUP nyaman dan enjoy bagi buruh katanya hanyalah angan-angan yang mengawang. Dengan upah yang diterima, banyak buruh yang mengaku belum bisa hidup nyaman. Ujung-ujungnya, mereka harus berjuang untuk penaikan upah. Caranya?
Ya, salah satunya ialah menggelar demo. Momen Hari Buruh Internasional jadi saat paling tepat untuk menyampaikan keinginan naik gaji itu. Namun, kalau mau sedikit menggali ide, selain berjuang lewat demo untuk penaikan gaji, buruh bisa mengatur siasat kok untuk hidup nyaman dengan gaji yang ada.
Komponen untuk hidup nyaman itu enggak banyak
Sebagai pekerja di perusahaan, buruh tentunya menerima gaji atas kerja yang mereka lakukan. Kalau kamu berpikir buruh hanya pekerja kasar pabrik, kamu keliru. Pekerja kantoran yang berdasi di kantor ber-AC juga masih terhitung buruh. Kenapa? Ya, karena semua tenaga kerja yang bekerja untuk perusahaan disebut buruh.
Para buruh ini rela memeras keringat dari pukul 09.00, bahkan lebih pagi jika dihitung dengan durasi perjalanan ke kantor, hingga pukul 17.00--bisa lebih kalau harus lembur. Alasan semua buruh rela kerja keras bagai kuda pastilah sama: demi bisa hidup nyaman.
Untuk bisa hidup nyaman, ada komponen yang harus dipenuhi. Menurut ahli perencanaan keuangan Prita Ghozie, untuk hidup yang nyaman, ada 3 hal dasar yang harus dipenuhi. "Ada tiga, yaitu memiliki hunian rumah tinggal, punya kemampuan membeli makanan dan minuman, serta kemampuan membeli pakaian," jelas Prita saat dihubungi Merahputih.com.
Ketiga hal itu, meskipun kelihatannya berat untuk dicapai bersamaan, bukan berarti enggak mungkin dimiliki lho ya. Kalau sekarang kamu belum bisa beli rumah, tinggal bersama orangtua bisa jadi pilihan. Namun, jangan terlena, kamu yang bekerja tetap harus punya gaya untuk bisa punya rumah sendiri suatu saat nanti. Prita pun menyarankan kamu untuk terlebih dahulu memahami kemampuan finansial kamu. "Dari sana, kamu bisa menyesuaikan biaya hidup dengan pemasukan yang dimiliki," jelasnya.
Bagi yang sudah berkeluarga, Prita menyarankan agar kamu dan pasangan sama-sama berpenghasilan. "Jika tanggungan terlalu banyak, pasangan juga harus mau untuk produktif dan berpenghasilan," sarannya.
Kalau yang masih single gimana dong? Perhitungan keuangan kamu jadi lebih simpel. Tinggal terapkan konsep 75:25. "Apabila penghasilan sekitar UMP, dibagi dengan konsep 75% untuk pembayaran wajib dan 25% untuk dana darurat dan tabungan," imbuhnya.
Hidup nyaman itu enggak hanya untuk saat ini
Dari pembagian itu, komponen tabungan jangan sampai kamu lewatkan lho ya. Pasalnya, menurut Prita, untuk mencapai taraf nyaman dalam hal finansial, kamu terlebih dahulu harus punya pola pikir bahwa hidup enggak hanya untuk hari ini, tapi juga bulan depan, dan masa depan.
Jadi nih, kalau memakai hitungan UMP DKI Jakarta sebesar Rp3.940.000, kamu seharusnya paling tidak menabung sebesar Rp985.000. Tabungan itu bisa jadi gaya kamu untuk memenuhi komponen hidup nyaman tadi, semisal membeli rumah.
Nah, kalau gaji buat nabung, kapan-kapan enjoy dan senang-senangnya dong? Boleh saja kok bersenang-senang dan menikmati hiburan. Namun, tetap lakukan itu dengan perencanaan keuagan yang ketat. Sekali aja nih kamu bobol karena tergoda ngopi cantik dan nge-mall tiap hari, siap-siap deh untuk keteteran dalam urusan keuangan.
