Pengungsi Merapi Keluhkan Kekurangan Air Bersih dan Ruangan Panas
Para pengungsi di barak pengungsian Desa Glagaharjo Cangkringan, Sleman. (Foto: MP/Humas Pemkab Sleman)
MerahPutih.com - Sejumlah pengungsi Gunung Merapi di barak pengungsian Balai Desa Glagahharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman mengeluhkankan minimnya air bersih. Mereka juga mengeluh kepanasan akibat kurang pendingin ruangan.
Salah seorang pengungsi lansia Arjo Dinomo (67) mengatakan, air di barak pengungsian terkadang tidak menyala.
"Kalau malam air suka tidak nyala. Air bersih jadi terbatas. Mau buang air saya tahan pagi-pagi saja," ujar Arjo di barak pengungsian Selasa (10/11).
Baca Juga:
Arjo yang sudah menempati barak pengungsian sejak Sabtu (8/11) Sore. Ia diangkut dengan menggunakan mobil pick up bersama dengan puluhan lansia satu kampungnya.
Saat pagi dan siang tiba, air bersih sangat terbatas. Arjo menjelaskan, jumlah kamar mandi yang tidak sampai belasan sangat kurang dengan jumlah pengungsi yang mencapai ratusan. Hal ini membuat ia harus mengantre cukup lama saat hendak menggunakan kamar mandi.
Namun Arjo mengatakan, ia tidak kekurangan air minum serta makanan. Dalam sehari, seluruh pengungsi diberi makan tiga kali oleh para petugas di dapur umum.
"Saya ke kamar mandi hanya untuk mandi sehari sekali dan buang air saja. Baju tidak saya cuci," kata warga RT 1 RW 19 itu.
Kesulitan air bersih juga dirasakan oleh Ngatmi (45). Ngatmi datang ke barak bersama cucu dan anak perempuannya. Ia menempati satu bilik kayu bersama dengan cucu dan anaknya.
Untuk bisa mandi atau buang air nih harus mengantri cukup lama. Ia terpaksa tidak rutin mandi setiap hari.
Ia juga merasakan kepanasan dan kegerahan selama berada dalam barak pengungsian.
"Kalau siang sumuk (gerah). Nda ada angin masuk. Saya tidak punya kipas (angin)," kata wanita sawo matang ini dengan bahasa Jawa.
Ngatmi juga harus berbagi kasur dengan cucu dan anaknya. Pasalnya satu bilik pengungsi hanya diberi satu buah kasur saja. Hal ini membuat ia terpaksa tidur beralaskan selimut. Akibatnya Ngatmi tidak bisa tidur nyenyak.
Kedua pengungsi ini berharap pemerintah bisa menambah air bersih serta pendingin ruangan agar mereka bisa merasa nyaman.
Baca Juga:
Kementerian ESDM: Guguran Aktif Gunung Merapi Normal Terjadi
Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan bahwa pihaknya terus melengkapi sarana dan prasarana di lokasi pengungsian. Tindakan yang sudah dilakukan antaranya memasang 13 titik lampu penerangan jalan yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Sleman.
"Selain itu, untuk memberikan pelayanan kesehatan, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan telah menyiagakan puskesmas di Kapanewon Cangkringan, Kapanewon Turi, dan Kapanewon Pakem sebagai tanggap darurat Merapi," kata Sri Purnomo saat pantauan ke barak Pengungsian. (Teresa Ika/Yogyakarta)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Fanny Soegi Hadirkan “Jogja Lantai 2”, Liriknya Memotret Sisi Sunyi Yogyakarta
Sambut Long Weekend Isra Mikraj, KAI Daop 6 Kerahkan 4 KA Tambahan
Tiket KA ke Yogyakarta Paling Banyak Diburu Saat Libur Nataru 2026
Yogyakarta Jadi Tujuan Favorit Wisata Orang Jakarta
Hilang Sejak 20 Desember, Pendaki Ilegal Gunung Merapi Ditemukan Tewas dalam Jurang
Pendaki Hilang di Merapi, 1 Dievakuasi tapi 1 belum Ditemukan
Pendaki Asal Sleman Hilang di Gunung Merapi, Padahal Sudah Ada Larangan Naik
Gunung Merapi Status Siaga Level III, 7 Pendaki Ilegal Diamankan Polisi
Presiden Prabowo Minta Setiap Kerdatangannya tak lagi Disambut Anak-Anak, Kasihan Lihat Kepanasan dan Ganggu Jam Sekolah
Gunung Merapi Keluarkan 4 Kali Awan Panas Guguran, Masyarakat Diminta Waspada