Merencanakan keuangan bagi para pekerja sering kali dianggap sepele. Padahal hal itu amat penting dan krusial untuk dilakukan. Perencanaan keuangan dilakukan untuk masa depan yang lebih sejahtera. Masak kamu mau seumur hidup terlilit utang?
Perencanaan keuangan yang tepat akan menghindarkan kamu dari lingkaran setan gali lubang tutup lubang. Termasuk jeratan godaan cicilan yang katanya manis di awal, tapi nyebelin selanjutnya. Menabung bisa jadi cara kamu untuk menyisihkan uang lebih demi membeli hal-hal yang kamu butuhkan. "Biar enggak gali lubang tutup lubang, selalu beli barang saat sudah punya uang," jelas perencana keuangan yang juga dosen di FEB-UI ini.
Selain itu, Prita juga menyarankan cara budgeting sederhana bagi para buruh. "Bisa dibagi 50% untuk biaya hidup, 30% untuk dana darurat investasi serta tabungan, dan 20% untuk gaya hidup. Biasanya ini berlaku untuk lajang atau mereka yang berpenghasilan masih minim," ujarnya.
Selain menabung, menghindari label 'pekerja gaji 8 koma, gajian tanggal 1, tanggal 8 sudah koma' juga dimulai dari kesadaran diri. "Harus mau paham dan menerima dengan situasi hidup yang ada," kata Prita.
Dalam hal ini, kamu harus benar-benar bisa memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Seringnya nih, kamu terjebak bujuk rayu utang untuk belanja hal-hal yang kamu inginkan saja, bukan kamu butuhkan. Contoh gampangnya nih, kamu butuh baju, tapi karena ingin 'wah', kamu malah membeli baju branded dengan harga jauh di atas bujetmu.
Kalau sudah begitu, jebakan cicilan kartu kredit amat mungkin menjerat kamu. Hal-hal sepele seperti itulah yang membuat kamu terjebak dalam dilema pekerja 'gaji 8 koma'. "Biasanya karena pengeluaran sudah dilakukan duluan dengan cara kas bon. Jadi, saat gajian akhirnya cepat habis," kata Prita.
Bagi pekerja 'gaji 8 koma', kartu kredit seringnya jadi 'dewa penolong'. Padahal nih, di balik kemudahan gesek kartu, kamu tetap harus menanggung beban utang. Ujung-ujungnya sih, balik ke cicilan lagi. Yang sudah pasti menghabiskan gaji dalam waktu singkat. "Harusnya kepemilikan kartu kredit itu disesuaikan. Kartu kredit hanya pantas dimiliki oleh mereka yang berpenghasilan minimal Rp3,5 juta per bulan," jelasnya.
Nah, apa dengan gaji yang sekarang kamu sudah cukup eligible untuk punya kartu kredit? Jika belum, tunda dulu deh.
Nyaman di masa kini dan masa depan
Kebahagiaan kan enggak selalu diukur dengan uang dan gaji yang besar. Cicilan yang menumpuk, apalagi sampai diteror bank, pasti akan membuyarkan senyum di wajahmu. Rasanya, gaji sebesar apa pun enggak sanggup membeli kebahagiaan. Meskipun demikian, enggak dimungkiri, kamu butuh uang untuk hidup dan menikmati hidup. Ya kan?
Nah, kunci dari hidup yang enjoy ialah ciptakanlah kenyamanan. Caranya? Pahami perencanaan keuangan dengan baik, terima dengan situasi hidup yang ada, jeli membedakan kebutuhan dan keinginan, serta punya pola pikir bahwa hidup enggak hanya untuk masa sekarang.
Biarpun seorang buruh dengan gaji UMP, kamu tetap harus punya gaya untuk menabung demi masa depan yang nyaman, Ya enggak?
Prita amat menyarankan kamu untuk memiliki tabungan juga asuransi. "Setidaknya punya BPJS Kesehatan," ujarnya.
Biar lebih gaya dan enggak cuma nabung biasa, pekerja juga boleh banget kok berinvestasi. Pilihannya bisa lewat reksa dana atau tabungan emas. "Caranya, sisihkan 10% dari gaji di awal. Ini untuk investasi masa depan," jelas Prita.
Tuh kan, biar buruh, hidup nyaman, enjoy, dan gaya itu bukan cuma angan-angan. Yuk, wujudkan!(dwi)